Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Makin Rumit


__ADS_3

Jika kekacauan di perusahaan sudah diungkap, kemungkinan besar pemegang saham-saham kecil akan menjual sahamnya. Tugasmu adalah membeli saham mereka. Jangan khawatirkan harga, nanti aku yang membayarnya.


Reyvan masih teringat dengan pesan Adriano sebelum dia berangkat rapat. Pria itu menyuruhnya membeli saham berapa pun jumlahnya. Menurut Adriano, itu adalah jalan untuk melengserkan jabatan Maverick.


Reyvan setuju dengan rencana tersebut. Berbekal kelihaiannya dalam bercakap, hari ini dia berhasil mengumpulkan enam persen saham, dan total yang dia miliki sekarang adalah dua puluh tiga persen. Dengan jumlah yang sebanyak itu, Reyvan menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Maverick, yang berjumlah lima puluh lima persen.


"Masalah ini tidak sederhana. Jika tidak ditangani secara tepat, maka keuangan perusahaan akan hancur. Tuan Maverick, sebagai CEO Shane Senor apakah Anda yakin sanggup menangani masalah ini?" ujar Reyvan, yang sontak saja membuat suasana menjadi gaduh.


Dari pertama kali Shane Senor berdiri, Maverick berperan sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan. Tidak ada yang mempermasalahkan jabatannya karena kinerja Maverick patut diacungi jempol. Dia berhasil membuat Shane Senor terus berkembang dalam setiap tahunnya. Namun, entah ada apa dengan tahun ini. Maverick mengalami kesialan yang besar.


"Saya setuju dengan ucapan Tuan Reyvan. Masalah ini tidak sederhana. Jika keuangan Shane Senor sampai hancur, kita semua yang akan rugi," timpal Rangga—salah satu pemegang saham.


Reyvan tersenyum, puas rasanya menatap wajah Maverick yang mulai kehilangan wibawa.


"Saya berkecimpung dalam bisnis bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan bertahun-tahun. Dalam perusahaan yang besar, sandungan seperti ini lumrah terjadi. Memang ini bukan masalah sederhana, tapi juga bukan masalah besar yang tak bisa diselesaikan. Saya pasti bisa mengatasi ini dengan baik," kata Maverick beberapa saat kemudian.


"Sebagai pihak yang ikut andil saham, kami juga berhak menjaga kondisi perusahaan tetap stabil. Dan ... yang kami butuhkan adalah bukti, bukan sekedar janji. Kinerja Anda selama ini memang bagus, tapi kita tidak tahu bagaimana ke depannya." Reyvan menjeda kalimatnya sejenak. "Berapa lama waktu yang Anda janjikan untuk mengatasi masalah ini?" sambungnya.

__ADS_1


Maverick mengepal. Dia masih tak percaya Reyvan melakukan ini. Apakah lelaki itu sedang membalas dendam? Entahlah.


"Bagaimana kalau satu bulan? Saya rasa itu waktu yang paling adil. Cukup untuk Anda berusaha dan tidak terlalu lama untuk kami menunggu," sahut pemegang saham yang lain.


"Baik, satu bulan. Saya akan mengatasi masalah ini dengan baik." Maverick menjawab tegas sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Reyvan. Namun, yang ditatap malah tersenyum lebar. Entah rencana apa lagi yang ia susun dalam otaknya.


"Deal." Reyvan kembali membuka suara. "Jika dalam waktu satu bulan Anda gagal, maka ... kami akan memilih kandidat yang layak untuk menggantikan Anda," sambungnya, yang langsung disetujui oleh seluruh pemegang saham.


Mau tidak mau, Maverick pun turut setuju. Ia tak punya alasan untuk menyanggah syarat yang mereka ajukan. Para pemegang saham yang semula ada dalam pihaknya, sekarang sudah berubah haluan karena Reyvan.


Mendengar persetujuan Maverick, Reyvan makin puas. Kenyataan berjalan sesuai dengan rencana. Setelah ini, Reyvan akan membuat kekacauan yang lebih pelik agar Maverick gagal dan lengser dari jabatannya. Lalu, dia akan mengantarkan salah satu direksi yang sudah bekerja sama dengan Adriano untuk mengisi jabatan itu. Perlahan tapi pasti, Shane Senor akan jatuh dalam kendalinya, dan Maverick tidak akan punya kuasa seperti sekarang.


"Aku ingin bicara denganmu!" kata Maverick ketika Reyvan tiba di ambang pintu. Kebetulan lelaki itu mendapat giliran akhir, jadi sekarang hanya tinggal mereka berdua yang ada di sana.


"Apa maksud semua ini?" sambung Maverick. Ia tak lagi bicara formal karena Reyvan bukanlah relasi yang sesungguhnya.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin menjadi bagian dari bisnismu." Reyvan menghentikan langkahnya dan menoleh, lantas menjawab pertanyaan Maverick dengan santai.

__ADS_1


"Kekacauan ini karena ulahmu, kan?" Maverick bangkit dan mendekati Reyvan.


"Kalau kujawab tidak, apa kamu akan percaya?" Reyvan balik bertanya.


"Tidak."


Reyvan tersenyum lebar, "Jika kamu sudah punya jawaban yang meyakinkan, lantas untuk apa bertanya? Bukankah itu sangat membuang waktu?"


"Siapa yang berdiri di belakangmu?" tanya Maverick dengan tegas. Ia sangat yakin ada seseorang yang membantu Reyvan.


"Yang jelas bukan pengecut sepertimu, yang tanpa tahu malu megambil paksa kekasih orang demi menutupi kelakuannya yang menyimpang!" jawab Reyvan tak kalah tegasnya.


"Oh, kau melakukan ini karena Elle? Kau masih marah karena aku menikahinya?" Maverick terkekeh-kekeh. "Tak kusangka, ternyata kau adalah lelaki yang tidak percaya diri. Kau lebih memilih cara yang rumit untuk menjeratnya kembali, padahal itu semua bisa didapatkan dengan rayuan. Apa pesonamu sekarang sepayah itu?" sambungnya.


Reyvan tersenyum miring, "Saat ini, pesona sedang tidak ada artinya, karena hidupnya dikuasai oleh iblis berwujud manusia. Jadi, dia tidak punya kebebasan untuk mengejar kebahagiaan. Itulah mengapa iblis harus dihancurkan terlebih dahulu."


Usai berucap demikian, Reyvan langsung berbalik dan meninggalkan Maverick yang entah bagaimana reaksinya. Reyvan bergegas meninggalkan tempat itu sebelum kehilangan kendali dan melayangkan bogeman ke wajah Maverick.

__ADS_1


Sementara itu, Maverick langsung mengambil ponsel setelah Reyvan menghilang dari pandangan. Dia menghubungi seseorang untuk mengungkap siapa gerangan yang ada di belakang Reyvan.


Bersambung...


__ADS_2