
Tiga bulan sejak berbincang pada malam itu, Reyvan dan Elle mulai mempersiapkan hubungan yang lebih serius, yakni pernikahan. Cinta mereka sudah direstui oleh keluarga dari kedua pihak, dan hari pernikahan mereka sudah ditetapkan bulan depan.
Dari rencana yang sudah tersusun, pernikahan akan dilangsungkan di Jakarta. Penanggung jawab acara adalah kakak Reyvan sendiri—Kaivan Diratama Alshaki—fotografer senior di Sunny Wedding Organizer (kisah Kaivan bisa dibaca di novel Noda Season 2).
"Cincinnya sangat bagus, dan semakin cantik ketika melingkar di jarimu," puji Reyvan ketika mereka mengambil pesanan cincin pernikahan, dan Elle mencobanya.
Elle tersipu malu, pipinya sampai kemerahan karena itu. Di sampingnya, Reyvan tersenyum simpul, rasanya sudah tak sabar untuk menghitung hari hingga statusnya berubah menjadi suami. Ah, pasti luar biasa bahagianya.
Berbeda dengan Elle dan Reyvan yang berbahagia dengan rencana pernikahannya, di lain tempat Maverick sibuk dengan anak-anak asuhnya.
Sudah banyak anak-anak jalanan yang ia bawa pulang dan dirawat seperti anak sendiri. Dicukupi pendidikannya, kebutuhan sehari-hari, juga fasilitas lain yang menunjang bakat masing-masing. Dalam hal ini, Kinan-lah yang menjadi rekan utamanya. Dengan telaten wanita itu merawat anak-anak, hingga mereka betah dan merasa nyaman di rumah Maverick.
Seperti halnya sore ini, Kinan mengawasi anak-anak yang berenang bersama di kolam pribadi. Kinan duduk di tepi dengan kedua kaki masuk ke dalam air. Maverick yang kala itu baru pulang dari kantor, tertegun sejenak ketika menatap mereka.
"Pemandangan ini ... rasanya aku pernah mengalami," batin Maverick sambil tersenyum masam.
Mau tidak mau ingatannya langsung tertuju pada saat lalu, ketika dia dan Elle masih menjadi suami istri. Dirinya berenang bersama Aurora, sedangkan Elle menungguinya dari tepi, dengan posisi yang sama persis seperti Kinan saat ini.
"Sekian lama berpisah ... ternyata aku masih belum bisa melupakan dia." Maverick membatin sambil mengembuskan napas panjang.
Kemudian, ia pun berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Kinan. Meski hatinya belum tenang, tetapi Maverick melemparkan senyuman lebar ketika anak-anak menatapnya.
"Mereka tampak bahagia," ujar Kinan sambil tetap menatap ke arah kolam.
__ADS_1
"Iya. Aku ikut bahagia melihat mereka."
Detik berikutnya, Kinan bercerita panjang lebar tentang aktivitas anak-anak hari itu. Mulai dari pagi hingga sore, tidak ada sedikit pun yang luput. Maverick mendengarnya dengan saksama, sesekali juga menyahut dan ikut tertawa.
Sejak mereka bersama-sama mengasuh anak, memang tidak ada kecanggungan lagi dalam hubungan. Keduanya tidak terlihat seperti atasan dan bawahan, malah seperti pasangan. Atas perintah Maverick, Kinan tak lagi menyematkan sebutan 'tuan', melainkan 'mas'. Sedangkan anak-anak memanggil mereka dengan sebutan 'mommy' dan 'daddy'.
Setelah cukup lama mereka mengobrol ringan, akhirnya sampailah pada perbincangan yang serius.
"Kinan, kau tampak senang menemaniku mengurus mereka. Tidak pernah kah kau berpikir memiliki kehidupan yang lain untuk dirimu sendiri? Menikah misalnya?" tanya Maverick.
Kinan menoleh dan menatap Maverick, "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Tidak, aku hanya takut salah memahami keadaan."
Maverick menarik napas panjang, "Sejak bekerja di sini, kau tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki. Dan kemarin, saat aku akan mendonorkan jantung untuk Reyvan, kau bersikeras melarang, sampai banyak kalimat bijak yang kau lontarkan. Selain itu, aku juga menangkap sesuatu yang lain dari tatapanmu. Aku hanya takut ... kau menyimpan rasa yang berbeda dan aku tidak menyadarinya."
Maverick terpaksa meluruskan sedikit hal yang mengganjal di benaknya. Sikap Kinan seolah menunjukkan bahwa wanita itu menyimpan rasa untuknya, jadi Maverick akan meluruskan agar bisa mengambil sikap yang benar. Mencintai dan tidak bisa memiliki itu sakit, Maverick tak ingin orang lain merasakan juga. Terlebih itu adalah Kinan, orang yang cukup berjasa dalam hidupnya.
Cukup lama Kinan terdiam, tidak menjawab dengan kata atau sekadar mengangguk-menggeleng. Maverick pun ikut diam, paham jika Kinan butuh waktu untuk merangkai jawaban.
"Tampan, mapan, sifat juga baik, siapa yang tidak jatuh cinta? Apalagi sama-sama memiliki kekurangan yang jarang diterima oleh orang normal, kurasa semua orang yang ada di posisiku tidak akan melewatkan itu?" Kinan menjeda kalimatnya sesaat. "Tapi ... Nyonya Devara adalah majikan terbaikku. Sebesar-besarnya cinta yang kupendam untukmu, lebih besar rasa hormatku padanya. Mungkin ... aku bahagia jika bisa bersamamu. Tapi, aku lebih bahagia jika kau bisa menjaga cinta untuk Nyonya Devara, seperti yang dulu kau janjikan padanya," sambungnya.
Maverick tersentak. Ia merasa tertampar dengan jawaban Kinan barusan. Sebuah kalimat yang membuatnya teringat kembali dengan masa-masa pernikahannya bersama Devara. Banyak janji yang ia ucapkan pada wanita itu, salah satunya tetap setia sampai tutup usia.
__ADS_1
Namun nyatanya, baru beberapa tahun Devara pergi, dirinya sudah menikah lagi dan parahnya juga jatuh cinta lagi. Janji hanya tinggal janji, menguar begitu saja tanpa bisa ditepati.
Sekejam itu ternyata dirinya.
"Jika boleh jujur, aku pernah kesal saat kau menikah dengan Nyonya Elle. Aku kasihan dengan Nyonya Devara, apalagi saat kau berencana mendonorkan jantung untuk Tuan Reyvan hanya demi kebahagiaan Nyonya Elle. Aku tidak rela, makanya ... sampai banyak hal yang kukatakan waktu itu. Maaf, " sambung Kinan karena Maverick masih diam.
"Elle ... aku tidak tahu kenapa begitu mudahnya jatuh cinta padanya," ucap Maverick beberapa saat kemudian.
Terselip sesal dalam ucapannya, tetapi mau bagaimana lagi. Dirinya hanya manusia biasa, bukan hal aneh jika memiliki hati yang mudah berubah ketika keadaan sudah berbeda. Sekuat apa pun keinginannya untuk mempertahankan nama Devara, nyatanya Elle-lah yang tetap bertakhta.
"Jangan terlalu dipikirkan apa yang kukatakan barusan. Kita ini hanya manusia, bisa berencana tapi tetap Tuhan yang menentukan. Begitupun dengan perasaan, kita tidak bisa mengendalikan hati ke mana akan mencintai," ujar Kinan sambil menoleh sesaat.
Maverick mengangguk pelan, "Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa yang kau harapkan dariku?"
"Tidak ada." Kinan menggeleng. "Biarkan saja mengikuti arus waktu, mau bagaimana nanti, terserah," lanjutnya.
"Aku tidak mengerti."
"Aku tidak mengharap apalagi memaksa kamu untuk belajar mencintaiku atau menikahiku. Biarkan saja berjalan apa adanya. Jika nanti kau bisa mencintaiku, aku bahagia karena bisa bersamamu. Tapi, jika sebaliknya, aku juga tetap bahagia, karena kau tidak lagi mengkhianati Nyonya Devara. Aku akan bahagia untuk dia. Lagi pula ... tidak saling mencintai pun kita masih bisa bersama-sama mencari kebahagiaan lain, mereka," ucap Kinan sambil menunjuk ke arah anak-anak yang masih asyik berenang.
Beberapa detik berselang, Maverick mengulum senyum. Mengikuti arus waktu, ya Kinan benar. Biarkan semua berjalan apa adanya. Ke mana hati akan berlabuh lagi, apa kata nanti. Yang harus ia lakukan sekarang hanyalah bangkit dan menata masa depan yang lebih baik, untuk dia dan juga anak-anak asuhnya. Tidak boleh terpuruk lagi, masa lalu tak akan kembali dan dia harus mengikhlaskan semua yang berkaitan dengan itu.
Bersambung...
__ADS_1