
"Tahu kenapa aku memanggilmu kemari?" tanya Reyvan tanpa basa-basi.
Zara menggeleng, "Tidak, Tuan."
"Jangan sok polos! Kamu cerdas, pasti paham kalau atasan itu tidak suka dibohongi apalagi dikhianati. Jadi, akui saja kesalahanmu serta beri alasan kenapa melakukan itu," kata Reyvan.
Zara mengernyit. Lalu memberanikan diri menatap Reyvan karena tak paham dengan apa yang dia katakan.
"Jangan coba-coba berbelit atau ... tidak ada lagi maaf untuk kamu!" Reyvan membalas tatapan Zara dengan lebih tajam.
Zara gugup dan langsung menunduk, "Saya memang tidak mengerti dengan maksud Anda, Tuan. Saya tidak tahu kebohongan apa yang sudah saya lakukan. Selama ini, saya selalu jujur dalam bekerja. Saya___"
"Kau kenal Maverick Shane?" pungkas Reyvan dengan cepat.
Zara mendongak seketika. Satu nama yang Reyvan sebutkan berhasil mengejutkannya, bahkan bola matanya sampai membelalak. Maverick adalah sosok yang sangat dia kenal. Di antara mereka terselip rahasia yang tak seharusnya diketahui oleh orang lain, apalagi Reyvan—seseorang yang punya hubungan buruk dengan Maverick.
Reyvan berdiri sambil tersenyum miring, "Matamu sudah bicara jelas, bahwa kamu sangat mengenalnya."
"Saya ... saya memang mengenalnya, Tuan. Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya." Zara menjawab gugup.
"Kamu dibayar berapa? Apa nominalnya sangat jauh dengan gaji di kantor ini?" tanya Reyvan dengan nada sinis.
Zara ikut berdiri dan menatap Reyvan dengan mata yang berkaca-kaca. Sejak pertama kali menjadi karyawan di Arkatama Group, dia merasa nyaman dan enggan pindah ke tempat lain. Zara akan berusaha bertahan, terlebih lagi kesalahan yang dituduhkan tak pernah ia lakukan.
"Saya tidak pernah mengkhianati Anda, Tuan. Saya mengenal Maverick Shane bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi___" Zara kesulitan meneruskan kalimatnya.
Reyvan memicing, "Tapi apa?"
Zara menunduk sambil mencengkeram rok span yang dia kenakan. Dia dalam posisi yang sulit. Dia tidak ingin mengumbar aib di hadapan Reyvan, tetapi itulah satu-satunya cara untuk menyangkal tuduhan.
"Kamu pionnya, kan? Kenapa, Zara, kenapa?" bentak Reyvan. "Kamu adalah salah satu karyawan yang aku percaya. Kamu menduduki posisi tinggi dan mendapat gaji yang besar. Kenapa masih melakukan ini? Berapa uang yang dia janjikan?"
Zara menggigit bibir. Sebisa mungkin dia menahan air mata yang sudah menggenang dan mendesak keluar. Bukan hanya perlakuan Reyvan yang membuatnya sesak, melainkan juga ingatan tentang perlakuan Maverick beberapa waktu lalu.
"Jelaskan atau aku akan memecatmu dengan tidak hormat! Kamu tahu konsekuensinya pengkhianat itu seperti apa?" Reyvan kembali bicara karena Zara masih diam.
"Saya bukan pengkhianat, Tuan. Tolong jangan pecat saya," pinta Zara dengan air mata yang mulai menetes.
Dia bukan orang kaya yang punya segalanya, harus memeras keringat untuk bertahan hidup. Jika Reyvan memecatnya, entah akan seperti apa hidupnya nanti. Belum tentu ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, mengingat sekarang sangat sulit mencari lowongan.
"Aku butuh penjelasan, bukan air mata! Cepat katakan atau kesempatan benar-benar hilang!" kata Reyvan masih dengan intonasi tinggi.
"Hubungan saya dan Maverick Shane adalah hubungan pribadi, tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ini. Saya ... pernah mencintainya, tapi dia tidak pernah membalas. Baginya, saya hanya sebatas adik," terang Zara dengan kepala yang makin menunduk. Sungguh, dia sangat malu mengakui hal itu.
__ADS_1
Reyvan menautkan kedua alisnya karena jawaban Zara benar-benar di luar dugaan.
"Dia pernah menjadi pengisi materi di kampus, sewaktu saya masih kuliah. Sejak saat itu saya mengenalnya dan lama-lama mencintainya. Hubungan kami cukup akrab meski dia tidak membalas perasaan saya. Tapi, kami tidak pernah membahas bisnis Anda. Apalagi menjadikan saya sebagai pion untuk menghancurkan Anda, sama sekali tidak pernah, Tuan." Zara kembali meyakinkan Reyvan.
Reyvan masih diam dan sekadar mencerna kalimat-kalimat yang Zara lontarkan. Dia mencari raut kebohongan, yang mungkin saja terselip di antara ekspresi polos yang ditampilkan Zara.
"Tapi ... semenjak dia memutuskan untuk menikahi Nona Elle, saya menjaga jarak. Saya tidak mengejar lagi meski perasaan ini masih ada," ucap Zara. Suaranya sangat pelan dan tertahan.
Reyvan menilik wajah Zara. Lantas menyuruhnya duduk karena tak menemukan gurat kebohongan. Dengan posisi yang masih berhadapan, Reyvan menyandarkan punggung sambil melipat tangan di dada. Tatapannya belum beralih dari wajah Zara.
"Wajahmu terhitung cantik dan usiamu juga masih muda. Kalau tidak salah, separuh dari usia Meverick. Kenapa kamu bisa mencintai dia dan ... kenapa dia menolakmu?" tanya Reyvan.
"Saya pernah ada pengalaman buruk dengan lelaki muda, jadi ... ketika bertemu dengan pria dewasa yang baik dan bijak, saya jatuh cinta. Sedangkan alasan kenapa dia menolak saya ... katanya masih mencintai mantan istrinya—Nona Devara." Zara menjeda kalimatnya seraya menyeka sisa air mata.
"Dari foto yang pernah saya lihat, Nona Devara bermata biru dan rambutnya cokelat terang. Dia adalah perempuan Spanyol. Sekilas, wajahnya mirip dengan Nona Elle," sambung Zara.
Mendengar penuturan Zara, Reyvan tersentak seketika. Sejauh ini dia tidak pernah tahu seperti apa wajah mantan istri Maverick. Sejak dia menetap di Ibu Kota, pria itu sudah menjadi duda. Tidak ada media yang memuat gambar mantan istrinya dan juga anaknya. Semua pemberitaan hanya tentang dirinya.
Jauh berbeda dengan sekarang, yang dengan terang-terangan menunjukkan keberadaan Elle pada media. Sepertinya, ada sesuatu yang tak beres dengan pernikahan pertama Maverick.
"Kamu tahu kenapa mereka cerai?" selidik Reyvan.
"Perbedaan, hanya itu penjelasan Om Erick waktu saya bertanya tentang perceraiannya." Zara menjawab sambil tersenyum getir.
"Berapa lama mereka menikah?" Reyvan kembali bertanya.
Reyvan mengernyit, "Jadi, Devara hamil di luar nikah?"
Zara menggeleng, "Tidak. Bayi mereka lahir prematur, Tuan."
"Kamu percaya?" Reyvan tersenyum remeh.
"Tentu saja. Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa anak Om Erick tidak sehat sempurna, dan itu akibat dari lahir prematur. Saya percaya karena dia memang sering bolak-balik ke rumah sakit," jawab Zara dengan sungguh-sungguh.
"Kamu tahu anak itu sakit apa?"
"Bukan sakit serius, hanya daya tahan tubuhnya yang lemah. Dia sering flu, batuk, dan juga demam ketika cuaca sedang buruk."
"Ada lagi yang kamu tahu tentang dia?" Reyvan belum puas dan terus menyelidikinya.
"Tidak ada, Tuan, hanya itu." Zara menggeleng sambil menatap Reyvan.
"Menurutmu ... apa dia mencintai Elle?"
__ADS_1
Zara berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Reyvan.
"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi, seandainya cinta ... mungkin itu ada kaitannya dengan wajah Nona Elle yang mirip dengan Nona Devara."
Reyvan mengangguk sambil tersenyum miring. Dia punya kesimpulan lain yang jauh berbeda dengan Zara. Kesimpulan itu akan ia jadikan senjata untuk mengambil Elle.
"Aku sudah ada celah untuk melawanmu, Pria Tua! Lihat saja ... aku akan mengambil Elle dari sisimu," batin Reyvan.
"Ada hal lain lagi, Tuan?" Suara Zara membuyarkan lamunan Reyvan.
"Tidak. Pergilah!" Reyvan mengibaskan tangan kirinya.
Usai mendapat izin, Zara bangkit dan keluar ruangan, meninggalkan Reyvan yang masih menyusun banyak rencana untuk melawan Maverick Shane.
Setengah jam kemudian, berganti Izal yang menemui Reyvan. Lelaki itu membungkuk hormat ketika tiba di hadapan Reyvan.
"Anda memanggil saya, Tuan?"
"Iya." Reyvan mengangguk. "Tolong aturkan jadwalku untuk menemui Maverick Shane, secepatnya," sambungnya.
Izal terkejut, "Untuk apa ... Tuan?"
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya," jawab Reyvan.
"Apa ini tentang ... Nona Elle?" tanya Izal dengan ragu.
Reyvan hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Tuan Maverick adalah orang hebat. Tidak bisakah Anda___"
"Kamu tidak usah khawatir, aku sudah menemukan celah untuk melawannya," pungkas Reyvan yang lantas membuat Izal makin terkejut.
"Apakah Anda sudah menemukan pionnya?"
Reyvan menggeleng.
"Lalu?" Izal menatap Reyvan dengan lekat.
"Zara. Meski bukan pion, tapi dia tahu banyak tentang Maverick."
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu saya akan membuatkan jadwal untuk Anda." Izal tersenyum lebar.
"Kalau bisa secepatnya," sahut Reyvan dengan cepat.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Izal mengangguk patuh, kemudian bangkit dan keluar dari ruangan Reyvan.
Bersambung...