
Tatapan Reyvan terpaku pada satu sosok yang sedang berjalan ke arahnya. Didampingi Marissa dan Alroy—yang saat ini kakinya sudah sembuh, Elle melangkah anggun dan memancarkan pesona yang meluluh lantakkan pertahanan Reyvan.
Dalam balutan gaun dan riasan khas pengantin, Elle tampak sangat cantik. Bahkan, menurut Reyvan kecantikannya melebihi waktu lalu—ketika menikah dengan Maverick. Entah itu nyata atau karena perasaan yang turut serta.
"Dijaga matanya, masih belum sah," bisik Kaivan tepat di dekat telinga Reyvan, membuat lelaki itu mendengkus kesal karena harus mengalihkan pandangan, padahal pesona Elle terlalu sayang untuk dilewatkan.
Beruntungnya, ia dan Elle menuju satu tempat yang sama—depan penghulu. Masih dengan tatapan yang sama-sama terpesona, keduanya duduk di sana.
Detak jantung keduanya tidak ada yang normal, masing-masing berdegup kencang. Antara bahagia, terharu, gugup, dan juga takut. Bahagia dan terharu karena akan menikah dengan seseorang yang benar-benar dicintai. Namun, terselip juga rasa takut bahwa semua tidak akan berjalan lancar. Ah, semoga saja tidak.
"Sangat cantik," puji Reyvan dengan pelan, sengaja mencairkan suasana dengan sanjungan manis.
"Kalau tidak cantik, tidak akan serasi duduk di samping kamu," jawab Elle. Sederhana, tetapi mampu menjungkirbalikkan perasaan Reyvan. Karena dari kalimat itu, terselip sebuah makna bahwa Elle menyebut dirinya tampan.
Namun, ketika mereka masih tersenyum dan tertipu malu, penghulu sudah menanyakan kesiapan keduanya. Mau tidak mau, Elle dan Reyvan kembali fokus dengan ijab yang akan mereka jalani.
Kirana dengan sigap menutupkan kerudung putih di atas kepala Reyvan dan Elle. Kemudian, penghulu mulai mengucap basmallah, lantas menjabat tangan Reyvan dan bersuara lantang.
"Saya nikahkan engkau Reyvan Altan Arkatama Bin Darren Alfando dengan Elleane Zee Binti Andress Benedict Zee dengan mahar lima ratus gram emas dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Elleane Zee Binti Andress Benedict Zee dengan mahar lima ratus gram emas dibayar tunai."
__ADS_1
Suara Reyvan pun tak kalah lantang, menggema memenuhi ruangan, menegaskan bahwa mulai detik itu Elle adalah istrinya, hanya miliknya seorang.
Sesaat setelah Reyvan mengikrarkan janji sucinya, para keluarga dan saudara yang menjadi bersaksi berteriak 'sah' secara serempak. Penghulu pun mengucap hamdalah karena akad berjalan lancar. Reyvan dan Elle telah sah menjadi suami istri, baik secara agama maupun pemerintah.
"Istriku," bisik Reyvan ketika Elle menyalami dan mencium punggung tangannya.
Kemudian, Elle mendongak, memamerkan senyum manis di bibir ranumnya. Lantas, Reyvan pun menunduk dan mencium kening Elle cukup lama. Bahkan, matanya sampai memejam, seakan menggambarkan betapa bahagianya dia saat itu.
Melihat keintiman Reyvan dan Elle, Marissa dan Kirana sempat menitikkan air mata. Marissa merasa terharu karena ada juga hari bahagia untuk anaknya, setelah sekian lama terus menderita karena perbuatan Adriano.
Sementara Kirana, dia juga terharu karena sekarang semua anaknya sudah menikah. Setelah sekian waktu Reyvan hanya memikirkan pekerjaan, hari ini telah melepas masa lajang. Sungguh anugerah yang tidak terkira.
____________
Usai menghabiskan waktu sehari penuh untuk ijab dan berkumpul bersama keluarga, malam ini Reyvan dan Elle mulai bersiap-siap untuk pesta yang akan diselenggarakan beberapa menit lagi.
"Kamu sangat cantik, rasanya aku ingin menahanmu di sini, tak usah keluar merayakan pesta," ujar Reyvan sambil merengkuh pinggang Elle, sangat erat.
Elle tersipu malu, tetapi tak menunduk atau sekadar mengalihkan tatapan. Ia tetap memandangi wajah tampan Reyvan, yang kala itu mengenakan jas abu-abu, senada dengan gaun yang ia kenakan.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Elle menggerakkan tangannya hingga menyentuh rahang Reyvan. Masih dengan bibir yang sekadar mengulum senyum, jemari Elle mulai turun dan diam sebentar di dada Reyvan—tempat bersandar terbaik yang selalu ia rindukan.
__ADS_1
"Maafkan aku, pernah berpaling hingga hubungan kita terpisah dalam beberapa waktu. Aku tidak pandai menjaga cinta kita," bisik Elle disertai tatapan yang sangat lekat.
Meski dalam pernikahannya dengan Maverick tidak ada kata 'tidur bersama', tetapi lelaki itu pernah menggenggam tangannya dan juga mencium bibirnya. Sebuah hal yang berindikasi pada keintiman.
Reyvan tersenyum, "Bukan kamu yang tidak pandai menjaga cinta, tapi aku yang tidak pandai menjaga kamu. Sampai tak tahu ada posisi sulit yang sedang mengimpitmu. Tapi ... dengan perpisahan itu, kita makin tahu betapa berharganya cinta kita dan betapa sakitnya kehilangan. Dari sini kita bisa belajar banyak, tidak akan mudah menggaungkan perpisahan di kemudian hari. Andaikata ada perselisihan, kita bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin, bukan mengedepankan emosi dan ego yang akan berakhir pada kata putus."
Elle terkesima dengan jawaban Reyvan, sangat menenangkan. Elle makin sadar jika dirinya jatuh sangat jauh dalam cinta Reyvan.
"Sudah, jangan pikirkan masa lalu yang kelam. Kita punya masa depan yang sangat indah." Usai berkata demikian, Reyvan mendekatkan wajahnya dan meraih tengkuk Elle.
Dalam sekejap, keduanya saling berimpitan. Napas berbaur bebas, hangatnya menyapu wajah yang sudah memerah karena menahan detak jantung yang melebihi batas wajar.
Sampai akhirnya, mata mereka memejam demi menikmati rasa manis yang hadir dari bibir masing-masing. Keduanya terbuai dalam ciuman mesra, hingga detik dan menit berlalu cukup jauh.
Sementara itu, di luar sana para tamu undangan sudah banyak yang hadir. Sebagian dari mereka mengagumi dekorasi yang luar biasa mewah dan indah, sedangkan sebagian lagi mengagumi wajah Reyvan dan Elle yang tergambar dalam sebuah pigura. Cantik dan tampan, sangat serasi.
"Eh, itu kan Tuan Shane. Dia juga datang? Ini kan hari pernikahan mantan istrinya?" ucap salah seorang dari mereka, ketika melihat kehadiran Maverick.
Lelaki rupawan di usianya yang tidak lagi muda, berjalan dengan penuh wibawa. Tidak ada senyuman yang ia sunggingkan, malah tatapan mata terkesan tajam dan mengintimidasi.
Bersambung...
__ADS_1