
Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, tetapi Reyvan dan Elle masih belum keluar dari kamar. Setelah melewati malam panjang, mereka butuh sedikit waktu untuk menambah jam tidur, meskipun tidak ada drama sulit berjalan atau sejenisnya.
"Papa dan Bunda jadi pulang hari ini?" tanya Elle sambil memaki lipstik, sementara Reyvan berdiri di belakangnya sambil memegang hair dryer—mengeringkan rambut Elle yang baru saja dicuci.
"Iya, tapi malam. Mereka ambil penerbangan yang terakhir."
Elle menatap lurus ke cermin, hingga pandangannya bertumpu pada sepasang mata Reyvan.
"Aslinya aku masih ingin berlama-lama dengan Bunda dan Athreya. Tidak bisakah mereka pulang nanti-nanti saja?"
Reyvan tersenyum, kemudian meletakkan hair dryer kembali ke tempatnya, karena kebetulan rambut Elle sudah kering. Lantas, ia peluk tubuh sang istri yang menguarkan wangi sabun.
"Next time bisa kita agendakan kumpul bersama dengan mereka, Sayang. Untuk sekarang, mereka ya ... memang akan pulang. Bukan tidak mau lama-lama berkumpul dengan kita, tapi ... mengertilah kalau kita baru menikah. Butuh banyak waktu untuk dihabiskan berdua," bisik Reyvan disertai tatapan nakal.
Elle tersipu malu. Dari dulu sampai sekarang, Reyvan selalu bisa meluluhlantakkan perasaannya. Maka tak heran jika hatinya tak bisa berpaling barang sekejap, sekalipun pada Maverick yang notabenenya pernah menjadi suami.
"Ya sudah, kalau begitu ayo turun! Mumpung mereka masih ada di sini, kita jangan lama-lama di kamar," ucap Elle sambil menghindari kecupan Reyvan, yang nyaris mendarat di lehernya. Karena jika dibiarkan, maka yang semalam akan terulang lagi, dan entah akan berapa lama mereka mendekam di kamar. Padahal, ini pun aslinya sudah terlambat.
"Kalaupun seharian mendekam di kamar, mereka pasti mengerti, Sayang." Reyvan masih gencar menggoda Elle, sang istri yang amat dicintainya. Sosok wanita yang membuat harinya kembali ceria.
"Aku tidak mau." Elle beranjak dan siap keluar kamar.
Reyvan hanya menatapnya sambil tertawa. Kesenangan sendiri baginya saat melihat pipi sang istri bersemu merah.
Lantas, ia pun turut keluar dan menyusul sang istri yang sudah berjalan lebih dulu. Ia bergabung dengan keluarganya yang saat itu berkumpul di ruang tengah. Ayah dan ibunya memang tidak bicara macam-macam, tetapi kakaknya yang gencar menggoda.
__ADS_1
"Lembur sampai pagi gini, rugi kalau nggak jadi, kecuali ... asetmu di bawah rata-rata," bisik Kaivan sambil terkekeh-kekeh.
Belum sempat Reyvan membalas ucapan Kaivan, lelaki itu sudah bangkit dan menjauh darinya. Mau tidak mau, Reyvan hanya menyimpan sendiri kekesalannya. Sekadar mendengkus dan melayangkan tatapan tajam pada kakaknya. Namun tentunya, hanya ditanggapi dengan tawa.
Sementara itu, Elle tampak bercanda bersama Nadhea dan Athreya. Meski mereka hanya saudara ipar, tetapi keakrabannya melebihi saudara kandung. Darren dan Kirana pun sangat bahagia melihat anak dan menantunya serukun itu. Ada perasaan lega dalam diri mereka karena kini ketiga anaknya sudah membina rumah tangga.
Di lain tempat, tepatnya di pemakaman, suasana sangat berbeda. Jika di rumah Reyvan ramai dan penuh dengan canda tawa, di sana sunyi dan diwarnai kesedihan.
Maverick dan Kinan, kala itu keduanya duduk di samping makam yang bertuliskan Devara Valencia.
"Sayang!" panggil Maverick dengan lembut, seraya meletakkan seikat bunga tulip merah di atas batu nisan.
Bunga yang konon katanya melambangkan ketulusan dan cinta sejati, bunga yang pada masanya menjadi impian Devara.
"Maafkan aku," sambung Maverick dengan pelan.
"Maafkan kelalaianku kemarin, Sayang. Aku mengingkari janji yang kuucap sendiri. Kataku, tidak akan ada cinta lain, selain kamu. Tapi, aku menodainya dengan menghadirkan Elle. Dia yang awalnya kunikahi untuk Aurora, ternyata menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Sepanjang hidupku, baru sekarang aku bersyukur atas kekuranganku. Berkat itu ... aku bisa melepaskan Elle. Andai aku tidak punya kekurangan, entahlah. Mungkin aku akan mempertahankan dia dan mengkhianati cinta kita sampai aku mati," batin Maverick.
Sesaat kemudian, embusan angin yang tenang membelai wajahnya, lalu membuatnya membuka mata dan kembali menatap tempat peristirahatan Devara. Senyum penuh sendu pun kembali terkulum, seiring jemari yang begitu erat menggenggam batu nisan.
"Aku sudah banyak melukaimu, Sayang, maafkan aku. Ke depannya, aku janji akan memperbaiki semuanya. Tidak akan ada pernikahan atau cinta lagi dengan yang lain. Dan Elle pun ... aku akan berusaha keras melupakannya. Aku akan mengembalikan nama kamu di hatiku, seperti sebelumnya. Ah, satu lagi yang ingin kusampaikan, Sayang. Ayah yang tidak mengakui keberadaanmu, sekarang sudah menelan karma atas perbuatannya. Mungkin saat ini dia bisa merenungi kesalahannya padamu," sambung Maverick masih dalam batin.
Di samping Maverick, Kinan juga begitu lekat menatap batu nisan milik mantan majikannya.
"Maafkan saya Nyonya, pernah lancang mencintai Tuan. Tapi, saya tidak akan merebutnya dari Anda. Saya lebih bahagia melihat Tuan menjaga cintanya untuk Anda," batinnya dengan tulus.
__ADS_1
Setelah cukup lama mengunjungi makam Devara, keduanya perlahan bangkit dan akan meninggalkan tempat itu.
Dengan satu senyuman, Maverick mulai berjalan menjauhi dua rumah terakhir orang yang sangat dicintai—Devara dan Aurora. Lantas, ia berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan.
"Aku di sini bahagia, kalian di sana juga harus bahagia," batin Maverick sambil menoleh dan menatap dua ikat bunga yang masih setia di atas nisan.
Setelah menarik satu napas panjang, Maverick kembali berbalik dan meneruskan langkahnya.
"Aku akan langsung melihat lokasi pembangunan. Kau mau ikut atau pulang lebih dulu?" tanya Maverick ketika ia dan Kinan sudah tiba di dekat mobil.
"Ikut saja. Aku juga ingin tahu bagaimana lokasi panti asuhannya nanti."
"Kau yakin akan terus menjaga mereka? Tidak ingin hidup bebas dan mencari kebahagiaanmu sendiri? Karena seperti yang kukatakan semalam ... kita tidak akan pernah bersama," ucap Maverick sambil menatap Kinan.
"Aku yakin." Kinan mengangguk. "Aku tidak masalah meski kita tak akan bersama, malah aku lebih bahagia karena itu artinya kau kembali setia dengan Nyonya Devara. Beliau adalah wanita paling sempurna akhlaknya yang pernah aku kenal, jadi sudah seharusnya mendapat cinta yang sempurna pula," lanjutnya.
Kemudian, Kinan mengembuskan napas panjang. Lantas, kembali menyambung ucapannya.
"Mengenai kebahagiaanku, jujur aku masih pesimis. Dengan keadaan yang seperti ini, aku tidak yakin ada yang mau. Kalaupun ada, aku tak yakin kami akan bahagia. Sebaliknya anak-anak, aku jelas bahagia bersama mereka. Dan aku bisa belajar menjadi sosok yang juga membuat mereka bahagia. Aku akan membiarkan semua berjalan apa adanya. Jika takdirku memang berjodoh, aku akan sangat bahagia. Tapi, jika tidak, seenggaknya aku masih punya anak-anak. Aku bisa bahagia bersama mereka dan juga bisa menitipkan masa tuaku pada mereka. Jadi, aku tetap pilihanku. Mengasuh anak-anak dan mengurus panti yang akan kau bangun."
"Baiklah. Aku sangat menghargai keputusanmu, kupastikan masa tuamu nanti tidak akan menderita. Dan selain itu ... aku juga akan mencari teman untuk membantumu mengurus panti," ujar Maverick.
"Iya." Kinan tersenyum. Meski tanpa kisah asmara, tetapi kini dia memiliki tujuan istimewa dalam hidupnya.
Di hadapannya, Maverick juga ikut tersenyum. Walau dia sudah kehilangan orang-orang yang paling dicintai, tetapi setidaknya sekarang tahu, di mana dia akan berguna untuk orang-orang sekitar.
__ADS_1
TAMAT