
Maverick tertegun lama, sedikit kesulitan mencerna ucapan Kinan barusan. Hidup tanpa rahim, lelaki memilih mundur, apa maksudnya? Apakah serumit itu kehidupan Kinan selama ini?
"Apa aku masih lebih beruntung darinya?" gumam Maverick sambil menatap pintu yang sudah kosong, bayangan tubuh Kinan sudah jauh berlalu dari sana.
"Sudahlah, bukan urusanku juga seperti apa hidupnya." Maverick kembali berucap, kali ini sambil beranjak dan menuju kamar mandi.
Usai dari sana, Maverick meneguk secangkir kopi yang sudah menghangat. Lantas, merilekskan tubuh dengan berbaring, hingga kemudian terbuai dalam mimpi yang lebih indah dari kehidupan nyata.
Namun setelah malam tiba, pikiran Maverick kembali terusik, padahal tadi sudah sempat tenang. Bukan Elle atau perceraian dengannya yang mengusik, melainkan omongan Kinan yang sampai saat ini belum ia pahami.
"Aku gagal mendonorkan jantung untuk Reyvan berkat omongan dia. Sepertinya ... aku harus menanyakan langsung maksud ucapannya tadi. Mana tahu, ada pengaruh positifnya lagi untuk aku." Maverick mengembuskan napas kasar, lantas keluar kamar dan hendak menemui Kinan.
Tak berselang lama, Maverick sampai di depan kamar Kinan. Dia ketuk perlahan dan langsung mendapat sahutan dari dalam.
"Tuan Maverick," sapa Kinan setelah pintu terbuka lebar. Keningnya sedikit mengernyit, tak biasanya Maverick datang ke kamarnya di jam malam.
__ADS_1
"Ke ruang baca! Aku ingin bicara!" Tanpa menunggu jawaban Kinan, Maverick membalikkan badan begitu saja, pergi dan tidak mau tahu dengan kebingungan Kinan.
Mau tidak mau, Kinan pun mengikuti langkah Maverick, dan dari situ dia mulai menebak ke mana arah pembahasan yang dimaksud tuannya—seputaran kalimat yang ia lontarkan tadi siang.
Masih dengan rambut yang sedikit kusut karana hanya disisir dengan jari, juga tubuh yang dibalut piyama batik panjang, Kinan masuk ke ruang baca dan duduk di hadapan Maverick. Entah mengapa jantungnya berdetak cepat saat beradu pandang dengan manik hitam itu. Padahal, selama ini dia sudah mempersiapkan diri, bilamana Maverick kurang terima dengan segala bentuk nasihatnya.
"Apa maksud ucapanmu tadi?"
Benar saja, hal itulah yang yang akan dibicarakan Maverick.
"Jujur, aku belum bisa tegar melewati semua ini. Kehilangan Aurora, kehilangan Elle, sangat berat, dan ... aku nyaris hilang arah karena itu. Aku ingin tahu maksudmu hidup tanpa rahim itu bagaimana? Kalau saja kamu juga mengalami hal kelam sepertiku, mungkin aku bisa belajar ketegaran darimu," sambung Maverick yang lantas membuat Kinan salah tingkah.
"Kau keberatan membaginya denganku?"
Kinan menggeleng cepat, "Tidak, Tuan. Saya hanya terkejut Anda menanyakan hal itu."
__ADS_1
Dalam satu kali helaan napas, Kinan memulai ceritanya. Sebuah perjalanan hidup yang pahit, kelam, sakit, dan entah apa lagi namanya. Di masa kanak-kanak, Kinan sudah hidup di jalanan. Sejak orang tuanya meninggal dan rumah diambil alih oleh pamannya, Kinan jadi gelandangan dan mati-matian berjuang demi sesuap nasi.
Dulu, cukup banyak anak yang senasib seperti dirinya. Satu yang paling berkesan adalah Novan—lelaki yang sedikit lebih dewasa darinya dan selalu melindunginya setiap saat.
Hampir tiga tahun Kinan hidup seperti itu. Sampai pada suatu hari dia mengalami kecelakaan. Tubuh mungilnya tertabrak mobil hingga terpental keluar dari pembatas jalan. Ketika sadar, dirinya sudah berada di rumah sakit dan mendapat perawatan intensif. Menurut keterangan dokter, dua minggu dia mengalami koma. Selain itu, benturan keras membuat rahimnya rusak dan ke depannya tidak akan bisa punya anak.
Musibah dan juga anugerah. Berkat kecelakaan itu, Kinan dipertemukan dengan pasangan mandul. Kinan pun dirawat dan diadopsi oleh mereka. Kendati begitu, ia masih sering mencari tahu kabar kawan-kawannya di jalanan. Namun sayang, mereka sudah tak tentu rimbanya.
Ketika menginjak usia remaja, Kinan mulai belajar kerja. Mulai dari part time sampai full time. Dan belum genap setahun dia bisa mencari uang, orang tua angkatnya meninggal. Entah kenapa Tuhan sangat sering mengambil orang-orang di sekitarnya. Tak sampai di situ saja, keponakan orang tua angkatnya datang dan merebut rumah yang saat itu ditinggali Kinan. Untuk kedua kalinya ia terusir keluar. Hal baiknya, saat itu dia sudah mencari uang. Jadi tidak perlu mengamen di jalanan.
Usai melewati lika-liku itu, Kinan kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit. Setiap kali menjalin hubungan dengan lelaki, selalu berakhir kandas karena dirinya tak punya rahim. Tak ada satu pun yang menerima keadaannya, termasuk Novan, yang kala itu dia temui sebagai karyawan toko. Kinan sangat sakit ketika seseorang yang dianggap istimewa sejak kecil, juga menghina kekurangannya. Bahkan, malah menjalin hubungan asmara dengan teman kerja Kinan. Sungguh tega!
"Kau serius mengalami itu semua?" tanya Maverick ketika Kinan sudah selesai bercerita.
Kinan tersenyum tipis, "Tidak ada gunanya saya bohong, Tuan. Dan lagi ... jika saya ada tempat berpulang, untuk apa lembur setiap lebaran? Bertahun-tahun saya bekerja di sini, tapi tidak sekali pun meminta cuti. Menjaga Nona Aurora setiap waktu hanyalah alasan saya, sebenarnya memang tidak ada tempat untuk pulang. Saya tidak tahu masa depan apa yang bisa saya raih, selain mengabdi di sini dan membantu anak-anak jalanan di luar sana, seperti yang sudah saya lakukan selama ini."
__ADS_1
"Kinan___" Maverick menghela napas panjang seraya menatap Kinan dengan lekat.
Bersambung...