Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Nasib Malang Reyvan


__ADS_3

Mata Reyvan membelalak saat melihat keadaan Maverick. Lelaki itu tersungkur tak berdaya, sedangkan Adriano siap menembaknya. Reyvan merasa buntu dan tak bisa lagi memikirkan hal lain, selain menyelamatkan Maverick, apa pun caranya.


"Anaknya butuh dia, dan Elle pula mencintainya. Aku tidak bisa membiarkan dia mengalami semua itu, apa lagi kedatangannya ke sini juga untuk menyelamatkan aku," batin Reyvan sembari berlari ke arah Adriano.


"Lepaskan dia!" teriak Reyvan sambil menendang kaki Adriano. Namun, dengan sigap pria itu menghindar dan memberikan serangan yang serupa.


Karena terlalu cepat gerakan Adriano, Reyvan pun tak bisa menghindar. Ia terhuyung-huyung di depan tubuh Adriano. Alhasil, dirinyalah yang menerima sasaran peluru, dan itu tepat di dadanya.


"Ahh!" erang Reyvan ketika rasa panas dan sakit sudah menikamnya. Dalam hitungan detik dia kehilangan kesadaran dan tersungkur di lantai.


"Rey!" Maverick berteriak histeris. Kejadian itu terlalu cepat dan membuatnya syok. Kedatangannya ke tempat itu untuk menyelamatkan Reyvan dan juga mengambil kembali hak Elle. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan.


"Kau juga harus menyusulnya!" ucap Adriano tanpa rasa bersalah. Ia kembali mengarahkan senjatanya, tanpa memedulikan tubuh Reyvan yang tergeletak lemah dan bersimbah darah.


Dengan pikiran yang kalut, Maverick berusaha menghindar meski hanya berguling. Beberapa peluru sudah melesat dan nyaris mengenainya. Makin lama, Maverick makin tersudut, sedangkan Adriano makin brutal dalam menyerangnya.


"Jangan bergerak!"


Teriakan tegas dari ambang pintu berhasil menahan gerakan Adriano, yang saat itu masih gencar menyerang Maverick.

__ADS_1


"Buang senjata dan angkat tangan!"


Rahang Adriano mengeras. Demi apa dia harus membuang senjatanya dan melupakan segala rencana yang sudah tersusun matang. Oh, mungkin juga tidak hanya melupakan rencana, tetapi juga mempertanggung jawabkan tindak kejahatan. Ya, beberapa pria yang datang dan memergoki aksinya adalah anggota kepolisian.


"Tuan Beltrand, silakan ikut kami dan jelaskan semua ini di kantor polisi!" ucap salah seorang polisi sambil memasang borgol di tangan Adriano. Sedangkan, polisi yang lain melakukan hal yang sama pada para pengawal dan juga Amalia. Seorang lagi memberikan pertolongan untuk Reyvan.


"Mas! Ini bagaimana, Mas? Aku tidak mau dipenjara, Mas, kita tidak salah!" teriak Amalia sembari menangis. Tubuhnya sudah lemas dan gemetaran, sangat takut jika nanti benar-benar terkurung di balik jeruji.


"Tenangkan hatimu, Sayang! Kita hanya dimintai penjelasan." Adriano menjawab sambil melayangkan tatapan penuh arti, menyiratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Kedudukanku sangat tinggi, semua ini pasti bisa kuatasi. Maverick, Elle, kalian akan menerima balasan yang berkali-kali lipat," batin Adriano sambil mengikuti langkah polisi.


Akan tetapi, rasa percaya diri Adriano perlahan hilang setelah mereka tiba di halaman rumah. Di sana sudah berdiri sosok lelaki yang sangat ia kenal, Alroy.


"Apa kabar, Paman?" sapa Alroy. Terdengar pelan, tetapi penuh penekanan. Tatapan pula tajam dan menyiratkan kemurkaan.


"Kau___"


"Aku kagum dengan bisnis sampingan Paman. Berkembang pesat, ya?" pungkas Alroy.

__ADS_1


Adrino mulai merasa waswas. Dia paham bisnis sampingan yang disinggung Alroy adalah bisnisnya di dunia gelap. Entah akan jadi apa dirinya jika semua itu berhasil diungkap.


"Sial, apa yang telah dilakukan oleh anak ini?" batin Adriano dengan tangan yang mengepal.


Sementara itu, Maverick dan Jerry sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka menemani Reyvan yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Keduanya diam dalam hening, larut dalam penyesalan masing-masing.


Jerry menyesal karena tidak bisa membimbing kakaknya pada jalan yang benar, juga menyesal karena telah mempertemukan Reyvan dengan Adriano. Sedangkan Maverick, menyesal karena Reyvan seperti itu demi menolongnya.


"Andai aku lebih lincah dalam menghadapinya, Rey tidak akan mengalami semua ini. Aku memang bodoh," batin Maverick, untuk kesekian kalinya merutuki diri sendiri.


Pada saat Maverick masih sibuk menahan sesak, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Elle yang menelepon.


"Bagaimana caraku menjelaskan ini padanya?" gumam Maverick sembari mengusap tombol hijau.


"Mas, bagaimana urusan di sana?" tanya Elle tanpa basa-basi.


Lidah Maverick mendadak kelu dan tidak bisa mengucap sepatah kata pun. Sampai akhirnya, Elle lah yang kembali bicara.


"Tolong tinggalkan dulu, Mas! Pulanglah, Aurora___"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2