Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Hampir Mati


__ADS_3

Waktu itu Reyvan tertembak dan peluru mengenai jantungnya. Sekarang dia sangat kritis. Peluang untuk hidup hanya sedikit, itu pun jika mendapat donoran. Jika tidak ... kemungkinan besar dia tidak akan selamat.


Sebuah kabar buruk yang barusan disampaikan oleh Alroy, sangat mengguncang jiwa Elle. Bahkan, dia sampai melupakan segala hal yang ada. Pikirannya kosong dan hanya terpaku pada kondisi Reyvan, yang mungkin saja akan berakhir buruk.


"Nyonya! Nyonya! Anda baik-baik saja, Nyonya?" Pelayan datang dan bergegas menghampiri Elle. Lalu, membimbingnya bangkit dan duduk di sofa. "Minum dulu, Nyonya," sambungnya sembari menyodorkan segelas air.


Akan tetapi, Elle sama sekali tak menghiraukannya. Bibirnya tetap mengatup rapat dan pandangan pula tetap kosong. Pelayan sampai panik karenanya.


Ketika pelayan masih terus berusaha menyadarkan Elle, Maverick datang dengan langkah cepat. Lantas, menghampiri sang istri yang tidak baik-baik saja.


"Setelah menerima telepon dari Tuan Alroy, Nyonya langsung seperti ini, Tuan," lapor pelayan dengan penuh sesal. Andai tahu akan seperti itu, mungkin dirinya tak akan membiarkan sang nyonya menerima telepon tersebut.


Mendengar ucapan pelayannya, Maverick mengangguk pelan sembari membuang napas kasar. Dia bosa menebak apa yang disampaikan Alroy, pastilah sesuatu yang berhubungan dengan Reyvan.


"Bereskan ini, aku akan membawanya ke kamar!" perintah Maverick. Kemudian, menggendong tubuh Elle dan membawanya pergi.


Selagi pelayan masih membersihkan pecahan cangkir, Maverick berjalan cepat menuju kamar. Tidak membutuhkan waktu lama, ia sudah tiba di kamar Elle. Lalu, membaringkan tubuh sang istri ke atas ranjang, dengan kepala yang bersandar di tumpukan bantal. Kemudian, diraihnya sebotol air yang tersedia di meja sana, lantas membantu Elle untuk meneguknya.

__ADS_1


"Elle, kau baik-baik saja, kan?"


Maverick berani bertanya setelah melihat air mata menetes membasah di pipi Elle. Jika sudah menangis berarti pikirannya tidak kosong lagi, begitulah pikir Maverick. Namun, pertanyaan yang ia layangkan barusan tak mendapat respon apa pun. Elle tetap bergeming dan membiarkannya penasaran seorang diri.


"Baiklah. Tenangkan saja diri kamu, aku akan mengobati lukamu," sambung Maverick sambil beranjak.


Tak lama berselang, tangan kekar itu sudah membawa salep untuk luka bakar. Dengan lembut ia mengoleskannya di kaki Elle, sampai bekas kemerahan yang ada di sana berangsur hilang.


"Aku ingin menyusul Kak Al."


"Aku ingin melihat Reyvan dan memastikan bahwa ucapan Kak Al itu bohong. Reyvan sudah banyak janji padaku, tidak mungkin dia ingkar begitu saja!" teriak Elle di sela-sela tangisnya.


Maverick memejam sembari merengkuh tubuh Elle. Satu per satu kata yang sudah ia rangkai, terurai dan hilang entah ke mana. Yang tersisa hanya rasa sakit karena keadaan Elle yang begitu kalut, demi seorang Reyvan.


"Aku memang tidak ada tempat di hatinya. Semua hanya untuk Reyvan," batin Maverick.


Dibiarkannya Elle menangis meraung-raung. Maverick cukup mendekap dan mengusapnya dengan penuh kasih. Tak ia hiraukan luka yang menganga di hatinya sendiri, ketenangan Elle adalah prioritasnya saat ini.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu selama hampir satu jam, Elle terlelap dalam pelukan Maverick. Lantas kecupan hangat mendarat di keningnya cukup lama, disusul dengan senyum mengembang di bibir Maverick. Bibir yang merampas ciuman pertamanya.


"Kau harus bahagia, Elle," bisik Maverick sembari mengusap sisa-sisa air mata yang menodai pipi mulus sang istri.


Kendati sebentuk tubuh itu sudah terbuai dalam mimpi, Maverick tak jua melepaskannya. Ia menikmati posisi itu lebih lama lagi karena tak tahu ke depannya bisa terulang atau tidak. Ujung pernikahan mereka, hanyalah perpisahan yang paling memberikan janji.


Dengan posisi yang tak berubah sedikit pun, Maverick merogoh ponselnya dan menghubungi Alroy. Ternyata tak membutuhkan waktu lama, telepon sudah ditanggapi olehnya.


"Sepertinya memang ada hal buruk, buktinya Alroy langsung menjawab teleponku. padahal, saat ini di sana masih dini hari," batin Maverick selagi Alroy masih mengucapkan duka cita atas kematian Aurora.


"Berkat bantuan Tuan Jerry kemarin, kami di sini berhasil menjebloskan Om Adriano ke penjara. Bisnis-bisnis ilegalnya terungkap, juga tindakan-tindakan kriminal yang pernah ia lakukan. Tapi ... keadaan Reyvan sangat buruk. Peluru kemarin menembus jantungnya, dan dia tidak akan selamat jika dalam waktu dekat tidak mendapatkan donoran," terang Alroy ketika Maverick bertanya masalah tempo hari.


"Donor jantung?"


Maverick bergumam pelan. Lantas, pikirannya mulai menjamah ke segala arah yang pada akhirnya bertumpu pada satu tujuan, yakni Elle.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2