
Sinar matahari masih menghangat, menyelimuti setiap jengkal alam raya. Angin pun masih berembus, memberikan ketenangan dalam setiap terpaan.
Tatanan kehidupan memang tidak ada yang berubah, hanya jiwa Maverick saja yang terguncang dan seakan ikut mati. Kepergian Aurora, menyisakan kepedihan yang tidak terkira. Bahkan, rasa sakitnya jauh lebih dalam dari kehilangan Devara.
Sosok mungil yang nyaris tak pernah bahagia karena berjuang melawan penyakitnya, selalu terbayang dalam ingatan Maverick. Senyumnya, suaranya, juga tingkah lakunya yang lucu. Tubuh kurus yang terbalut paras manis, rasanya masih hidup dalam hati Maverick.
"Aurora," batin Maverick sambil mencengkeram gundukan tanah basah yang bertaburan kelopak mawar.
Seiring angin yang berembus membelai wajahnya, satu tetes air mata kembali jatuh membasahi wajahnya yang kusam. Setegar apa pun dia sebagai pria, nyatanya tidak bisa menahan tangis ketika putri kecilnya meninggalkan dunia.
"Mas, kita sudah lama di sini. Ayo pulang! Kamu juga harus memikirkan kesehatan." Elle menepuk pelan bahu Maverick, mencoba memberi kekuatan untuk suaminya.
"Pulanglah!" jawab Maverick dengan sangat pelan.
Elle menarik napas panjang, lantas memejam agar air mata tidak berjatuhan, karena sudah terlalu banyak yang ia keluarkan. Dia tidak ingin ikut larut dalam kepedihan, ada Maverick sangat membutuhkan dirinya sebagai teman berbagi. Sesakit apa pun yang Elle rasa, sebisa mungkin ia bertahan dalam tegarnya.
"Aku akan pulang, tapi bersama kamu," ucap Elle beberapa saat kemudian.
Entah sudah berapa jam mereka ada di sana, menunggui gundukan tanah tempat peristirahatan Aurora. Satu per satu orang yang ikut hadir dalam acara pemakaman, sudah pulang ke rumah masing-masing. Bahkan, Marissa pun sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Elle tahu membujuk Maverick sangat sulit, jadi terpaksa menyuruh ibunya untuk pulang terlebih dahulu.
Tak lama setelah Maverick menolak ajakan Elle, alam seakan ikut berkabung. Cahaya matahari yang tadi menghangat, kini tertutup awan-awan hitam yang merata di seluruh bentangan angkasa. Gerimis pun turun setetes demi setetes, membasahi kelopak-kelopak mawar yang masih segar.
"Mas, sebentar lagi hujan. Ayo pulang!" ajak Elle, entah sudah yang keberapa kalinya.
__ADS_1
Maverick tidak menjawab, sekadar mendongak dan menatap gerimis yang makin deras. Akhirnya, ia pun bangkit dan mengiakan ajakan Elle.
Wanita bermata biru itu tersenyum lega. Meskipun kesedihan dalam diri Maverick belum hilang, tetapi setidaknya dia sudah berkenan meninggalkan pemakaman.
"Yang sabar ya, Mas. Kamu harus kuat menghadapi semua ini, ada aku yang akan selalu menemani kamu," ucap Elle ketika mereka sudah tiba di dalam mobil.
Mendengar ucapan Elle yang sangat ambigu, Maverick menoleh dan menatapnya dengan lekat. Sampai-sampai Elle salah tingkah dibuatnya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku menikahimu hanya untuk Aurora," sahut Maverick sembari mengalihkan pandangan. Hatinya sudah hancur karena kehilangan putri kesayangan, ia tak mau lagi berharap pada sesuatu yang tak pasti. Elle mencintai Reyvan, itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan.
Sementara itu, Elle langsung mengatupkan bibir. Dia sadar ucapannya antara salah dan benar. Dari kesepakatan awal, Maverick akan menceraikannya ketika Aurora tak butuh dirinya lagi. Namun, entahlah. Melihat Maverick yang serapuh sekarang, terselip rasa iba yang cukup dalam. Sebuah rasa yang membuatnya berat hati untuk meninggalkan lelaki itu.
___________
Malam sudah lama menyapa. Tak ada lagi bising suara, sekadar bisik-bisik angin yang terdengar samar di antara keheningan.
"Ahh!" desah Maverick ketika kepalanya makin sakit dan pening. Namun, dia tak mau berhenti meneguk minuman itu. Dia ingin melupakan segala hal pahit dalam hidupnya, walaupun tahu bahwa itu hanya sekejap, tetapi yang jelas dia butuh sedikit waktu untuk tenang.
Tak jauh dari tempat Maverick, Elle berdiri dengan tatapan nanar. Tak tega rasanya melihat Maverick mabuk hingga tengah malam.
"Mas!" Elle mendekati Maverick dan menggenggam tangannya. "Kamu jangan begini terus. Tidurlah, ini sudah larut!" sambungnya.
Tidak ada jawaban dari mulut Maverick, sekadar ******* berat yang menguarkan aroma pekat.
__ADS_1
Elle mengembuskan napas panjang. Seharian ini Maverick memang mengabaikannya, setelah berbincang tadi siang sama sekali tak ada percakapan lagi di antara mereka. Elle pikir karena suaminya itu sedang kalut. Namun, ada alasan lain yang luput dari pengetahuan Elle, yakni perasaan. Maverick sengaja menghindari Elle agar nanti kuat hati untuk menceraikannya.
"Pergilah! Aku ingin sendiri," ucap Maverick sembari menepis tangan Elle.
"Tidak, Mas. Keadaanmu tidak baik-baik saja, aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri," jawab Elle dengan tegas. Tanpa basa-basi pula dia langsung duduk di sebelah Maverick.
"Pergi, Elle! Jangan keras kepala!" Kali ini Maverick sedikit membentak.
"Sekali tidak tetap tidak, Mas. Bagaimanapun juga kamu adalah suamiku, tidak akan kubiarkan kamu kenapa-napa sendirian."
Pertahanan Maverick luluh lantak ketika mendengar jawaban Elle. Lantas, dia letakkan botol minuman yang tadi masih digenggam. Kemudian, menghadap ke arah Elle dengan tatapan lekatnya. Tak lupa pula ia genggam kedua lengan mulus itu dengan sedikit kuat.
"Aku sengaja menghindar, tapi kenapa kau tidak paham?"
Elle mengernyitkan kening, tak paham dengan maksud Maverick.
"Kau tidak mengerti juga, Elle?" sambung Maverick.
Elle menggeleng lemah. Tatapan Maverick yang tidak seperti biasa membuatnya gugup dan salah tingkah.
"Karena aku mencintaimu, tapi yang kau cintai adalah Reyvan. Aku mencintaimu, tapi keadaan memaksaku untuk menceraikan kamu," ucap Maverick dengan sungguh-sungguh.
Elle tersentak seketika. Pengakuan Maverick sangat mengejutkan, tak pernah ia sangka sebelumnya.
__ADS_1
Ketika Elle masih terpaku dalam keterkejutannya, Maverick mendekatkan wajahnya dan mengikis habis jarak yang sempat ada. Dalam sekejap, bibir manis Elle sudah berada dalam lumatannya.
Bersambung...