
Sudah lewat tengah hari, Elle baru terjaga dari tidurnya. Ia memindai ke sekeliling sembari memijit kepala yang pening.
"Reyvan," gumamnya ketika teringat dengan kabar buruk yang disampaikan oleh Alroy, beberapa jam yang lalu.
Dalam keadaan yang tidak sepanik tadi, Elle mulai bisa berpikir jernih. Ia berencana terbang ke Barcelona dan melihat keadaan Reyvan secara langsung. Karena bagaimanapun juga, Reyvan seperti sekarang karena membantu keluarganya.
"Aku akan bicara dengan Maverick," batin Elle sembari beranjak dari ranjang.
Tanpa mengikat atau menyisir rapi rambut cokelatnya, Elle bergegas keluar kamar. Didatanginya ruangan sebelah, di mana Maverick biasa tidur di sana. Berulang kali Elle mengetuknya, tetapi tidak ada sahutan dari dalam.
"Tuan Maverick tidak ada di sana."
Elle menoleh ketika mendengar ucapan itu, yang ternyata dari Kinan. Elle mengulas lengkung senyum, tetapi tidak mendapat balasan yang serupa. Kinan hanya menatapnya cukup lama sembari menyiratkan hal lain yang sulit dipahami.
"Tuan ada di ruang baca sejak tadi pagi," sambung Kinan dengan sedikit ketus.
Elle mengernyit. Tak biasanya Kinan bersikap seperti itu, ada apa gerangan?
Tanpa bertanya-tanya lagi, Elle melangkah meninggalkan Kinan. Tujuannya adalah ruang baca. Ia ingin menemui Maverick guna membahas keadaan Reyvan, yang ia yakini Maverick sangat tahu akan itu. Namun, belum jauh Elle melangkah, Kinan sudah bicara lagi.
"Tuan Maverick akan mendonorkan jantungnya untuk Tuan Reyvan, agar Anda bisa hidup bahagia bersamanya. Nyonya Elle, saya tahu Anda tidak mencintai Tuan Maverick. Tapi, apa Anda yakin beliau juga merasakan hal yang sama? Walaupun Tuan Maverick tidak berharga bagi Anda, tapi tidak begitu bagi orang lain. Tolong bersikap bijak, Nyonya! Ini menyangkut nyawa!"
Elle mengehentikan langkah dan menoleh seketika.
"Maaf jika saya lancang, saya hanya berharap Anda bisa menghentikan niat Tuan. Walaupun hidup bersama Tuan Reyvan adalah impian Anda, tapi tidak seharusnya mengorbankan nyawa Tuan Maverick. Saya sudah lama bekerja pada beliau, sejak dulu hidupnya banyak ujian. Rasanya tidak adil jika akhir usianya dikorbankan untuk orang lain."
Elle masih bergeming, berusaha mencerna apa yang diutarakan Kinan. Sampai tak sadar jika wanita itu sudah pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Aku harus bicara dengannya," gumam Elle ketika tersadar dari keterkejutannya.
Lantas, ia melangkah cepat menuju ruang baca, yang ternyata pintunya tidak dikunci.
Pertama kali membuka ruangan itu, Elle menangkap sosok Maverick sedang duduk di dekat jendela. Pandangannya lurus ke depan dan terlihat kosong, layaknya seseorang yang larut dalam lamunan.
Elle menarik napas panjang sebelum mendekat ke sana. Ia sadar perbincangannya nanti akan menguak banyak hal, yang mungkin akan melukai hati sebelah pihak atau juga masing-masing.
"Mas!" panggil Elle setelah berdiri tepat di samping Maverick. Ia tak hanya memanggil, tetapi juga menepuk pelan bahu kekar itu.
Maverick menoleh dan mengulas senyum masam, "Kau sudah bangun?"
Mata Elle memanas. Lelaki berumur yang menjadi suami, yang setiap hari selalu memperlakukannya dengan baik, tak disangka menyimpan pemikiran yang dalam. Rela mati demi kebahagiaannya, ahh ... sungguh sulit diterima.
"Kenapa?" tanya Maverick dengan kening mengernyit. Dalam wajah Elle tersirat gurat kesedihan, tetapi mata biru menatap dirinya dengan lekat, seakan ada perasaan takut kehilangan yang begitu kuat.
Lagi-lagi Maverick tersenyum masam, begitu banyak kecamuk yang mengacaukan hati dan pikirannya kini.
"Maaf ... jika sikapku tadi berlebihan dan membuatmu tersinggung. Aku hanya kaget dan ... butuh sedikit waktu untuk menerima itu. Tapi ... aku sama sekali tidak berniat untuk menyuruh kamu melakukan itu, Mas. Aku memang berharap Reyvan sembuh, tapi tidak dengan kehilangan kamu." Elle kembali bicara, dibarengi dengan genggaman erat di jemari Maverick.
Maverick melepaskan genggaman Elle dengan pelan, lantas balik menggenggam sambil beringsut mendekat.
"Sebenarnya kau tahu, kan, kalau aku mencintaimu?"
Elle gelagapan. Meski sejak tadi sudah menduga akan hal itu, namun tetap saja membuatnya mati kutu.
"Sebut saja aku pengecut yang tidak berani mengutarakan perasaan dalam keadaan sadar. Tapi, itu semua karena aku sadar bahwa cintamu bukan untukku. Dan ... terbukti, kau lebih memilih menutupi. Tidak apa-apa, aku paham. Mungkin tidak mudah bagimu untuk menolak secara langsung."
__ADS_1
Mendengar ucapan Maverick, Elle tersentak, "Jadi semalam___"
"Iya, aku pura-pura mabuk. Sebenarnya aku sangat sadar dengan apa yang kulakukan. Entah itu mengatakan cinta atau mencium bibirmu." Maverick mengembuskan napas kasar. "Bagiku, cinta tidak harus memiliki. Membuatmu bahagia, itulah prioritas utama. Dengan menjadi istriku, kau belum tentu bahagia. Selain tidak ada cinta, aku juga tidak seperti lelaki pada umumnya. Jadi untuk apa kita bersama? Bukankah lebih baik aku melepasmu untuk Reyvan?" sambungnya.
Elle makin kesulitan menelan ludah. Terbaca sudah perasaan yang ada di antara keduanya, Maverick yang memendam cinta, sedangkan dirinya masih mencintai orang lain. Elle tak bisa menyanggah karena keadaan sudah mengatakan kebenarannya.
"Aku ingin kau bahagia, Elle," bisik Maverick.
"Kalau begitu buang jauh niat konyolmu, Mas! Ya, aku akui memang hatiku untuk Reyvan. Tapi, bukan berarti aku rela kamu mati demi dia. Aku juga ingin kamu bahagia, Mas!" sahut Elle setelah hatinya sedikit tenang.
"Kau akan berubah pikiran jika tahu kebenarannya. Reyvan mendapatkan luka itu karena menyelamatkan aku. Andai dia tidak pedulikan aku, saat ini akan tetap sehat dan tidak perlu berjuang dengan maut. Elle, aku akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu padanya."
Elle terkejut sejenak. Namun, tak sampai menggoyahkan hatinya untuk menyetujui niat Maverick.
"Lalu bagaimana denganku, Mas? Kamu dan Reyvan melakukan ini untukku. Bayangkan jika kamu meninggal hanya karena itu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri selamanya." Elle menyahut cepat.
"Jika aku diam, Reyvan yang tidak selamat, Elle. Tidak mudah mencari pendonor jantung."
"Apa dengan kamu menjadi pendonor, Reyvan pasti akan selamat? Tidak seratus persen transplantasi jantung berhasil, Mas. Jika gagal, kamu dan dia___"
"Resiko gagal cukup kecil," pungkas Maverick.
"Dan kalaupun berhasil, aku tetap tidak bahagia. Sudah kukatakan sejak tadi, aku tidak mau kehilangan kamu. Jadi kalau kamu memaksa melakukan itu, mungkin ... sepanjang sisa umurku hanya dipenuhi penyesalan. Karena aku ... menjadi alasan kematianmu. Kejam sekali aku, Mas." Elle menatap lekat. Berharap Maverick mau mengerti dengan maksudnya.
Namun, lelaki itu sekadar bergeming. Tidak menyahut dan tidak pula mengangguk atau menggeleng. Datar-datar saja, sehingga Elle tak bisa menebak isi hatinya. Tetap pada niat awal atau memilih batal.
Bersambung...
__ADS_1