
Di atas kursi rotan, di tengah taman yang menghadap langsung ke kolam renang, dua insan duduk bersama sembari menikmati dekapan angin malam.
Mereka adalah Elle dan Reyvan, dua sosok yang masing-masing menyimpan cinta dalam hati, tetapi belum mengungkapkan secara lisan. Keadaan yang pernah memisahkan, sekarang seakan membentang jarak di antara mereka. Sampai akhirnya, kecanggungan yang lebih mendominasi, meski sebenarnya rasa rindu yang lebih banyak mengambil peran.
Menit demi menit berlalu begitu saja, menyisakan embusan napas dan kepulan asap dari batang rokok yang tinggal setengah.
"Rey!" panggil Elle sambil menatap lekat wajah lelaki yang sampai saat ini masih menempati seluruh ruang dalam hati.
Reyvan menoleh, menilik setiap inci wajah Elle. Dari sepasang mata biru, bibir ranum, serta pipi mulus yang sedikit tertutup rambut cokelat terang. Dari dulu sampai sekarang parasnya tetap sempurna. Bahkan menurut Reyvan, Elle-lah wanita tercantik yang pernah ia temui.
"Elle." Reyvan mengembuskan napas berat sambil menjentikkan abu rokok. "Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi aku tidak tahu harus dimulai dari mana," sambungnya.
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan?" Elle balik bertanya. Tatapannya terlihat menuntut, mengharap pengakuan dan kejujuran.
Reyvan mengembuskan napas panjang, "Banyak."
"Tentang?"
"Kamu ... kita," jawab Reyvan sembari membuang sisa batang rokok ke dalam asbak.
__ADS_1
Beberapa detik setelahnya, Elle memberanikan diri untuk menggenggam lengan Reyvan.
"Katakan saja apa yang ingin kanu katakan. Di sini, aku akan setia mendengarkan dan memberikan tanggapan. Perlu kamu tahu, Rey, aku yang sekarang masih tetap aku yang dulu," ucapnya.
Elle sengaja mengarah pada perasaan yang pernah ada. Dia amat sangat mencintai Reyvan, tak sabar rasanya menyulam kisah lama yang sempat terkoyak. Namun, entah apa yang ada di pikiran Reyvan sekarang, seakan ada banyak beban yang mengganjal dalam dirinya.
Desa-han berat keluar dari bibir Reyvan, lalu ada jeda beberapa detik sebelum ia membuka suara.
"Aku tak beda jauh dengan kamu, Elle. Cinta dan rindu tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu. Meski sudah terbakar cemburu, tapi rasa itu masih tetap utuh. Tapi ... aku sadar, kita sudah dewasa. Bukan waktunya untuk pacaran lagi, tapi melangkah pada hubungan yang lebih serius. Untuk itu, aku ingin meluruskan semuanya sebelum kita melangkah ke sana. Aku tidak ingin ada sandungan masa lalu dalam hidup kita nantinya." Reyvan menjeda sejenak kalimatnya, sedangkan Elle tetap diam dan mencerna kalimat demi kalimat yang Reyvan lontarkan.
"Kemarin aku sudah mulai meluruskan. Aku menemui Maverick dan ... aku tahu apa yang terjadi dengannya. Mulai dari kekurangannya, sampai perasaannya ke kamu," sambung Reyvan.
Reyvan menggeleng-geleng, "Rumit. Di satu sisi aku sangat ingin kembali denganmu, tapi di sisi lain aku merasa seperti seorang pecundang. Bersaing dengan seseorang yang tidak punya kemampuan di bidangnya."
"Kamu salah, Rey. Dalam kebersamaan bukan hanya hal 'itu' yang menjadi alasan utama, tapi juga cinta. Dan cintalah yang menjadi alasanku untuk berpisah dengan Maverick. Aku tidak punya rasa itu untuk dia," sahut Elle.
Reyvan terdiam, sekadar menatap lekat wajah Elle.
"Dari awal, hubungan ini kita yang punya, bukan Maverick. Jika sekarang dia mencintaiku ... antara kasihan dan tidak, tapi aku akan bersikap egois. Aku tidak bisa bertahan dengan hubungan yang aku sendiri tidak menginginkannya. Aku memang tidak ingin Maverick bersedih, tapi aku juga tidak mau mengorbankan kebahagiaanku demi kebahagiaannya. Seperti aku yang tidak mau dia berkorban demi kebahagiaanku. Aku ingin kami semua bahagia dengan jalan yang berbeda, tanpa berkorban satu sama lain," sambung Elle karena Reyvan masih diam.
__ADS_1
Perlahan Reyvan mengulum senyum. Dari ucapan Elle, dia tahu jika wanita itu tidak keinginan sedikit pun untuk mempertahankan pernikahannya, yang artinya juga tidak ada cinta untuk Maverick.
Sekarang Reyvan yakin dengan pilihannya, melamar dan menikahi Elle.
Elle benar, dia bukan pecundang, karena dari awal hubungan itu milik mereka. Sementara Maverick, orang ketiga yang datang dengan tiba-tiba. Jika sekarang berakhir sedih, mungkin itu sudah konsekuensi karena dia menggunakan rasa dalam hubungan yang berdasarkan paksaan.
Kejam? Mungkin. Namun, jika mereka berdua yang mengalah, rela berpisah demi menghargai perasaan Maverick, bukankah berganti Maverick yang menyandang predikat kejam? Yah, dalam sebuah cinta yang melibatkan tiga hati, pasti ada satu pihak yang tersakiti.
Akan tetapi, kembali lagi pada hakikat cinta itu sendiri. Cinta memang bebas memilih kepada siapa ia berlabuh, namun ia hanya bisa dibina jika cinta itu disambut dengan rasa yang sama. Jika memaksa pada mereka yang tidak memilikinya, maka hanya luka dan derita yang didapat. Lantas, cinta akan melenceng dari makna sejatinya.
"Elle, sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku. Aku mencintaimu, aku ingin kembali denganmu dan menjalin hubungan yang lebih serius lagi," ucap Reyvan sembari menggenggam kedua tangan Elle.
"Aku juga mencintaimu, Rey. Sekarang aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi. Apa pun yang terjadi denganku nanti, aku akan selalu cerita ke kamu. Seberat apa masalah yang ada, kita hadapi bersama-sama," jawab Elle.
Lantas, mereka pun saling memeluk. Menumpahkan rindu yang sekian waktu hanya tersimpan dalam hati.
Reyvan, Elle, bukan malaikat yang berhati mulia. Mereka hanya manusia biasa yang punya na*su dan keinginan. Ketika cinta itu masih ada dan berada di titik yang sama, tidak akan mudah untuk melepas lagi demi orang lain. Justru akan digenggam dan diperjuangkan demi masa depan mereka sendiri.
Bersambung...
__ADS_1