Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Pingsan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan panjang, yang hampir memakan waktu selama 20 jam, akhirnya Reyvan tiba di Barcelona. Dia dijemput langsung oleh tangan kanan Adriano.


Sewaktu di dalam mobil, Reyvan dan lelaki itu tak banyak bicara, sekadar basa-basi sepintas saja. Lelaki itu fokus dengan kemudi, sedangkan Reyvan sibuk dengan ponsel yang baru saja diaktifkan.


"Tidak tahu ini langkah benar atau salah, tapi ... aku percaya padanya," batin Reyvan seusai membaca pesan dari seseorang. Kemudian, ia menulis pesan balasan yang cukup singkat, tetapi banyak makna yang tersirat.


"Cinta ... ah, aku sampai tidak tahu apa artinya cinta," batin Reyvan sembari menyimpan kembali ponselnya.


Setelah cukup lama melaju di jalanan, mobil yang membawa Reyvan tiba di kediaman Adriano. Kala itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 sore waktu setempat. Reyvan dipersilakan masuk dan disambut hangat oleh Adriano. Perlakuannya sama persis seperti pertama kali mereka bertemu.


"Silakan duduk, Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang, Tuan Rey."


"Terima kasih." Reyvan mengangguk sambil tersenyum lebar. Lantas, mendaratkan tubuhnya di kursi, di hadapan Adriano.


"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" Adriano berbasa-basi.


"Sangat baik, Tuan. Dan ... rencana kita juga berjalan lancar," jawab Reyvan masih dengan senyumannya.


Adriano tertawa renyah, "Saya tahu Anda adalah orang yang bisa diandalkan."

__ADS_1


Reyvan turut tertawa, tetapi terdengar sumbang karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Orang yang tampak bijak dan profesional, ternyata adalah pemain curang yang ulung. Reyvan masih tak habis pikir jika pria seperti Adriano rela memfitnah saudara hanya demi harta, bahkan kini juga rela merencanakan hal kejam pada keponakan.


"Sejak kecil aku hidup di tengah keluarga yang harmonis, bahkan ... Kak Kai yang dulu punya kekurangan saja, juga diperlakukan dengan baik oleh Papa dan Bunda. Sekarang aku dihadapkan pada kenyataan seperti ini, rasanya sulit dipercaya," ucap Reyvan dalam batinnya. (Kisah Kai ada dalam novel Noda)


Tak lama setelah Reyvan duduk di sana, Amalia datang sambil membawakan minuman dingin.


"Silakan, Tuan!" ujar Amalia. Kemudian, ia ikut duduk di sebelah suaminya.


"Minumlah dulu, Tuan Rey, sambil menunggu pelayan kami menyiapkan makan siang. Setelah itu mandi dan beristirahatlah. Nanti malam, baru kita bahas rencana selanjutnya." Adriano mempersilakan Reyvan sambil meraih minumannya sendiri.


Sambil mengulas senyum tipis, Reyvan juga meraih gelas minuman dan meneguk isinya hingga habis setengah. Lantas, ia kembali berbincang ringan dengan Adriano.


Akan tetapi, makin lama suara Adriano makin jauh tak terdengar. Sosoknya pula ikut mengabur dan menjadi ganda. Reyvan mengerjap berulang kali, namun pandangannya tetap sama, malah kini kepala ikut pening dan seakan-akan berputar.


"Tuan Rey, Anda baik-baik saja?" tanya Adriano dengan sedikit panik.


"Saya ... pusing," jawab Reyvan sangat pelan. Tubuhnya nyaris tak ada tenaga, bahkan untuk berbicara saja rasanya sulit.


"Tuan! Tuan! Tuan!"

__ADS_1


Reyvan mendengar dengan samar teriakan Adriano dan Amalia yang saling bersahutan. Namun, dia tak bisa lagi menyahut. Tubuhnya lemas dan tidak bisa digerakkan. Sampai akhirnya, pandangan yang mengabur berubah gelap dan Reyvan tak tahu lagi apa yang terjadi.


Sementara itu, di tempat yang berbeda Elle sedang duduk di kursi kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Pandangannya tak lepas dari layar ponsel di genggaman, berharap ada kabar dari seseorang yang jauh di sana. Rasanya sudah tak sabar menunggu lebih lama lagi.


"Kok belum aktif-aktif sih?" gerutu Elle. Ia meletakkan ponselnya sejenak dan hendak meneguk kembali minuman hangat yang masih tersisa banyak.


"Ahh!"


Elle terkejut dan spontan beranjak dari kursinya. Karena kurang fokus, ia tak sengaja menyenggol gelas itu hingga jatuh dan pecah. Minumannya menggenang di lantai dan bercampur dengan kepingan gelas.


"Ada apa, Nona?"


"Maaf, Mas, saya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya. Nanti biar saya ganti rugi," ucap Elle.


Selanjutnya, dia hanya melihat senyuman di wajah pelayan itu. Sedangkan jawaban yang dilontarkan sama sekali tak masuk dalam pendengaran Elle, karena wanita itu hanyut dalam pikirannya sendiri.


"Hatiku tiba-tiba tidak nyaman. Reyvan ... dia baik-baik saja, kan?" batin Elle dengan jantung yang berdetak cepat.


Bersambung...

__ADS_1


Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir di karya temanku dulu yuk, penulis keren—Kak Sokhibah El-Jannata 🥰🥰🥰



__ADS_2