Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Rencana Reyvan


__ADS_3

Di dalam mobil yang berhenti di parkiran rumah sakit, Elle masih sesenggukan. Maverick pun masih setia di sampingnya. Sesekali tangan kekar itu mengusap lengan Elle, juga mengusap air mata yang seakan enggan berhenti.


"Menangislah jika itu yang bisa membuatmu tenang, tapi berjanjilah setelah ini kamu harus tersenyum," ucap Maverick.


Elle masih diam, butuh beberapa waktu untuk menata hati dan mengatakan sebuah hal yang sejak tadi mengganjal.


"Mas!" panggil Elle beberapa saat kemudian, dan Maverick menanggapinya dengan gumaman.


"Kenapa masa lalu keluargaku kamu beri tahukan kepada Reyvan?" tanya Elle dengan perasaan yang sesak.


Sebaik apa pun Maverick, dialah satu-satunya alasan yang membuat kisah asmaranya berantakan. Mulai dari memaksanya menikah, lalu mengungkap keadaan Alroy, dan sekarang mengungkap masa lalu keluarga. Memang benar Maverick adalah suaminya, tetapi hubungan mereka tidak seperti suami istri pada umumnya.


Maverick menghela napas panjang, "Aku hanya tidak mau dia menyesal di kemudian hari. Entah bagaimana caranya, tapi yang jelas Reyvan mengenal Adriano dan menjalin kerja sama. Yang kukatakan ada masalah di kantor kemarin, itu ada hubungannya dengan mereka. Tapi, aku yakin bukan aku target utamanya, melainkan kamu."


Elle mengangkat wajah dan menatap Maverick lekat-lekat.


"Apakah masalah itu serius?" tanyanya dengan suara pelan.


"Kedudukan Adriano berada jauh di atasku. Jadi, apa pun yang mereka lakukan terhadap bisnisku, pasti ada pengaruh," jawab Maverick.


Elle terdiam. Di satu sisi dia merasa tidak enak hati karena sudah menyeret Maverick dalam masalah yang rumit. Namun, di sisi lain Elle juga merasa kesal. Mereka menikah atas kemauan Maverick, lantas tanpa persetujuan darinya lelaki itu mengungkap banyak hal kepada Reyvan. Sampai akhirnya, hubungan menjadi renggang karena hal itu.


"Kamu marah?" tanya Maverick dengan suara yang sangat lembut. Namun, Elle tetap bergeming.


Maverick menghela napas panjang, "Maaf kalau aku salah karena sudah bicara lancang kepada Reyvan. Tapi, aku hanya tidak ingin dia menyesal karena terlambat menyadari identitas Adriano. Seribu persen aku yakin dia masih mencintai kamu, jadi tidak mungkin tega menghancurkan kamu. Setelah tahu siapa Adriano, aku yakin sekarang Reyvan akan berubah haluan."


Elle menggeleng-geleng sambil menggigit bibir. Lantas sedikit mendongak agar air mata tidak jatuh lebih banyak.

__ADS_1


"Elle."


"Dia sangat kecewa, bahkan melebihi kekecewaannya saat tahu keadaan Kak Alroy. Sampai-sampai___" Elle menunduk. "Dia akan menganggap kami adalah orang asing yang tidak pernah kenal," sambungnya.


Maverick memandang Elle dengan lebih lekat. Dalam situasi yang seperti ini, ingin sekali dia memeluk Elle dan membisikkan kata-kata cinta, menyembuhkan lukanya dan mempersembahkan bahagia semampu yang dia bisa. Namun, jauh di dalam hatinya ada larangan untuk melakukan itu.


"Jangan egois, Elle berhak bahagia, kau bukan lelaki sempurna yang layak mendampingi wanita seperti dia!" kecam suara hatinya, yang lantas membuat Maverick bergeming dalam posisi yang sama.


"Hubungan memang tidak selayaknya diawali dengan kebohongan, apa pun alasannya. Kejujuran adalah hal berharga, Elle." Setelah cukup lama saling diam, akhirnya Maverick kembali membuka suara.


Elle tidak menyahut.


"Aku tahu kamu menutupi semua itu karena takut kehilangan Reyvan, tapi aku yakin kamu juga paham bahwa kebohongan itu tidak akan bisa selamanya. Sejak awal kamu pasti sadar kalau hari ini pasti akan terjadi," sambung Maverick.


Elle tetap bergeming.


Seakan ada batu besar yang mengimpit dada ketika Maverick melontarkan kalimat tersebut. Melepaskan, sebuah keputusan yang amat sangat menyakitkan, tetapi harus dilakukan. Kebahagiaan orang yang dicintai jauh lebih berharga dari pada kebahagiaan sendiri, begitulah pikir Maverick.


Elle menoleh dan menatap Maverick. Namun, bibirnya masih mengatup rapat.


"Reyvan masih mencintaimu, percayalah!" bisik Maverick sambil mengusap air mata Elle.


"Aku tidak yakin," jawab Elle juga dengan bisikan.


"Bukan tidak yakin, kamu hanya takut dengan prasangka-prasangkamu sendiri. Elle, berpikirlah optimis! Dengan begitu hal-hal baik juga akan terjadi padamu. Percayalah!" jawab Maverick lengkap dengan senyum yang menawan.


Belum sempat Elle menyahut, tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata dokter yang menelepon. Dia memberitahukan tentang keadaan Aurora yang ada sedikit kemajuan.

__ADS_1


"Nona Aurora sudah membuka mata. Meski belum bisa merespon, tapi detak jantungnya makin membaik," ucap dokter.


Mendengar hal itu, Elle dan Maverick bergegas keluar dari mobil dan berlari ke tempat Aurora. Mereka melupakan masalah yang barusan terjadi. Saat ini tidak ada yang lebih penting dari urusan Aurora.


Selagi Elle dan Maverick sibuk dengan Aurora, di tempat yang berbeda Reyvan terdiam sambil mengisap nikmat rokok yang entah sudah keberapa.


Setelah keluar dari kafe, Reyvan langsung pulang dan berdiam diri di balkon kamar. Dia melampiaskan emosinya hari ini dengan merokok. Sebenarnya, ada pula sebotol minuman keras yang sempat dia beli dalam perjalanan pulang. Namun, sampai saat ini masih dibiarkan begitu saja. Jangankan diteguk, dibuka pun belum.


Ketika Reyvan masih kalut dalam pikirannya, ponselnya berdering dan menampilkan nama Adriano. Reyvan sedikit ragu untuk menerimanya, tetapi tak bisa pula mengabaikan.


"Halo, Tuan."


"Tuan Rey, bisnis Maverick di sana sudah kita kacaukan. Besok datanglah kemari dan kita jalankan rencana kedua. Untuk kekacauan di sana, nanti kita lanjutkan pelan-pelan," ucap Adriano.


Reyvan berpikir sejenak. Rencana kedua adalah menyabotase produk-produk Shane Senor yang beredar di luar negeri, khusunya wilayah Eropa. Tujuan Adriano adalah mengambil alih kepercayaan distribrutor dan juga konsumen terhadap Shane Senor. Namun menurut rencana awal, hal itu diagendakan bulan depan. Entah mengapa sekarang dimajukan secara mendadak.


"Tapi, Tuan, bukankah terlalu awal jika melakukannya sekarang?" Reyvan mengutarakan pendapatnya.


"Tidak, saya sudah menyusunnya secara matang. Tuan Rey, urusan ini Anda tinggal menjalankan saja. Saya yang mengatur semuanya."


"Baiklah kalau begitu, besok saya akan terbang ke sana," jawab Reyvan. Tak ada pilihan untuk menolak.


"Bagus, Anda memang cekatan. Saya tidak salah mengajak Anda bekerja sama."


Setelah sambungan telepon berakhir, Reyvan kembali termenung. Meneruskan kerja sama tentu saja bukan pilihannya, setelah tahu bahwa Adriano adalah paman Elle. Namun, untuk mundur juga tidak mudah.


"Dia bisa melakukan apa pun jika aku memaksa mundur. Ada baiknya ikuti dulu permainannya, dengan begitu aku malah bisa menghalangi niatnya yang ingin menghancurkan Elle," gumam Reyvan. "Ah, Elle. Sebesar apa pun rasa marah dan kecewaku, nyatanya aku masih memikirkan dia."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2