
Bisik-bisik tamu yang lain mulai terdengar di telinga Maverick. Mereka membicarakan dirinya yang berpisah dengan Elle, lantas mantan istrinya itu menikah dengan lelaki lain, tidak lama setelah mereka bercerai.
Gosip miring pun kembali beredar seperti waktu lalu, ketika dirinya mengumumkan perceraiannya dengan Devara. Sampai saat ini masih tidak ada yang tahu jika wanita itu meninggal karena HIV. Kematian Aurora juga masih disamarkan dengan gagal jantung akibat lahir prematur.
Gay, satu sebutan yang lagi-lagi disematkan untuk Maverick. Banyak yang mengira bahwa perceraiannya dengan Elle karena Maverick masih mencintai sesama jenis. Sedangkan sekarang mengasuh banyak anak, mereka anggap sebagai bentuk pengalihan perhatian. Meski tidak semua orang beranggapan seperti itu, tetapi cukup banyak yang demikian.
"Anggapan mereka tidak berpengaruh untuk hidupku. Mau seburuk apa pun menilai, tidak akan membuatku miskin. Aku tetap bisa melangkah, lebih dari mereka." Tanggapan Maverick ketika mendengar asumsi miring tentangnya.
Dia sudah kenyang dengan semua itu, jadi tidak akan terpengaruh lagi.
Tak terkecuali malam ini, dia tetap melangkah penuh kharisma dan berbaur dengan tamu undangan lain. Hingga akhirnya, mereka diam dengan sendirinya. Sedangkan anggapan-anggapan buruk itu hanya berputar dalam hati dan pikiran masing-masing.
"Selamat malam, Tuan Shane."
"Apa kabar, Tuan Shane?"
Beragam sapaan pun terdengar ramah, syarat akan senyuman dan tatapan yang berbinar. Entah tulus atau sekadar menjilat, lagi-lagi Maverick tak peduli. Apa pun yang orang lain lakukan, baginya tidak membawa pengaruh apa pun, kecuali yang bersangkutan dengan bisnis.
"Di mana Reyvan dan Elle?" tanya Maverick pada Alroy, yang kala itu sedang menyambut tamu, karena mempelainya sendiri masih entah di mana.
__ADS_1
"Mereka masih di kamar, tapi sudah dipanggil Kaivan. Harusnya sebentar lagi mereka akan ke sini," jawab Alroy sedikit rikuh. Dia tahu mantan adik iparnya itu masih mencintai Elle.
Namun, dengan tenang Maverick menyunggingkan senyum manis. Meski kenyataan itu cukup menyakitkan, tetapi dia tahu itulah yang terbaik. Elle harus bahagia, dan sumber kebahagiaan bukanlah dirinya.
"Nggak habis pikir sama jalan pikiran mereka, aku panggil-panggil sampai tenggorokanku kering, nggak ada yang nyahut. Aku tungguin sampai kaki pegel, keluar-keluar cengengesan kayak nggak ngelakuin kesalahan. Itu pun MUA masih harus benerin lipstiknya. Ya tahu pengantin baru, masih kasmaran, tapi ya jangan lupa juga kalau sekarang acaranya belum kelar. Tamu udah pada datang, pada nanyain, masih aja ngumpet." Sambil berkacak pinggang, Kaivan datang dan bersungut-sungut.
Alroy tersenyum masam. Bukan jengkel atau kesal seperti yang Kaivan rasakan, melainkan lebih pada sungkan terhadap Maverick. Belum lama sah dan berduaan di dalam kamar, apalagi yang akan dilakukan? Kalaupun tidak melakukan 'itu', tetapi pasti tak jauh-jauh dari sana. Alroy yakin Maverick juga memikirkan hal yang sama.
Belum sempat Alroy atau Maverick menjawab gerutuan Kaivan barusan, ketiganya sudah dikejutkan dengan kehadiran Reyvan dan Elle. Mereka berjalan bersama dengan tangan yang menggamit mesra. Yang satu tampak cantik, sedangkan yang satu terlihat rupawan. Sangat serasi.
"Mas," sapa Elle ketika menyadari kehadiran Maverick.
"Selamat, Elle, semoga kamu bahagia selalu dengan pernikahan ini," ucap Maverick masih dengan senyumannya.
"Terima kasih, Mas."
Elle mengangguk, juga tersenyum, tetapi terlihat masam. Ya, dia merasa canggung dengan kehadiran Maverick malam ini. Bagaimanapun juga, lelaki itu pernah mencintainya, ah mungkin sekarang pun masih. Aslinya, Elle paham andai saja Maverick tidak datang. Namun, ternyata dengan jantannya dia malah mengucapkan selamat.
"Tetap tersenyum dan jangan pernah sedih lagi. Kamu harus bahagia karena di sini aku juga bahagia." Maverick kembali bicara, kali ini sambil menepuk pelan lengan Elle. Sebentar saja.
__ADS_1
Setelah itu, Maverick berbalik dan melangkah pergi. Namun, Reyvan meneriakinya.
"Kamu hanya mengucapkan selamat untuk Elle?"
Maverick tersenyum miring, lalu kembali berbalik dan menatap Reyvan.
"Kau mau aku mengucapkan selamat dan mengembalikan hadiah yang pernah kau berikan?"
"Hadiah?"
"Memeluk Elle. Itu kan yang hadiahkan padaku saat kami menikah dulu?" jawab Maverick dengan santainya.
"Kamu gila!" teriak Reyvan.
Akan tetapi, Maverick tak terpengaruh sama sekali. Ia hanya tersenyum dan kemudian pergi, tanpa menghiraukan umpatan Reyvan.
Melihat itu, Elle tersenyum senang. Sikap Maverick barusan telah menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Karena Elle tahu, sakit dan kecewanya Maverick adalah diam. Jika dia berani menggoda, artinya dia sudah berdamai dengan keadaan. Dan mungkin, itulah cara dia menyampaikan ucapan selamat. Dalam suatu waktu, terkadang gengsinya memang tinggi.
Bersambung...
__ADS_1