Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Reyvan, yang saat itu sedang menyisir rambut di depan cermin. Tatapannya yang tajam melirik ke arah pintu, dan setelah mengembuskan napas kasar dia berjalan ke arah sana.


Satu detik setelah pintu dibuka, Reyvan merasa tak nyaman dalam hati. Sosok lelaki yang datang ke kamarnya adalah seseorang yang sebelumnya sangat dipercaya—Izal. Lelaki itu sudah rapi dalam balutan setelan resmi. Mungkin, dia siap berangkat mengikuti Reyvan. Hari ini adalah hari di mana Reyvan akan mempresentasikan desainnya, dan sesuai rencana mereka akan datang berdua.


"Masuk akal atau tidak, tapi hanya itu satu-satunya cara," batin Reyvan.


Sebelum menyapa Izal, Reyvan terlebih dahulu memegangi pelipis sambil berdesis, seakan-akan mengisyaratkan sebuah beban yang cukup berat.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Izal.


Reyvan mengembuskan napas kasar, "Ada banyak hal yang tidak benar. Aku pusing memikirkannya."


"Maksudnya, Tuan? Apakah ada masalah dengan urusan di Inonesia?" Izal mengernyit heran.


Reyvan tidak langsung menjawab. Dia malah membalikkan badan dan kembali melangkah ke dalam kamar. Izal sedikit bingung, lalu mengikuti langkah tuannya dan mencoba bertanya dengan hati-hati.


"Tuan, sebenarnya ada apa? Tampaknya, Anda mengalami masalah yang tidak sederhana." Izal kembali bertanya.


"Kamu ingat kerja sama dengan Pak Burhan minggu lalu?" Reyvan balik bertanya.


"Ingat, Tuan. Ada apa dengan itu?" Izal masih kebingungan.


"Semalam tiba-tiba dia menghubungiku dan mempermasalahkan beberapa poin dalam surat kontrak itu. Dia meminta perubahan yang lebih menguntungkan. Dia menunggu sampai besok pagi, jika telat maka kerja samanya akan batal," terang Reyvan dengan suara yang tertahan.


Izal makin bingung. Pasalnya, surat kontrak sudah ditandatangani dua belah pihak. Dalam aturan, sudah tidak bisa digugat terkait poin-poin yang tertera di dalamnya, apalagi sampai membatalkan, kecuali sanggup membayar kompensasi yang telah disepakati.


"Tuan ... kontrak itu bukannya sudah ditandatangani Anda dan Pak Burhan? Yang artinya sudah sah. Lalu, kenapa sekarang dipermasalahkan dan mengancam batal, Tuan? Apakah boleh mereka bersikap seperti itu?" protes Izal.


"Aku menginginkan kerja sama ini. Aku tidak mau mengecewakan mereka," jawab Reyvan dengan cepat, seolah-olah sangat panik.

__ADS_1


"Tapi, Tuan___"


"Izal, tolong aku ya. Kamu perbaiki surat kontrak dengan Pak Burhan dan aku akan mempresentasikan desain ini dengan Tuan Jerry. Waktunya sudah mepet, aku tidak bisa membantumu," pungkas Reyvan sambil menyambar tas kerjanya.


Sebelum Izal sempat protes, Reyvan terlebih dahulu pergi meninggalkannya. Izal berteriak memanggil, tetapi Reyvan malah mempercepat langkah. Alhasil, Izal hanya bisa merutuk dalam kebingungannya.


"Dibenahi seperti apa lagi, Tuan Reyvan sama sekali tidak memberikan arahan," keluh Izal sambil duduk di sofa.


"Kontrak ini sudah ditandatangani sejak seminggu yang lalu, bisa-bisanya minta diubah dan mengancam batal. Tuan Reyvan juga kenapa iya iya saja, padahal biasanya dia tegas. Perusahaan milik Pak Burhan terhitung kecil jika dibandingkan dengan Arkatama, tapi kenapa Tuan Reyvan sangat takut?" gumam Izal. Untuk pertama kalinya dia melihat sang tuan lemah dan tidak profesional, dan untuk pertama kali juga dia diberi tugas yang tidak jelas.


Sementara itu, Reyvan keluar dari hotel dengan senyum yang mengembang. Harapannya sejak kemarin memang pergi presentasi sendiri. Itu sebabnya dia mencari-cari alasan agar Izal tetap tinggal di hotel.


"Tak peduli meski sekarang kamu menganggapku lemah dan kalah dengan Pak Burhan, yang penting aku bisa bisa menjaga jarak denganmu. Sebelum aku bisa membuktikan sendiri bahwa kamu bukan pengkhianat, aku tidak akan melibatkan kamu dalam proyek apa pun, Izal," batin Reyvan.


_____________


Setibanya di galery milik Jerry, Reyvan bertemu dengan arsitek-arsitek lain dari berbagai negara. Meski awalnya sempat pesimis, tetapi Reyvan berhasil mempresentasikan desainnya dengan baik, bahkan nyaris sempurna. Sampai-sampai Jerry dan yang lain terpukau dibuatnya.


"Yang penting aku sudah berusaha, apa pun hasilnya akan kuterima dan akan kujadikan pelajaran untuk ke depannya," batin Reyvan sambil beranjak.


"Terima kasih, Tuan Rey. Saya harap apa pun keputusan kami nanti, tidak membuat Anda jera datang ke sini," ucap Jerry ketika menyalami Reyvan.


"Saya mengerti, Tuan Jerry. Dalam kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Saya akan menerimanya dengan lapang dada." Reyvan tersenyum sambil menjabat tangan Jerry dengan erat.


Setelah itu, Reyvan berjalan keluar dan berhenti di halaman galery. Dia menunggu taksi yang sudah dipesan sejak beberapa saat yang lalu.


"Tuan Rey!" panggil seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.


Reyvan mengernyit sesaat, lalu mengulas senyum setelah ingat dengan sosok tersebut.

__ADS_1


"Tuan Adriano," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Adriano menyambut tangan Reyvan dengan senyuman yang tak kalah lebar.


"Bagaimana presentasinya? Lancar?"


"Lancar, Tuan. Tinggal menunggu hasilnya saja," jawab Reyvan.


"Semoga beruntung, Tuan Reyvan." Adriano menepuk pelan bahu Reyvan.


"Terima kasih." Reyvan mengangguk hormat.


"Oh ya, selain ada penting dengan Jerry, sebenarnya saya ke sini juga karena ingin menemui Anda, Tuan Rey."


Reyvan sedikit bingung, "Menemui saya?"


"Iya." Adriano mengambil kartu nama dari dompetnya dan mengulurkannya kepada Reyvan. "Saya serius ingin bekerja sama dengan Anda. Silakan Anda pikirkan dulu, jika sudah ada jawaban hubungi saja di nomor itu," sambungnya.


"Baik, Tuan. Sebelumnya terima kasih untuk niat baiknya," sahut Reyvan sembari menyimpan kartu nama milik Adriano.


"Sama-sama, Tuan Rey."


Tak lama berselang, Adriano menerima telepon dan kemudian pamit pergi. Katanya, ada urusan mendadak jadi dia gagal menemui Jerry. Reyvan pun ikut beranjak dari sana karena taksi pesanannya sudah datang. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Reyvan memandangi kartu nama yang baru saja ia dapatkan.


Adriano Beltrand adalah orang besar yang cukup berpengaruh di Barcelona, Reyvan tergelitik untuk menerima kerja sama darinya. Peluang besar untuk mendongkrak bisnis, pikir Reyvan. Namun, di balik ambisi itu juga terselip rasa cemas dan waswas. Siapa dirinya? Jika dibandingkan Adriano, hanyalah orang kecil yang mungkin tidak ada gunanya. Di luar sana masih banyak pihak lain yang lebih menguntungkan. Lantas, mengapa Adriano malah memilih dirinya?


"Jika tidak dicoba, aku tidak akan pernah tahu ada apa di balik semua ini?" batin Reyvan dengan senyum yang terkulum.


Dia sudah tahu pilihan mana yang akan diambil. Entah kelebihan atau sebagian dari kekurangan, ambisi Reyvan memang tinggi jika berkaitan dengan bisnis dan kedudukan. Apalagi sekarang ada Maverick yang menjadi rival utama, Reyvan nyaris tak bisa menahan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2