
Tiga hari telah berlalu sejak perusahaan Maverick mengalami kekacauan. Hari ini akan diadakan rapat pemegang saham untuk membahas masalah tersebut. Maverick menata hati sebelum bertemu dengan pemilik saham misterius yang nanti akan ikut hadir. Maverick yakin ada sesuatu yang tak beres dengannya.
"Rapat akan dimulai setengah jam lagi, Tuan. Sebaiknya, Anda sarapan terlebih dahulu," kata David. Dia tahu tuannya sedang kacau dan melewatkan makan pagi.
"Iya." Maverick menjawab asal, tanpa ada niat untuk melakukannya. Baginya, masalah ini tidak sederhana dan itu membuat selera makannya berkurang.
"Oh ya, sampaikan pada HRD, jika nanti Izal melamar kerja di sini, tolong terima dan berikan jabatan yang layak," sambung Maverick setelah teringat dengan bawahannya yang kini kehilangan pekerjaan.
"Baik, Tuan."
Setelah David pergi, Maverick mengambil ponsel dan memandangi foto Elle yang sedang bersama Aurora. Keduanya tersenyum manis dengan sorot mata yang berbinar. Bahagia, satu kata yang paling tepat untuk melukiskan gambar tersebut.
"Entah sampai kapan Tuhan mengizinkanku melihat senyum ini. Aurora ... dia sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan Elle ... sebesar apa pun rasa cintaku padanya, aku tak bisa memilikinya. Dia sudah punya tambatan hati yang jauh lebih pantas bersanding dengannya," batin Maverick sambil mengusap-usap foto tersebut.
Setelah cukup lama memandangi foto Elle, Maverick menunduk dengan perasaan kalut. Sekian waktu menikahi Elle, hatinya benar-benar terpaut pada wanita itu. Posisi yang semula hanya untuk Devara, kini terbagi dan bahkan lebih banyak pada Elle.
__ADS_1
Akan tetapi, kekurangan fatalnya sebagai lelaki bak jurang tak kasatmata yang tak mampu dilewati. Dia tak ingin egois dan membelenggu Elle dalam pernikahan yang datar—tanpa nafkah batin dan tanpa keturunan. Tidak! Elle berhak bahagia. Tak sepatutnya Maverick merampas masa depannya.
"Aku akan melepasnya ... suatu saat nanti," batin Maverick dengan perasaan yang teramat sesak.
Ada sekelumit rasa sesal yang kini bersarang dalam benak. Andai dulu bukan Elle yang ia pilih, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang. Hatinya akan tetap mencintai Devara dan tak berpaling pada yang lain. Dengan begitu, hatinya pun tidak akan terluka. Namun, terkadang keadaan memang selucu itu, sebuah kebetulan bisa menjadi penggalan yang tak terlupakan. Ah, entahlah!
Setelah cukup lama termenung meratapi kisah hidup yang kelam, Maverick tersadar karena kehadiran David. Tangan kanannya itu kembali menghampiri dan memberitahukan bahwa rapat pemegang saham akan segera dimulai.
"Fokus dulu dengan masalah ini. Jangan sampai Shane Senor semakin kacau," batin Maverick menyemangati diri sendiri.
Beberapa menit kemudian, Maverick tiba di sana. Kedatangannya disambut hangat oleh beberapa pemegang saham yang kini sudah hadir di tempat masing-masing. Maverick membalas sambutan mereka dengan ramah, lantas duduk di kursi kebesarannya.
"Apakah dia belum datang?" Maverick membatin sambil melayangkan tatapan ke sekeliling. Wajah-wajah yang hadir di sana sangat familier, tidak ada seorang pun yang asing.
"Masih ada waktu tiga menit, kita tunggu dulu yang belum hadir," kata Maverick dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, Tuan Maverick."
Detik demi detik terus bergulir. Ketika sisa waktu tinggal sepuluh detik, suara langkah mendekat ke ruangan. Spontan Maverick menoleh dan mendapati sosok lelaki yang sangat dikenal—Reyvan Altan Arkatama—mantan kekasih Elle.
"Saya belum terlambat, kan, Tuan Maverick?" tanya Reyvan sambil tersenyum miring. Puas rasanya menatap keterkejutan di wajah Maverick.
"Tidak. Anda sangat tepat waktu, silakan masuk!" jawab Maverick dengan diiringi senyuman lebar, guna menutupi kekagetan dan kegugupannya.
"Terima kasih, Tuan Maverick." Reyvan menunduk sekilas, kemudian berjalan masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Sementara itu, Maverick terus memandangi gerak-gerik Reyvan. Dia masih tak habis pikir dengan kehadiran lelaki itu sebagai pemilik saham misterius. Jika mengingat kejadian beberapa waktu lalu, besar kemungkinan Reyvan menaruh dendam padanya.
"Masuk akal jika dia dendam, tapi cukup mustahil bisa melakukan hal sebesar ini, kecuali ... ada orang besar yang berdiri di belakangnya," batin Maverick.
Kemudian, tatapan Maverick beradu dengan Reyvan. Keduanya saling melayangkan tatapan tajam dalam beberapa detik lamanya. Dalam mata Reyvan seolah-olah tersirat kalimat 'aku sudah masuk dalam ranahmu, sebentar lagi kau akan kubuat hancur', sedangkan dalam mata Maverick seakan-akan tersirat kalimat 'rencana hanya tinggal rencana, sedikit pun kau tidak akan bisa menyentuhku'.
__ADS_1
Bersambung...