Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Kecewa


__ADS_3

"Adriano Beltrand adalah paman Elle. Dia yang sudah memfitnah Om Andress dan membuatnya dicoret dari daftar keluarga. Setelah Om Andress pulang ke sini, ayahnya meninggal. Tak berselang lama, beliau juga kecelakaan dan meninggal, sedangkan Alroy terluka parah sampai lumpuh. Kau pikir, sekarang yang ditargetkan Adriano benar-benar aku?" Maverick tersenyum miring. "Sangat bodoh jika kau berpikir demikian," sambungnya.


Reyvan membelalak. Jantungnya berdetak cepat dan keringat dingin mengucur dengan sendirinya. Bukan hanya hubungan darah antara Adriano dan Elle yang membuat Reyvan terkejut, melainkan juga fakta bahwa Andress pernah dicoret dari daftar keluarga. Sekelam apa masa lalu Elle? Mengapa sedikit pun dia tak pernah berbagi?


"Alroy, dan kini Om Andress. Sebanyak apa rahasia yang Elle pendam sendiri, apa selama ini aku memang tidak penting baginya?" batin Reyvan.


"Aset milik keluarga Zee sangat besar. Kau pasti sudah menyaksikan sendiri betapa kaya seorang Adriano. Sebelumnya, dia membiarkan Elle dan ibunya hidup tenang karena keadaan mereka sudah lemah, ayahnya sudah tiada, kakaknya lumpuh, dan bisnis yang dikelola juga alakadarnya. Tapi sekarang, Elle adalah istriku dan aku bukan orang biasa. Perusahaan yang kukelola sudah dikenal secara internasional, dan itu ... menjadi ancaman untuk Adriano. Paham?" Maverick kembali bicara. Namun, Reyvan tetap bergeming dan larut dalam pikirannya sendiri.


"Hidupmu adalah urusanmu sendiri. Apa pun yang kau pilih, aku tidak berhak ikut campur. Yang penting aku sudah memberi tahu rahasia yang mungkin kau lewatkan. Keputusan selanjutnya, ada di tanganmu sendiri. Ingin tetap berpihak pada Adriano, silakan. Aku akan menghadapimu dengan jantan. Tak akan kubiarkan seorang pun menyakiti istriku, termasuk kamu. Tapi ... jika kamu masih mencintai Elle dan berharap dia bahagia, kita bisa menjadi rekan untuk membantunya mendapatkan hak," sambung Maverick masih dengan kalimat panjang.


"Pergi!" bentak Reyvan dengan napas yang memburu. Dia sangat benci mendengar Maverick menyebut Elle dengan kata 'istriku'.


"Baik, aku akan pergi. Terima kasih untuk waktunya, Tuan Reyvan." Maverick menatap Reyvan sekilas, lantas melangkah pergi meninggalkan Reyvan seorang diri.


"Dua tahun kita bersama. Apa menurutmu hanya lelucon saja, Elle?" batin Reyvan dengan rahang yang mengeras. Tak bisa lagi dijabarkan dengan kata, betapa kecewa dan terlukanya ia saat ini.


Setelah berulang kali mengembuskan napas panjang dan hatinya sedikit tenang, Reyvan mengambil ponsel dan menghubungi satu nama yang nyaris tak pernah enyah dari ingatan. Siapa lagi kalau bukan sang mantan—Elle.

__ADS_1


"Kamu di mana?" tanya Reyvan setelah Elle menerima panggilannya.


"Aku lagi di rumah sakit, menjenguk teman," jawab Elle dari seberang sana.


"Aku ingin bertemu, sekarang!"


Reyvan memejam saat melontarkan perintah yang tak ramah. Sesungguhnya, hati memberontak dan tak ingin melakukan itu. Namun, harga dirinya telanjur terluka karena ketidakjujuran. Alhasil, Reyvan tak segan menyudutkan suara yang selama ini sangat dirindukan.


"Aku tidak bisa, temanku___"


"Apa maksudmu?"


"Temui aku di kafe biasa jika kamu ingin tahu apa maksudku. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan mengganggu pernikahanmu dengan Maverick," jawab Reyvan dengan cepat. Lantas, dia memutus sambungan secara sepihak.


"Rey! Halo, Rey!"


Di kursi tunggu rumah sakit, Elle berdecak karena Reyvan mengakhiri teleponnya begitu saja. Bahkan, ketika Elle balik menelepon, Reyvan malah menolaknya.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" batin Elle.


Sesaat setelahnya, Elle menelepon Maverick dan bertanya perihal sikap Reyvan yang aneh. Elle yakin hal itu berhubungan dengan Maverick.


"Temui saja dia, biar Kinan yang menjaga Aurora."


Usai mendapatkan jawaban dari Maverick, Elle bangkit dan bergegas pergi menuju kafe yang dimaksud Reyvan. Makin lama ia meninggalkan kawasan rumah sakit, makin cepat pula jantungnya berdetak. Kisah yang selanjutnya masih ingin diulang, dari waktu ke waktu makin terasa renggang.


"Entah seperti apa akhir kita nanti, Rey. Aku selalu berharap kita kembali seperti dulu, tapi ... entahlah."


______________


Dalam balutan dress hijau dan blazer warna senada, Elle melangkah anggun memasuki kafe yang menyimpan banyak kenangan bersama Reyvan. Sembari menyibakkan rambut yang sebagian berjatuhan ke area wajah, Elle menatap ke segala arah, mencari sosok lelaki yang menjadi pemilik hati.


Setelah menemukan keberadaan Reyvan, Elle mengulas senyuman dan berjalan ke arahnya. Tempat yang lelaki itu pilih adalah tempat yang sering mereka duduki ketika datang bersama—sudut ruangan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2