Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Kematian Aurora


__ADS_3

Di dalam burung besi yang membawanya pulang ke Indonesia, Maverick termenung dalam ketakutannya. Kejadian yang seperti kilatan sangat mengguncang jiwa, menempatkannya di antara hidup dan mati.


Aurora sangat kritis, keadaannya jauh lebih buruk dari kritis yang kemarin.


Ucapan Elle terus terngiang-ngiang dalam telinga Maverick, menghantui pikiran dan perasaan atas rasa kehilangan. Tidak! Cukup Devara yang pergi, jangan Aurora. Dia adalah bintang yang selama ini menjadi satu-satunya alasan untuk tersenyum. Kehadiran Aurora ibarat separuh dari jiwanya. Jika Aurora tiada, entah sehancur apa dirinya.


"Tidak! Jangan sampai terjadi apa-apa padanya. Aurora harus selamat, harus tetap hidup," batin Maverick sembari mengembuskan napas berat.


Setelah menerima telepon dari Elle semalam, ia langsung membeli tiket penerbangan paling pagi. Ia meninggalkan Reyvan yang entah bagaimana keadaannya sekarang, juga meninggalkan Alroy yang entah berhasil atau belum dalam menjebloskan Adriano ke penjara.


Namun, karena jarak Barcelona dan Jakarta memang sangat jauh, Maverick membutuhkan waktu hampir sehari semalam untuk tiba di sana.


Setelah pesawat yang ia tumpangi landing di bandara Jakarta, Maverick bergegas menuju mobil yang menjemputnya. Kala itu hari masih pagi, semburat fajar baru saja menyingsing di kaki langit timur.


"Tuan, kita___"


"Rumah sakit, cepat!" potong Maverick ketika dirinya sudah masuk ke mobil.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Tak lama setelah mesin menyala, sang sopir melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalanan sedikit lengang dibanding biasanya.


Sebenarnya, mobil itu meluncur hampir mencapai batas maksimal. Namun, bagi Maverick masih terasa pelan. Rasanya begitu lama tak juga tiba di rumah sakit. Maverick terlalu panik, hatinya diliputi rasa takut yang membuatnya kalut. Bahkan, ia sampai lupa menghidupkan kembali ponselnya.


Beberapa menit kemudian, mobil sudah memasuki kawasan rumah sakit. Maverick langsung turun, tanpa menunggu sopir yang membukakan pintu untuknya. Lantas, lelaki itu melangkah cepat menuju ruang ICU.


"Dokter!" panggil Maverick ketika di depan ICU, dan dokter yang menangani Aurora sedang berdiri di sana.


"Mas!" Elle menghambur ke pelukan Maverick, menumpahkan tangis yang sejak beberapa jam lalu tidak mereda.


"Tuan Maverick, saya harap Anda bisa mengikhlaskan semua ini. Penyakit Nona Aurora sudah parah dan ... raganya tidak kuat lagi. Nona Aurora tidak terselamatkan, Tuan. Dia meninggal beberapa menit yang lalu."


Dunia Maverick seakan berhenti saat mendengar penjelasan dokter. Dia bergeming dengan mulut yang menganga. Kilasan-kilasan memori bersama Aurora silih berganti dalam ingatan, menghujam hatinya seperti belati yang tajam. Menyakitkan! Bahkan saking sakitnya, Maverick sampai tak bisa merasakan apa-apa lagi.


"Mas," bisik Elle sambil menggenggam tangan Maverick. Dia tahu suaminya itu sangat hancur. Kehilangan Aurora pasti menjadi pukulan besar dalam hidupnya.

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak mungkin! Aurora masih hidup!" teriak Maverick dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kuatkan hatimu! Mama tahu ini berat, tapi kita tidak bisa mengelak. Tuhan sudah menyuruhnya pulang," timpal Marissa. Dia pun ikut menenangkan Maverick yang kini sudah menitikkan air mata.


"Tidak, ini tidak mungkin! Dokter bohong, kan? Aurora masih hidup, kan? Dia anakku, Dokter, dia tidak boleh mati," ucap Maverick dengan suara yang gemetaran dan tertahan di tenggorokan.


"Anda bisa melihatnya, Tuan. Mari!" kata dokter dengan raut sendu.


Meskipun dirinya sering menghadapi kesedihan keluarga pasien akibat kematian, tetapi kali ini rasanya ia ingin ikut menangis. Dia tahu benar seperti apa jalan pernikahan Maverick, karena dia juga pernah menangani Devara, berlanjut dengan Aurora yang mengidap penyakit HIV sejak lahir.


"Aku hanya bisa berusaha, tanpa bisa menentukan hasil. Sudah sekuat mungkin aku berusaha menyelematkan Aurora, tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Semoga dia berlapang hati menerima semua ini," batinnya sembari mengarahkan Maverick untuk masuk ke sana dan melihat Aurora.


Satu langkah, dua langkah, akhirnya Maverick tiba di tempat Aurora. Ia berdiri di samping ranjang di mana gadis itu terbaring lemah. Sudah tidak ada alat yang menancap di tubuhnya, tidak ada pula detak jantung dan denyut nadi. Aurora tak lebih dari sebujur raga tanpa nyawa.


"Sayang, ini Daddy. Apa kamu tidak ingin membuka mata dan melihat Daddy, Nak?" bisik Maverick sembari mengusap pipi Aurora yang dingin. Tidak ada respon dari gadis itu, ia tetap tenang dalam tidur panjangnya.


"Bahkan aku tidak tahu detik-detik terakhirmu, Nak. Kenapa? Kenapa harus secepat ini kamu pergi?" Maverick makin menangis, air matanya berjatuhan dan membasahi lengan Aurora. "Kenapa bukan aku saja yang Kau ambil, Tuhan? Kenapa harus Aurora?" sambungnya dengan perasaan yang makin kalut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2