
Hallo, apa kabar kakak semua. Mudah-mudahan tetap sehat dan selalu ada dalam lindungan-Nya ya.
Maaf baru bisa up lagi, beberapa hari kemarin kesehatan kurang mendukung. Jadi up bab barunya sedikit terlambat 🙏🙏🙏 Harap dimaklumin ya.
____________
Setibanya di hotel, Reyvan langsung disambut oleh Izal. Sejak tadi lelaki itu sudah panik dengan tugas yang Reyvan berikan.
"Saya membenahinya seperti ini, tidak tahu akan pas atau tidak dengan keinginan Pak Burhan," kata Izal seraya menyodorkan laptopnya. Salinan poin-poin dalam kontrak kerja sama sudah diotak-atik, tetapi entah bagaimana hasilnya, akan memuaskan atau tidak.
Reyvan menerima laptop itu dengan senyum yang mengembang.
"Mumpung di sana belum larut malam, aku coba diskusikan dulu sama beliau," jawabnya.
"Iya, Tuan."
Setelah mendengar jawaban Izal, Reyvan melangkah pergi menuju kamarnya. Di sana, dia langsung membersihkan diri dan kemudian melihat hasil kerja Izal.
"Lumayan bagus, tapi sayangnya ini hanya akal-akalanku saja, Izal," gumam Reyvan sambil menutup kembali laptopnya.
Usai meletakkan laptop ke atas meja, Reyvan duduk santai di dekat jendela. Lantas, mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Adriano. Ternyata tidak perlu menunggu lama, sambungan telepon sudah terhubung. Pria itu menyapanya dengan ramah setelah tahu bahwa sang penelepon adalah Reyvan.
"Saya ingin berbincang banyak dengan Anda. Apakah sudah ada waktu luang?" tanya Reyvan.
"Saat ini saya masih ada pertemuan dengan klien, Tuan Rey. Bagaimana kalau nanti saja. Sekitar pukul delapan, silakan Anda datang ke kantor. Saya tunggu di sana," jawab Adriano dari seberang sana.
"Ke kantor?"
"Iya. Kebetulan ada beberapa staf yang lembur, jadi saya ikut pulang telat, Tuan."
"Oh begitu. Baiklah, nanti saya akan datang ke sana," ucap Reyvan dengan sungguh-sungguh.
"Saya tunggu, Tuan Rey."
__ADS_1
Reyvan tersenyum lebar saat sambungan telepon sudah berakhir. Awal yang mulus, harapannya sampai akhir juga tetap mulus seperti yang ada di angan.
"Masih ada waktu untuk istirahat bentar," gumam Reyvan sambil menatap jam di ponselnya, masih pukul 04.00. Tersisa empat jam untuk bertemu dengan Adriano.
________________
Tepat pukul 07.00, Reyvan sudah rapi dan bersiap pergi menuju kantor milik Adriano. Sebelum berangkat, dia terlebih dahulu menemui Izal dan lagi-lagi menyuruhnya membenahi poin-poin dalam kontrak kerja sama.
"Tuan Rey, bukankah ini sangat keterlaluan? Dia banyak protes, padahal sebelumnya sudah sepakat." Izal sedikit keberatan dan berusaha melontarkan pendapatnya akan hal itu.
"Hanya satu poin saja yang harus diubah, tidak apa-apa, lakukan saja," jawab Reyvan.
"Baiklah." Izal mengembuskan napas panjang. "Mmm, ngomong-ngomong Tuan Rey sepertinya mau pergi," sambungnya.
"Iya. Adikku minta oleh-oleh perhiasan asli sini. Mumpung ada senggang aku akan mencarikannya," dusta Reyvan.
Setelah berpamitan dan Izal tidak merasa curiga, Reyvan langsung pergi tanpa membuang waktu lagi. Kebetulan taksi yang dia pesan sudah tiba di halaman hotel.
Empat puluh menit kemudian, Reyvan tiba di depan gedung Beltrand Empresa Industrial. Sebuah gedung yang sangat mewah, bahkan hampir sepuluh kali lipat dari gedung Arkatama.
Tanpa ragu lagi, Reyvan melangkah masuk dan menemui resepsionis. Lantas, mengutarakan maksud kedatangannya.
"Tuan Adriano sudah menunggu Anda di ruangannya. Mari saya antar!"
"Terima kasih." Reyvan tersanjung karena mendapat sambutan yang cukup ramah.
Beberapa menit kemudian, Reyvan dan karyawan yang mengantarnya tiba di depan ruangan Adriano. Karyawan itu mengetuk pintu dan memberitahukan tentang kehadiran Reyvan. Lantas, Adriano membuka pintu lebar-lebar dan merangkul Reyvan layaknya rekan lama.
"Silakan duduk, Tuan Rey!" ucap Adriano dengan senyuman lebar.
"Terima kasih, Tuan." Reyvan duduk di hadapan Adriano sambil sesekali melirik ke setiap jengkal ruangan. Selain mewah, ruang kerja Adriano juga tampak elegan, membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.
"Senang sekali mendapat kunjungan dari Anda." Adriano berbasa-basi.
__ADS_1
"Saya yang lebih senang karena mendapat undangan langsung dari Anda, Tuan," jawab Reyvan.
Adriano tertawa, "Anda pandai menyanjung, Tuan Rey."
Reyvan tersenyum simpul menanggapi ucapan Adriano.
"Silakan dinikmati dulu, Tuan Rey!" Adriano menyodorkan sebungkus rokok dan sebotol minuman. Namun, Reyvan hanya mengambil rokoknya saja karena minuman itu mengandung alkohol. Adrino pun tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Saya ingin menerima tawaran kerja sama dari Anda," ucap Reyvan beberapa saat kemudian.
Adriano mengangguk-angguk, "Anda ingin kerja sama yang menguntungkan atau sangat menguntungkan?"
"Maksudnya?"
"Jika kerja sama yang menguntungkan, maka hanya seputar desain. Jika sebaliknya, maka yang harus Anda kerjakan cukup menantang. Namun, keuntungan yang Anda peroleh tidak main-main. Saya bisa mendongkrak bisnis yang Anda kelola hingga menduduki nomor satu di negara Anda. Bahkan, saya juga bisa membuat Anda punya nama di negara tetangga. Bagaimana?" Adriano menaikkan kedua alisnya.
Reyvan terdiam sejenak. Tawaran Adriano sangat menggiurkan, tetapi dia yakin ada resiko besar yang harus ditanggung.
"Boleh tahu pekerjaan apa yang harus saya lakukan untuk mendapat keuntungan yang besar?" tanya Reyvan.
Adriano tak segera menjawab, justru bangkit dan berjalan menuju meja yang ada di sudut ruangan. Lantas, dia mengambil selembar foto dan menunjukkannya ke hadapan Reyvan.
"Kacaukan bisnisnya. Buat dia hancur sampai tidak bisa bangkit lagi," ucap Adriano.
Reyvan membelalak seketika. Seseorang yang ada dalam foto adalah sosok yang sangat familier—Maverick Shane.
"Anda ... Anda mengenal dia?" tanya Reyvan dengan gugup.
"Iya dan saya punya dendam pribadi dengannya," jawab Adriano.
Reyvan bergeming cukup lama.
"Jika Anda setuju, lakukan dengan baik dan jangan coba-coba berkhianat. Jika tidak setuju, katakan dari sekarang!" Adriano kembali bicara karena Reyvan tak jua membuka suara.
__ADS_1
Bersambung...