
Hari yang disepakati untuk mengumumkan hasil desain telah tiba. Sesuai dengan harapan, Reyvan yang menang. Ke depannya, dialah yang mengatur desain renovasi galery milik Jerry.
Selain mendapatkan kerja sama dengan Jerry, Reyvan juga bekerja sama dengan Adriano. Dia bersedia mengacaukan bisnis Maverick dan membuatnya hancur.
"Selain untuk mendongkrak bisnisku sendiri, ini juga merupakan jalan untuk mengambil Elle darinya," pikir Reyvan.
Dengan sedikit licik, dia akan membalas perlakuan Maverick yang dulu pernah merendahkannya. Karena terbawa rasa kesal dan cemburu, Reyvan hanya memikirkan dendam, tanpa mau tahu dengan rahasia di balik keinginan Adriano.
Sementara itu, di Indonesia Maverick berusaha mencari tahu tentang paman Elle. Meski awalnya hanya demi Aurora, tetapi pernikahannya dengan Elle kini telah menumbuhkan benih-benih cinta yang semula hanya untuk Devara. Oleh sebab itu, Maverick berjanji akan mengambil kembali apa yang menjadi hak Elle, sekaligus menuntut keadilan atas hidup Devara.
Pamanku adalah Adriano Beltrand Zee. Sejak aku dan Papa pulang ke sini, dialah yang menjadi pemegang kendali Zee Empresa Industrial. Dan sejak Kakek tiada, perusahaan itu resmi menjadi milik Om Adriano. Entah bagaimana kabarnya sekarang, aku dan Mama tidak pernah lagi menghubungi. Kami hanya fokus dengan kesembuhan Kak Alroy dan juga kehidupan kami sendiri.
Maverick masih ingat jelas dengan jawaban Elle tempo hari, ketika dirinya bertanya tentang nama sang paman. Kini, berkali-kali Maverick mengernyit karena informasi dari Elle dan informasi yang dia dapatkan kurang klop.
Di Barcelona, tidak ada nama Adriano Beltrand Zee, yang ada hanya Adriano Beltrand. Itu pun bukan pemilik Zee Empresa Industrial, melainkan pemilik Beltrand Empresa Industrial.
__ADS_1
"Apakah mereka adalah orang yang sama, lantas Adriano sengaja menghapus dan mengganti nama Zee?" Maverick bertanya-tanya sambil memandangi wajah Adriano yang tidak jelas. Foto yang tersebar di media sosial hanya tampak samping dan dari jarak yang cukup jauh. Maverick tak bisa melihat jeli seperti apa wajahnya.
"Aku tanyakan saja pada Elle, dia ini pamannya atau bukan," gumam Maverick. "Tapi jika iya, pasti sulit mengambil kembali hak Elle. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh, aku sama sekali bukan lawannya."
Kemudian, Maverick beranjak dari kursi kerjanya. Dia menimang-nimang ponsel sambil menunggu balasan dari Elle. Namun, hingga beberapa menit berlalu istrinya itu tak jua membalas pesannya.
"Ke mana Elle? Tidak biasanya dia seperti ini," ucap Maverick sambil menelepon Elle. Entah mengapa perasaannya mendadak tidak nyaman saat melihat pesannya dibiarkan tanpa dibaca.
Karena tidak ada jawaban dari Elle, Maverick beralih menelepon rumah, dan ternyata Kinan yang menerimanya.
"Kau sedang bersama Aurora?" tanya Maverick ketika mendengar suara Aurora samar-samar di belakang.
"Iya, Tuan. Nona Aurora baru saja makan dan sekarang sedang bermain," jawab Kinan dari seberang sana.
"Ke mana Elle? Kenapa Aurora bersamamu?" tanya Maverick dengan cepat.
__ADS_1
"Nyonya pergi sejak tadi pagi, Tuan. Beliau tidak memberi tahu kami hendak ke mana, tapi sepertinya sangat terburu-buru." Jawaban Kinan membuat Maverick makin tidak nyaman.
"Terburu-buru?"
"Benar, Tuan. Tadi, Nyonya menerima telepon dan setelah itu pergi dengan terburu-buru."
Maverick diam sejenak. Dia mencoba menerka-nerka ke mana gerangan istrinya. Selama ini, Elle selalu pamit padanya sebelum keluar. Namun, ada apa dengan hari ini?
"Kau tahu siapa yang menelepon Elle?" Maverick kembali bertanya setelah diam cukup lama.
"Tidak, Tuan. Yang saya tahu hanya raut wajah Nyonya berubah cemas. Sepertinya, seseorang yang menelepon Nyonya tidak membawa kabar baik," terang Kinan.
"Baiklah." Maverick mengembuskan napas panjang dan kemudian mengakhiri sambungan telepon.
"Elle, ke mana dia? Siapa yang menelponnya dan kabar buruk apa yang dia terima?" gumam Maverick seorang diri.
__ADS_1
Bersambung...