
Sudah genap satu bulan Reyvan terbaring di rumah sakit Barcelona. Bukan hanya Alroy dan Jerry yang menunggui, tetapi Darren dan Kirana juga. Selaku orang tua, mereka bertandang ke sana sejak pertama kali mendengar kabar tentang anaknya. Selain mereka, kakak dan iparnya yang ada di Bali pula datang menjenguk. Namun, beberapa hari lalu mereka pulang karena ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.
Saat ini, kondisi Reyvan mulai membaik. Transplantasi jantungnya berjalan lancar dan dia sudah siuman sejak dua hari yang lalu. Sungguh suatu keajaiban dia bisa bertahan hidup dan sadar seperti sekarang, setelah kemarin koma beberapa hari.
Pagi ini, setelah makan dan minum obat, Reyvan kembali diam di atas atas ranjang. Sebenarnya dia sudah bosan dan ingin menghirup udara segar di luar. Namun, kondisinya belum memungkinkan untuk melakukan itu. Meski sudah membaik, tetapi masih tak boleh banyak bergerak. Reyvan pun mengikuti saran dokter agar lekas pulih dan keluar dari sana.
Ketika Reyvan masih larut dalam perasaan bosannya, tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari luar. Reyvan menoleh dan sedikit terkejut ketika melihat sosok Elle. Sejak dirinya sadar, baru kali ini Elle menampakkan diri di hadapannya.
"Elle!" sapa Reyvan dengan suara pelan.
Elle tersenyum lebar, sangat menawan di mata Reyvan. Memang dari dulu sampai sekarang, hanyalah Elle yang menempati ruang dalam hati Reyvan.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu? Maaf, aku baru datang sekarang. Kemarin ... masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku juga ... masih datang sendiri, Mama belum bisa ikut karena kebetulan kesehatannya kurang baik." Elle duduk di samping Reyvan dan menatapnya dalam-dalam, seakan takut jika nanti Reyvan menghilang dari pandangannya.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau datang."
Reyvan membalas senyuman Elle sekilas saja. Dia tak ingin berharap lebih, karena wanita itu sudah menikah dan sepertinya juga nyaman bersama suaminya. Berat ataupun tidak, Reyvan harus bisa menghapus perasaannya untuk Elle.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, Rey. Berkat kamu, apa yang selama ini menjadi hak kami sudah kembali. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas jasamu ini," ujar Elle.
Hati Reyvan sedikit nyeri ketika menyebut Maverick dengan kata 'suamimu'. Ah, bunga yang dicintai, telah mekar dalam genggaman orang lain.
"Aku juga minta maaf atas ambisiku yang terlalu besar. Aku sampai bekerja sama dengan orang jahat seperti Tuan Adriano, sampai-sampai ... menyulitkan bisnis Maverick," sambung Reyvan. Ia tak mampu lagi mengatakan 'suamimu', terlalu menyakitkan walau itu adalah kenyataan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Reyvan, Elle menggeleng cepat. Rambut cokelatnya yang terang ikut bergerak dan meriap di sekitar bahu, tampak anggun dan memesona. Tanpa sadar Reyvan kembali terseret dalam kenangan silam, di mana ia bisa membelai mesra rambut itu, dan juga menghirup aroma wanginya yang selalu menenangkan. Kepingan manis, yang kini tinggal puing-puing kenangan. Entah ada kesempatan mengulang atau tidak.
"Kamu tidak perlu minta maaf, karena dengan itu ... kita ada jalan untuk melumpuhkan Om Adri. Ambisimu masih normal, Rey, buktinya kamu mau pindah haluan ketika tahu seperti apa pamanku," ujar Elle, yang kemudian ditanggapi dengan senyuman tipis.
"Kamu lekas sembuh ya, Rey." Elle kembali bicara setelah keduanya diam dalam beberapa saat.
"Iya, terima kasih." Reyvan menatap Elle sejenak, lalu kembali berpaling karena lagi-lagi hatinya terasa sakit. "Ngomong-ngomong ke mana Maverick, kenapa kamu masuk ke sini sendiri?" lanjutnya.
"Mas Maverick ... dia, dia___" Elle mendadak gugup ketika Reyvan bertanya tentang lelaki itu.
Bersambung...
__ADS_1