Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)

Izinkan Aku Mencintai Istrimu (Bukan Jatah Mantan)
Menolak Jujur


__ADS_3

"Uhhhh!


Sebentuk tubuh sintal menggeliat, merenggangkan otot-otot yang terasa nyeri, padahal baru saja terjaga dari mimpi. Lantas, mata biru bening itu perlahan terbuka dan menatap ke sekeliling tempatnya berada. Bukan ranjang kamar, satu hal pasti yang ia sadari.


"Kok aku di sini?" gumam bibir ranum, yang tak lain adalah milik Elle. Ia keheranan mendapati dirinya berada di balkon kamar.


Sesaat kemudian, Elle dikejutkan dengan rengkuhan tangan kekar di pinggangnya. Lantas, Elle menunduk dan mendapati sosok Maverick sedang berada di pangkuannya. Wajah tampan yang tampak lelah itu terlelap sembari memeluk dirinya.


"Semalam___" batin Elle sembari memijit pelipis, berusaha mengingat detik demi detik sebelum dirinya ada di sana.


Elle pun menggigit bibir ketika gambaran semalam sudah tampak jelas di ingatannya. Maverick mabuk, lalu dia menghampirinya dan mencoba menenangkannya. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan. Lelaki itu mengatakan cinta dan menciumnya dengan mesra. Bahkan, sampai sekarang rasa getir khas vodka seakan masih ada.


"Benarkah dia mencintaiku?" ucap Elle dalam hatinya. Lantas, matanya kembali membuka dan menilik wajah Maverick.


Cukup lama Elle terpaku pada sosok itu, tetapi sedikit pun tidak ada getaran cinta dalam hatinya. Berbeda dengan saat ia berdekatan dengan Reyvan. Ah, memang hanya lelaki itu yang dia cintai.


Ketika Elle masih sibuk membayangkan ciuman pertama yang terpaksa ia relakan untuk Maverick, tiba-tiba lelaki itu menggeliat dan menguap. Sesaat kemudian, matanya membuka sempurna dan membalas tatapan Elle.


"Kita ... kenapa begini?" tanya Maverick dengan suara seraknya, sembari bangkit dan merapikan beberapa kancing kemeja yang terlepas.

__ADS_1


"Semalam kamu mabuk, Mas. Dan ... kamu mengeluh pusing, terus tidur di pangkuanku. Aku juga ngantuk, jadi tidak sengaja ikut tertidur." Jawaban Elle sedikit melenceng dari kenyataan, karena sebenarnya semalam Maverick memeluknya sambil terus bicara cinta. Lalu, tidur di pangkuannya sampai dirinya pun ikut tertidur.


"Sorry," ucap Maverick, singkat dan menyiratkan kekecewaan.


"Tidak apa-apa. Mmm ya sudah kalau begitu aku buatkan minum dulu ya," kata Elle sembari bangkit dari duduknya.


"Tunggu!" Maverick menahan tangan Elle. "Aku masih ingin bertanya," sambungnya sambil berdiri dan menjajari tubuh Elle.


Elle gugup seketika, takut jika Maverick membahas tentang semalam. Jawaban apa yang akan dia beri, andai suaminya itu kembali mengungkapkan perasaannya.


"Apa semalam aku macam-macam? Atau ... mungkin mengatakan sesuatu yang menyinggungmu," tanya Maverick.


Elle menggeleng cepat, "Tidak. Kamu hanya ... meratapi kepergian Aurora. Sama sekali tidak macam-macam, apalagi menyinggungku."


"Tentu saja tidak. Memang hanya itu kok yang kamu lakukan." Elle berusaha tersenyum, meyakinkan Maverick bahwa semalam memang tidak terjadi apa-apa.


"Pergilah! Buatkan kopi yang pahit!" Maverick melepaskan genggamannya dengan sedikit kasar, pun dengan deru napas, terdengar berat dan memburu.


"Iya." Elle mengiakan perintah Maverick dan kemudian berlalu pergi dari hadapannya. Kendati dalam hati menangkap kekecewaan dalam sorot mata Maverick, tetapi ia memilih diam. Karena menurut Elle, Maverick seperti itu karena dirinya menyinggung kematian Aurora.

__ADS_1


Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Elle, Maverick menyimpan kecewa karena istrinya tak jujur perihal semalam.


"Sebenarnya aku hanya pura-pura mabuk, Elle. Meskipun aku banyak minum, tapi kesadaranku masih normal. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu jika tahu bahwa aku mencintaimu. Dan sekarang ... semua sudah terjawab. Memang tidak pernah ada aku di dalam hatimu. Ya ... rela tidak rela, aku harus menceraikan kamu," ucap Maverick setelah tubuh Elle tidak terlihat lagi.


Lelaki itu pun mendongak dan menatap hamparan langit yang berhiaskan awan. Terpancar keputusasaan dalam sorot matanya yang penuh kemelut. Takdir, dari dulu selalu mengantarnya pada titik gelap. Dicelakai orang tua angkat, kehilangan kebanggaannya sebagai lelaki, kehilangan wanita yang dicintai, kehilangan seorang anak, dan sekarang lagi-lagi ia kehilangan wanita yang mulai menempati ruang hati.


"Aku pernah berpikir ... orang-orang yang memilih bunuh diri adalah orang bodoh. Tapi ternyata, rasa putus asa itu memang sakit. Aku yang biasanya tegar pun bisa sehancur ini, maka tak heran jika di luar sana banyak yang menyerah pada kematian," gumam Maverick dengan mata yang terpejam.


Sementara itu, Elle sedang di dapur mengaduk kopi untuk suaminya, tiba-tiba salah satu pelayan datang dan memanggilnya.


"Nyonya, ada telfon dari Tuan Alroy. Beliau mencari Anda."


"Oh, sebentar." Elle meletakkan sendok dan membawa secangkir kopi yang sudah jadi. Lantas, berjalan menuju ruang keluarga dan meraih gagang telepon.


"Halo, Kak," sapa Elle dengan sedikit cemas. Pikirnya pasti ada sesuatu yang penting sampai-sampai Alroy menghubunginya lewat telepon rumah. Memang dari semalam, ia tidak memegang ponsel.


"El, Reyvan, El!"


"Kenapa dengan Reyvan?" tanya Elle dengan cepat.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Elle menjatuhkan kopi yang ada di tangannya. Cangkir itu pecah dan kopi panasnya mengenai kaki Elle. Namun, dia tidak peduli. Pikirannya mendadak kosong setelah mendengar penjelasan Alroy, terkait keadaan Reyvan saat ini.


Bersambung...


__ADS_2