
Di dalam ruangan yang mewah dan elegan, seorang lelaki berdiri di dekat jendela sambil mengepulkan asap rokok. Sepasang mata hitamnya menatap bising kota yang ada di bawah sana. Polusi dan terik tak menyurutkan aktivitas orang-orang yang berpacu dengan waktu demi pundi-pundi rupiah.
Lelaki yang tak lain adalah Reyvan, sengaja melepas penat dengan sebatang rokok. Banyak hal yang bersarang dalam pikirannya sekarang, tentang kekasih lama yang kini dalam dekapan pria lain, juga tentang kerja sama dengan Adriano. Untuk pertama kalinya Reyvan berani bertindak jauh demi sebuah ambisi.
"Apa pun konsekuensinya akan kuterima. Selain telanjur maju, ini juga satu-satunya jalan untuk mengambil Elle. Pantang bagiku mengemis dan memohon belas kasih, aku akan merebut dia kembali dengan cara yang elegan. Maverick, jika dulu aku yang kalah darimu, sekarang saatnya kamu yang kalah dariku," batin Reyvan sembari mengisap rokoknya dengan nikmat.
Ketika Reyvan masih berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ternyata Izal yang datang. Dia membawa laporan keuangan bulanan dan menaruhnya ke atas meja.
"Urusan dengan Tuan Jerry apa sudah beres, Tuan?" tanya Izal dengan hati-hati.
Lelaki itu memang tahu jika tuannya memenangkan tender, tetapi dia tak paham dengan urusan selanjutnya. Reyvan sama sekali tak mengatakan apa pun, termasuk tentang kerja samanya dengan Adriano. Hanya satu hal yang Izal tahu, beberapa saat lagi Reyvan akan kembali ke Barcelona, setelah empat hari ini pulang ke Indonesia.
"Sudah." Reyvan menjawab singkat.
Izal terdiam sesaat. Dia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Reyvan tak memberi sempat. Akhirnya dengan terpaksa, Izal pamit undur diri. Namun, pada saat itu pula Reyvan menahannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Izal dengan harap-harap cemas, pasalnya sorot mata Reyvan tidak menggambarkan sesuatu yang baik.
__ADS_1
"Setelah ini langsung ke HRD dan urus surat pengunduran dirimu!" perintah Reyvan. Sontak saja Izal menganga tak percaya.
"Tapi, Tuan, saya___"
"Bekerjalah dengan seseorang yang benar-benar kau anggap atasan. Tidak perlu di sini dan berpura-pura baik padaku. Aku tidak butuh penjilat dan pengkhianat, Izal," pungkas Reyvan tanpa basa-basi.
"Saya tidak mengerti dengan maksud Anda, Tuan. Saya bekerja untuk Anda, tidak menjilat apalagi berkhianat." Izal berkilah dan berusaha membela diri.
Reyvan meletakkan puntung rokok ke dalam asbak, lantas melangkah mendekati Izal yang tampak gugup dan gemetaran.
"Tuan, saya___"
"Sebenarnya aku juga penasaran, kenapa kamu lebih memilih dia, padahal selama ini aku memberimu gaji yang lumayan besar. Tapi, ya sudahlah. Tidak ada untungnya bertanya ini itu. Aku hanya mau mengingatkan, semoga kamu tidak menyesal." Lagi-lagi Reyvan memotong ucapan Izal.
Izal bergeming di tempat. Dalam hati dia merutuki kebodohannya, begitu mudah tergiur dengan uang, sehingga menerima tawaran Maverick tanpa memikirkan dampaknya.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan memecatmu dengan tidak terhormat. Kau tidak ingin, kan, namamu kumasukkan dalam daftar hitam?" sambung Reyvan setelah melihat Izal terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan. Saya memang bersalah!" Izal menunduk hormat.
"Pergi!"
Tanpa bicara lagi, Izal beranjak dan melangkah keluar dengan perasaan yang tak karuan. Dia kehilangan pekerjaan dan kepercayaan dari Reyvan. Entah akan ke mana dia setelah ini. Izal tak yakin Maverick akan menerimanya sebagai karyawan, setelah dirinya ceroboh dan gagal menyimpan rahasia.
Sementara itu, di kursi kerjanya Reyvan mengembuskan napas kasar. Dia kembali menyulut batang rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Bukan hanya sehari-dua hari Izal bekerja padanya, tetapi sudah bertahun-tahun. Terselip rasa tidak rela ketika memecatnya. Namun, mau bagaimana lagi. Tangan kanannya itu sudah berkhianat, sebuah kesalahan yang teramat fatal.
"Maverick, entah apa salahku padamu. Kau tidak hanya merebut kekasihku, tapi juga orang kepercayaan yang sudah lama bekerja denganku. Tunggu saja nanti, kau akan jatuh dan memohon padaku." Mata Reyvan memicing seiring tangan yang mengepal erat. Emosinya kembali bangkit saat mengingat Maverick dan segala tingkah laku yang merugikannya.
"Tujuh belas persen saham Shane Senor, kau lihat saja bagaimana aku membalasmu dengan itu!" batin Reyvan.
Setelah menerima kerja sama yang ditawarkan Adriano, Reyvan mendapatkan tujuh belas persen saham Shane Senor. Sebelumnya saham itu milik Adriano, yang diperoleh secara bertahap selama dua bulan terakhir. Entah apa yang membuat Adriano menyimpan dendam, Reyvan sama sekali tak diberi tahu masalah itu. Namun, ia pun tak memaksa mencari tahu. Biarlah itu menjadi urusan Adriano dan Maverick. Dirinya cukup menjadi perantara sambil mengeruk keuntungan.
Akan tetapi, Reyvan tak sadar jika ada rahasia besar di balik kerja sama itu. Sebuah rahasia yang mungkin akan membuatnya menyesal dan berubah haluan. Namun, jika rencana sudah berlangsung separuh jalan, apa yang bisa ia lakukan?
Bersambung...
__ADS_1