
Lima tahun yang lalu.
Saat itu usia Aira sekitar 25 tahun, dan dia sudah bekerja di perusahaan yang cukup besar sebagai sekertaris manajer keuangan. Dia hidup berdua bersama ibundanya dengan kehidupan yang cukup sederhana.
Ayahnya sudah lama meninggal karena jadi korban tabrak lari oleh orang yang tidak bertanggung jawab, saat itu Aira masih duduk di bangku sekolah dasar.
Setelah kepergian sang suami ibunda Aira pun terpaksa harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dirinya dan putri semata wayangnya, segala pekerjaan pun beliau ambil demi bisa memenuhi kebutuhan putrinya.
Di saat susah tidak ada uang atau pun beras untuk makan keluarga mendiang suami maupun keluarganya sendiri tidak ada yang mau membantunya, jalankan membantu mereka seakan-akan tidak mengenal dan menganggap ibunda Aira seperti orang asing.
Dan waktu pun terus berjalan sampai usahanya pun tidak mengecewakannya, beliau akhirnya berhasil menyekolahkan putrinya di perguruan tinggi di kampus ternama sampai Aira mendapatkan gelar S1.
Selama sekolah menengah atas dan kuliah Aira pun turut membantu sang ibunda, dia bekerja part time di minimarket sepulang sekolah agar bisa membantu meringankan beban sang ibunda.
Begitu lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus Aira langsung meminta ibundanya untuk berhenti bekerja, karena menurutnya ini lah saatnya dia yang harus bekerja keras untuk ibunda tercinta.
Mereka hidup bahagia dengan kehidupan sederhananya, di rumah kecil peninggalan mendiang ayahnya Aira.
Lalu perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit Aira pun berhasil merenovasi rumah yang hampir roboh itu, dengan uang yang berhasil ia sisihkan. Dia tidak ingin rumah masa kecilnya yang menyimpan begitu banyak kenangan indah tentang dirinya dan keluarga kecilnya hilang begitu saja.
Ibunda Aira sangat terharu dan bangga pada putrinya, selama ini ia ingin sekali memperbaiki rumah peninggalan mendiang suaminya itu. Namun karena ekonominya tidak mencukupi, ia hanya bisa pasrah.
Waktu pun berlalu begitu cepat, saat ini Aira sedang sibuk dengan pekerjaannya. Gadis manis itu terlihat fokus menatap layar komputer dengan diiringi jari jemarinya yang mengetik-etik keyboard tanpa henti.
Saat sedang fokus tiba-tiba ponsel di sebelahnya berdering, Aira pun meraba dan mencari ponselnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Setelah mendapatkan apa yang dia cari lalu Aira pun mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
📞 Iya, Hallo. Ucapan Aira setelah menjawab panggilan tersebut.
📞 Aira, ini ibu Jamilah (tetangga samping rumah Aira yang suka membantu keluarga Aira).
__ADS_1
📞 Iya, kenapa Bu? tanya Aira, kini Aira yang kini terdiam dengan alis yang mengkerut.
📞 Kamu bisa pulang sekarang? Tadi ibu mu pingsan dan sekarang sudah ada di rumah sakit. Ucap Bu Jamilah memberikan informasi dengan suara yang begitu cemas.
📞 Iya Bu, Aira usahain pulang sekarang. Tolong jaga ibu Aira yah Bu sampai Aira tiba di rumah sakit. Kata Aira dengan suara yang begitu khawatir.
📞 Iya nak. Lalu telpon pun terputus setelah Bu Jamilah memberi tahu alamat rumah sakit tempat dimana ibunda Aira di rawat.
Aira pun langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ruangan atasannya.
Tokkkk....tokkkk..... Tokkkk.....
" Iya masuk. sahut dari dalam ruangan.
" Permisi Bu. Ucap Aira sopan sambil masuk ke dalam ruangan atasannya.
" Aira. Ucapan Bu Berta atas Aira saat melihat sosok yang mengetuk pintu ruangannya.
" Iya, terimakasih Bu. Jawab Aira lalu duduk di hadapan atasannya.
" Ada apa Aira? Tanya Bu Berta sambil melepaskan kacamata yang beliau pakai.
" Begini Bu, apa boleh saya izin pulang lebih awal hari ini? Tanya Aira dengan ragu-ragu.
" Apakah terjadi sesuatu yang mendesak? tanya balik Bu Berta sambil menatap wajah Aira dengan serius.
" Saya baru dapat kabar kalau ibu saya masuk rumah sakit Bu. Jawab Aira jujur dengan wajah yang berusaha untuk tetap tenang.
" Ya Tuhan, segeralah pulang Aira. Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaanmu, dan semoga ibumu baik-baik saja. Ucapan Bu Berta yang terkejut sekaligus khawatir.
" Baik Bu, terimakasih. Oh iya Bu data yang ibu inginkan sudah saya kirim melalui email. kata Aira pada atasannya.
__ADS_1
" Aku mengerti, sudah lekas pulanglah temui ibumu. Ucapan Bu Berta menyuruh Aira agar cepat bersiap.
" Baik Bu, kalau begitu saya permisi Bu. jawab Aira sopan lalu keluar dari ruangan atasannya.
Bu Berta hanya menganggukkan kepalanya, Bu Berta adalah orang yang lumayan mengetahui perjalanan sedikit perjalanan kehidupan yang memilukan yang di alami oleh Aira dan ibundanya.
Di kantor Aira lumayan populer dan terkenal sebagai pekerja yang pintar, jujur, cekatan dan bisa diandalkan itulah yang menyebabkan Bu Berta dan yang lainnya menyayangi Aira.
Setibanya di rumah sakit Aira langsung berlari menuju ICU, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit pikiran Aira penuh dengan rasa kecemasan yang luar biasa.
Begitu sampai di dekat ruangan itu ia melihat Bu Jamilah yang sedang berdiri dengan cemas, Aira pun menghampiri wanita paruh baya tersebut.
" Bu, bagaimana keadaan ibu saya? Tanya Aira begitu sampai di hadapan Bu Jamilah.
" Oh Aira. Syukurlah kamu sudah datang, ibu masih belum tahu bagaimana kondisi ibumu. Tapi tadi ada suster yang mencari mu sebagai keluarga pasien. Jawab Bu Jamilah sambil memberikan air minum untuk air.
" Terima kasih Bu, ibu pulang saja kasih gio ditinggal sendiri di rumah. Ucap Aira sambil menerima air minum dari Bu Jamilah.
" Hemmmmm......... Baiklah ibu pulang yah, kalau ada apa-apa yang terjadi pada ibumu telpon ibu Aira. Ucap Bu Jamilah yang sedikit ragu meninggalkan Aira seorang diri, namun dirinya juga tidak bisa meninggalkan putranya yang masih kecil di rumah seorang diri.
Aira hanya mengangguk dan tersenyum lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Jamilah, dan tak berselang lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut. Aira pun bergegas menghampiri dokter tersebut.
" Dok, bagaimana keadaan ibu saya? Tanya Aira langsung pada dokter tersebut.
" Ikut lah keruangan saya, biar saya jelaskan tentang kondisi ibumu. Jawab sang dokter menatap Aira sebentar lalu ngajak Aira ke ruangannya.
Aira pun patuh dan mengikuti sang dokter, tentunya dengan di ikuti oleh suster yang menjadi asisten dokter tersebut. Begitu sampai di ruang dokter tersebut Aira pun masuk ke dalam ruangan itu.
" Duduklah. Ucapan sang dokter mempersilahkan Aira untuk duduk.
" Terima kasih dokter. Jawab Aira lalu duduk di hadapan sang dokter.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan ibu saya dokter. Tanya Aira dengan wajah yang serius dan juga cemas.