
Setelah kepergian orang tersebut, Aira dan ibundanya pun bergegas merapikan barang bawaan mereka. Keduanya terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
" Bagaimana Bu? Tanya Aira di sela-sela waktu dia membongkar kopernya.
" Bagaimana apanya? Tanya balik Bu Wulan.
" Maksud Aira itu bagaimana dengan rumah ini? Apa ibu suka? Tanya Aira pada sang ibunda.
" Kalau di bandingkan dengan rumah kita sih masih jauh lebih bagus rumah ini, tapi soal kenyamanan mungkin rumah kita jauh lebih nyaman. Kata Bu Wulan sambil mengingat-ingat rumahnya yang di tinggalkan.
" Maaf yah Bu. Ucap Aira dengan mimik wajah sedih.
" Untuk apa Aira? sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab ibu untuk memastikan kamu baik-baik saja serta menemani kamu kemana pun kamu pergi selama kamu belum berkeluarga. Kata Bu Wulan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Makasih Bu. Jawab Aira sambil tersenyum dan memeluk ibundanya.
Bu Wulan pun membalas pelukan putrinya dengan hangat.
" Sepertinya makanan yang akan kita makan sehari-hari akan jauh berbeda dengan makanan yang dulu kita makan. Kata Bu Wulan sambil berpikir dan menatap ke arah dapur yang begitu bagus lengkap dengan perabotan canggih agar mempermudah proses memasak.
" Tenang Bu, di sekitar sini ada toko yang menyediakan berbagai macam jenis kebutuhan sehari-hari dari Asia khususnya dari negara kita tercinta. Kata Aira sambil tersenyum manis.
" Kalau begitu syukur lah ibu jadi tidak perlu makan makanan yang asing untuk lidah ibu. Kata Bu Wulan sambil bernafas lega.
" Dan di samping rumah ada lahan untuk berkebun, jadi kalau ibu bosan ibu bisa berkebun di sana. Kata Aira lagi.
" Ya ampun, akhirnya ibu bisa berkebun juga. Ucap Bu Wulan dengan wajah terkejut sekaligus bahagia.
Bagaimana tidak beliau sangat ingin sekali mempunyai kebun sayur sendiri, namun karena lahan di rumahnya sangat terbatas keinginan itu terpaksa beliau urungkan.
Dan sekarang mendengar bahwa beliau memiliki lahan untuk berkebun sendiri, hatinya sangat senang karena akhirnya impiannya sejak lama terwujud.
" Ibu mau liat? Tanya Aira.
__ADS_1
" Boleh, ayo kita lihat. Jawab Bu Wulan dengan semangat sambil menarik tangan putrinya.
Aira pun bergegas bangkit dari duduknya lalu mengajak ibundanya ke kebun yang berada di samping rumah, begitu melihatnya mata Bu Wulan pun berbinar.
Di sana sudah tersedia lahan yang siap untuk di tanami lengkap dengan berbagai jenis bibit sayuran dan buah-buahan, Bu Wulan pun melihatnya dengan perasaan antusias.
Aira yang melihat ibundanya terlihat bahagia pun ikut bahagia gadis itu pun tersenyum manis sambil mengikuti ibundanya.
" Besok kita cari keperluan ibu untuk berkebun yah? dan belanja kebutuhan sehari-hari untuk kita juga. Kata Aira sambil memeluk ibundanya.
Bu Wulan pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis pada putri semata wayangnya.
Lalu setelah puas melihat-lihat mereka pun kembali masuk ke dalam rumah, mereka melanjutkan beres-beres kemudian baru lah beristirahat.
Singkat waktu sesuatu janji Aira pun mengajak ibundanya membeli keperluan berkebun dan juga kebutuhan sehari-hari untuk mereka.
Sebelum ia mulai sibuk masuk ke kantor, dia harus mengisi full kebutuhan dirinya dan ibundanya.
" Ibu mau cari bibit cabe dan tomat yah Aira? Ucap Bu Wulan begitu turun dari mobil.
" Iya Bu. Jawab Aira ikut turun.
Lalu Bu Wulan pun masuk ke dalam supermarket asia itu di ikuti oleh Aira yang mendorong-dorong troli belanja.
Dengan penuh semangat ibunda Aira mencari-cari kebutuhan untuk dirinya bertempur Aira pun dengan setia mendampinginya ibundanya.
Sambil mengikuti sesekali Aira memberi tahu ibundanya apa arti dari tulisan-tulisan pruduk yang di pegang oleh ibundanya, karena ibundanya kurang begitu paham dengan tulisan bahasa asing.
" Sudah Bu? Tanya Aira.
" Sepertinya sudah, sekarang tinggal beli kebutuhan memasak dan lainnya. jawab Bu Wulan.
Lalu Aira pun mengajak ibundanya ke area kebutuhan pokok seperti beras, ikan, ayam, sayuran, buah-buahan dan kebutuhan lainnya.
__ADS_1
Karena Bu Wulan paling mengerti tentang semuanya Aira pun membiarkan ibundanya untuk memilah-milah sayuran dan buah-buahan yang bagus. Tak lupa Aira juga membeli kebutuhan mandi, sabun piring dan pakaian.
Setelah selesai Aira dan ibundanya pun ngantri di kasir untuk membayar semua yang mereka inginkan, lalu Aira dan ibundanya pun pulang.
Sesampainya di rumah ibunda Aira pun merapikan semua belanjaannya tadi di bantu oleh Aira, setelah itu wanita paruh baya itu pun bersiap untuk memasak makan siang untuk dirinya dan putrinya.
Sementara Aira terlihat duduk di atas ambal ruang tv sambil sibuk membuka laptopnya, karena mendapatkan email gadis itu pun langsung mengecek isi email tersebut.
" Nih minum dan makan ini dulu sambil menunggu makan siang selesai. Kata Bu Wulan pada putrinya sambil memberikan jus dan juga buah potong.
" Terima kasih Bu. Ucap Aira sambil tersenyum manis pada ibundanya.
Lalu kemudian keduanya pun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sambil mengetik-etik mulut Aira jadi sibuk mengunyah buah potong yang ibundanya siapkan
Singkat waktu Aira pun sudah mulai sibuk dengan rutinitas kantornya, pagi-pagi sekali gadis itu sudah berangkat ke kantor. Karena perjalanannya cukup jauh mau tidak mau dia harus berangkat lebih awal.
Bu Wulan pun ikut sibuk mempersiapkan kebutuhan putrinya dari sarapan hingga bekal untuk makan siang. Aira pun ikut turun serta membantu ibundanya di dapur, sambil sarapan bersama.
" Bu Aira jalan dulu yah. ucap Aira berpamitan pada ibundanya.
" Iya, bekalnya awas tertinggal. kata Bu Wulan mengingatkan Aira.
" Iya Bu. Jawab Aira lalu mengecek ulang sebelum keperluannya. " Sudah semua Bu, Aira jalan yah. Kata Aira lalu pergi setelah mencium kening dan memeluk ibundanya.
" Iya hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebutan pelan-pelan saja. ucap Bu Wulan sambil melambaikan tangannya.
Lalu Aira pun pergi, setelah putrinya berangkat Bu Wulan pun mulai mengisi waktunya senggangnya dengan menyibukkan diri, seperti merapikan rumah dan berkebun.
Kehidupannya tampak normal dan berjalan sewajarnya saja, tidak ada yang berubah secara dramatis. Kecuali jika ibu dan anak itu benar-benar tidak bisa bersosialisasi dengan tetangganya, karena tetangga mereka rata-rata sangat tertutup.
Jadi Bu Wulan hanya bisa ngisi waktunya dengan bersih-bersih rumah, berkebun, mencuci pakaian, memasak dan membuat camilan lalu rebahan sambil menonton televisi.
Selama tinggal di sana ibunda Aira tidak pernah bergosip ria sewajarnya ibu-ibu pada umumnya yang suka bergosip yang tetangganya.
__ADS_1