Jagoan Kecilku

Jagoan Kecilku
kenyataan yang begitu pahit


__ADS_3

Dokter diam sejenak, dokter paruh baya itu bahkan memandang susternya sebentar lalu kembali menatap wajah Aira dengan serius.


" Saya masih belum bisa memastikan bagaimana keadaan ibu nona, tapi yang saya yakini beliau mengidap tumor otak. jawab sang dokter dengan wajah serius.


Mendengar jawaban sang dokter dunia dan langit yang menaungi hidup Aira pun seakan-akan hancur berkeping-keping, dunianya seperti tersambar petir yang entah datang dari mana.


Untuk sesaat Aira hanya duduk diam di hadapan sang dokter, gadis itu tanpa sadar menitihkan air matanya. Dokter maupun suster yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa diam, seakan-akan mengerti bagaimana perasaan Aira saat itu.


" Lalu seberapa berbahayanya penyakit itu Dok? tanya Aira yang kini sudah bisa menguasai emosinya.


" Cukup berbahaya tergantung jenis tumor otaknya, saya belum bisa memastikan apakah itu tumor ganas atau bukan karena alat-alat di rumah sakit ini tidak cukup memadai. Untuk mendeteksi jenis tumor tersebut, saya akan memindahkan pasien ke rumah sakit yang lebih besar. jelas sang dokter pada Aira.


" Baik, terimakasih dokter. Ucap Aira sambil mengangguk mengerti.


Kemudian sang dokter mengajukan beberapa pertanyaan pada Aira perihal apa saja yang terjadi pada ibundanya akhir-akhir ini, Aira pun menjawab semua pertanyaan yang ia tahu sementara sang suster mencatat semua keluhan yang di derita ibunda Aira.


Setelah selesai, Aira pun mengisi data sesuai dengan prosedur rumah sakit. Setelah itu ia pun keluar dari raungan sang dokter, dengan langkah letih ia menyusuri setiap koridor rumah sakit.


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibu? Aku tidak ingin ibu kenapa-kenapa.


Ya Tuhan bukannya aku mengeluh atas semua cobaan yang engkau berikan pada kehidupan ku selama ini, tapi belum cukup kah engkau melihat penderitaan yang aku dan ibu alami selama ini.


Mengapa engkau begitu tega memberikan cobaan yang begitu berat ini pada ku tuhan.


Aira hanya bisa menangis dalam diam di taman rumah sakit, dia belum berani melihat sosok ibunda tercintanya yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


Gadis manis itu berusaha mengumpulkan semua kekuatan yang ada dalam dirinya, agar ia bisa tetap tegar menghadapi semua cobaan yang sedang ia alami, dia tidak ingin memperlihatkan kecemasannya pada sosok ibunda tercintanya.


Setelah beberapa saat lamanya Aira pun berjalan menuju ruang rawat ibundanya, dia bahkan sudah membasuh wajahnya terlebih dulu agar tidak membuat ibundanya cemas.


" Ibu, sudah bangun yah? Ucap Aira begitu masuk ke dalam ruang rawat ibundanya dan melihat sang ibunda sudah duduk bersandar di tempat tidur pasien.


" Ibu dimana nak? Tanya balik sang ibunda sambil melihat sekeliling.


" Ibu ada di rumah sakit sekarang. jawab Aira lembut sambil duduk di samping tempat tidur ibundanya.


" Memang ibu sakit apa? Sampai harus di bawa ke rumah sakit. Tanya sang ibunda sambil menatap wajah putri semata wayangnya.


" Ibu tidak sakit kok, cuma sepertinya ibu kecapean karena terlalu banyak kegiatan jadi ibu harus di rawat di rumah sakit dulu. Itung-itung istirahat di tempat yang berbeda oke. Jawab Aira berbohong sambil tersenyum manis meyakinkan sang ibunda bahwa semua baik-baik saja.


Keesokan harinya sesuatu dengan apa yang di katakan oleh dokter, ibunda Aira di pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar di kotanya.


Aira dengan setia menemani sang ibunda, ia juga sudah meminta izin pada Bu Berta jika ia tidak bisa masuk kantor, dan Bu Berta pun mengizinkan serta menanyakan bagaimana keadaan ibundanya Aira.


" Nak, kok kita pindah rumah sakit bukannya pulang? Tanya sang ibunda begitu masuk ke ruang rawat yang baru.


Selama di pemindahan rumah sakit ibunda Aira hanya diam dan mengikuti semua perkataan putrinya, namun karena terlalu banyak pertanyaan yang menumpuk di benaknya ia memutuskan untuk bertanya pada putrinya.


" Dokter ingin memastikan apakah ibu baik-baik saja, di rumah sakit sebelumnya terlalu kecil dan peralatannya tidak memadai Bu. Jadi dokter memindahkan ibu ke rumah sakit yang lebih besar agar tidak terjadi kesalahan diagnosa. Jelas Aira mencoba membohongi sang ibunda.


Mendengar jawaban yang begitu meyakinkan diri sang putri Wulan (ibunda Aira) pun mengangguk mengerti, ia pun hanya bisa pasrah mengikutinya.

__ADS_1


" Tapi bagaimana dengan biaya rumah sakitnya? Pasti sang mahal nak. Ucap sang ibunda yang khawatir jika dirinya membebani putri semata wayangnya.


" Tidak Bu, semua bisa di cover oleh kantor tempat Aira bekerja. Jawab Aira sambil tersenyum manis dan menggenggam tangan sang ibunda dengan lembut.


Lalu dokter dan suster pun muncul yang membuat obrolan ibu dan anak itu terputus.


" Di periksa dulu sama dokter yah Bu. Ucap Aira pada sang ibunda.


Ibundanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu dengan hati-hati dokter pun melakukan pemeriksaan sementara Aira dengan gugup menemani ibundanya.


Setelah itu sang dokter pun berbicara pada suster yang ada di sampingnya.


" Bu kita pindah ke ruangan lain yah. Kata sang dokter muda itu dengan sopan dan lembut.


Ibunda Aira pun menatap wajah putrinya dengan wajah takut, Aira hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya meyakinkan ibundanya.


Lalu suster pun membantu memindahkan pasien ke kursi roda, lalu Aira pun mendorong kursi roda itu perlahan mengikuti sang dokter sambil meyakinkan sang ibunda bahwa semua baik-baik saja.


Sesampainya di depan ruangan Aira di larang masuk ke dalam ruangan tersebut, ia pun dengan berat hati melepaskan kepergian ibunda.


Dengan rasa takut, gelisah, cemas dan khawatir Aira hanya bisa berjalan bolak-balik di depan ruang pemeriksaan itu. Entah kenapa gadis manis itu terlihat begitu kacau menunggu keluarnya sang dokter dari ruangan itu.


Sudah satu jam lebih ibunda Aira berada di dalam ruangan itu, waktu satu jam tersebut terasa berat dan lama bagi Aira. Gadis manis itu benar-benar sudah tidak sabar menunggu ibundanya keluar dari ruangan itu.


Mengapa lama sekali? Apakah terjadi sesuatu pada ibu? Tidak-tidak mungkin terjadi sesuatu pada ibu dokter dan suster sedang bersama ibu, jadi ibu pasti baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2