
Waktu terus berjalan tanpa terasa sudah satu bulan lebih Aira dan ibundanya tinggal di inggris, kini Aira sedang mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Pelan-pelan gadis itu menyetir mobil masuk dan berhenti tepat di depan rumahnya, kemudian Aira pun turun dari mobil.
Begitu Aira turun dari mobil ternyata Bu Wulan pun keluar dari rumah, kemudian berjalan menghampiri Aira.
" Macet? Tanya Bu Wulan.
" Tidak Bu, cuma tadi Aira keluar dari kantor memang agak lama. Soalnya ada berkas yang harus Aira cek terlebih dulu. Jawab Aira sambil membuka pintu mobil lalu membantu ibundanya masuk ke dalam mobil.
Mendengar itu Bu Wulan hanya mengangguk mengerti lalu masuk ke dalam mobil.
" Agak telat tidak apa-apa kan Bu? Tanya Aira pada ibundanya begitu dia masuk ke dalam mobil dan mulai mengemudikan mobilnya.
" Ibu sih tidak apa-apa, tapi dokter bagaimana? tanya Bu Wulan sambil menatap wajah Aira.
" Urusan dokter sudah Aira bereskan, karena kebetulan dokternya juga masih ada jadwal lain. Jawab Aira sambil tersenyum manis pada ibundanya.
" Ya sudah kalau begitu, oh iya tapi kamu sekalian cek up aja yah. Soalnya ibu takut kamu kenapa-kenapa. Ucap Bu Wulan yang khawatir dengan kondisi tubuh mungil Aira.
Karena rasa mual dan tidak nafsu makannya yang di derita oleh Aira belum juga sembuh, itu yang membuat Bu Wulan khawatir dengan kondisi tubuh Aira, mumpung mereka berada di rumah sakit.
" Nanti saja deh Bu, lebih baik ibu fokus pada kesehatan ibu. Jawab Aira yang enggan menjalani periksakan kondisi tubuhnya.
" Tidak, kali ini kamu harus benar-benar di cek. Mungkin sebelum-sebelumnya ibu masih tidak masalah tapi ini sudah terlalu lama, jadi kamu harus sekalian di cek. Kata Bu Wulan menolak jawaban Aira, wanita paruh baya itu sudah sangat cemas akan kondisi putri semata wayangnya.
" Iya deh, Aira akan sekalian cek up juga. Jawab Aira akhirnya mau mengikuti keinginan ibundanya.
Karena tahu ibundanya sedikit marah pada dirinya, Aira pun berusaha membujuk ibundanya agar tidak marah namun wanita paruh baya itu hanya membuang pandangannya ke arah lain.
Aira hanya bisa diam sambil menatap ibundanya, lalu tanpa terasa mereka pun tiba di klinik dokter yang sudah tahu tentang kondisi ibunda Aira dari beberapa waktu lalu, karena belum nya ibundanya Aira di cek di klinik itu juga.
__ADS_1
" Selamat sore suster. Sapa Aira pada suster yang sedang berjaga.
Suster itu pun menjawab dengan sopan sambil tersenyum, lalu Aira pun memberi tahu jika dirinya sudah membuat janji dengan salah satu dokter yang ada di sana.
Setelah itu mereka pun diantara menuju ruangan dokter itu, suster pun mempersilahkan Aira dan ibundanya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
" Permisi dokter. ucap Aira begitu masuk ke dalam ruangan.
" Iya, silahkan masuk. Jawab sang dokter.
Lalu mereka pun berbincang-bincang sebentar kemudian barulah ibunda Aira mulai di periksa oleh dokter tersebut, sementara Aira hanya duduk dan memperhatikan.
Dengan serius sang dokter melakukan beberapa pemeriksaan, kemudian mengecek kondisi bekas pasca operasi dengan wajah yang serius.
Lalu setelah beberapa saat lamanya pemeriksaan pun selesai, dokter pun menjelaskan bahwa kondisi ibunda Aira semakin baik dan luka jahitannya pun perlahan mulai sembuh.
Aira yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil tersenyum manis, lalu kini Aira pun bergantian di cek oleh dokter tersebut.
" Apakah kamu sudah datang bulan? Tanya sang dokter tiba-tiba pada Aira.
Mendengar pertanyaan sang dokter Aira pun tampak terlihat kaget, dia pun mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali dia datang bulan.
Setelah beberapa saat Aira pun baru sadar, lalu wajahnya tampak pucat pasif. Dia benar-benar tidak ingat jika dirinya belum datang bulan.
Ibunda Aira yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan pun mulai terlihat gelisah, apa lagi melihat putrinya hanya diam saja.
" Dokter apakah putri saya baik-baik saja? Tanya Bu Wulan sambil berdiri dan memegang tangan putrinya.
Dokter pun terlihat mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan oleh ibunda Aira. Karena Bu Wulan bertanya dengan menggunakan bahasanya sendiri yang membuat sang dokter bingung.
Aira yang mendengar pertanyaan ibundanya pun akhirnya tersadar, lalu dia dengan segera mengambil alih bertanya pada sang dokter.
__ADS_1
" Yah, saya memang belum datang bulan. jawab Aira pada sang dokter dengan menggunakan bahasa inggris
" Oke, kalau begitu saya akan periksa kembali di takutkan saya salah mendiagnosis. jawab sang dokter kembali memeriksa kondisi Aira.
Namun untuk kali ini sang dokter fokus memeriksa kondisi perutnya Aira saja, di khawatirkan terjadi sesuatu di area dinding rahim Aira.
Setelah beberapa saat kemudian dokter pun sudah menemukan jawabannya, lalu sang dokter pun duduk di kursinya kemudian Aira pun ikut duduk bersama ibundanya di hadapan sang dokter.
" Selamat anda sedang hamil, usia kehamilannya sudah masuk 10 Minggu. Saya harap anda bisa lebih memperhatikan kondisi tubuh anda dan buah hati anda, karena ini demi kebaikan ibu dan si kecil. Kata sang dokter memberi ucapan selamat sambil tersenyum pada Aira.
Aira pun hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sementara ibunda Aira yang sejak tadi berada di samping Aira hanya diam tanpa ekspresi.
Lalu setelah beberapa lamanya keduanya pun keluar dari klinik, Aira pun mulai mengemudikan mobilnya dengan perasaan campur aduk.
Sementara ibunda Aira hanya diam sejak dokter menyatakan bahwa putrinya hamil, wanita paruh baya itu hanya membuang pandangannya ke arah luar jendela.
" Bu, mau makan apa? Kita makan di luar saja yah? Soalnya ibu pasti capek kalau harus masak makan malam. tanya Aira sambil menatap ibundanya.
" Anak siapa itu? Tanya balik ibunda Aira tanpa menoleh ke arah putrinya.
Deg..... Mendengar pertanyaan itu, jantung Aira pun berdetak kencang, dia bener-bener lupa jika ada ibundanya.
" I....i....itu tidak seperti itu Bu, emmmm...... Itu Aira hanya, hanya. Ucap Aira dengan gugup.
" Walaupun ibu tidak begitu pintar dalam bahasa Inggris tapi ibu masih bisa mengerti beberapa kata Aira, di tambah hasil USG itu sudah sangat jelas kalau kamu sedang hamil Aira. Kata Bu Wulan dengan surat yang lumayan keras dan kini wanita paruh baya itu menatap wajah putrinya dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.
" Ma... Ma... maafkan Aira Bu, Aira sudah bersalah. Kata Aira sambil ikut menangis dan meminta maaf pada ibundanya.
" Kamu boleh membohongi ibu tentang hal apapun Aira, tapi tidak untuk hal seperti ini. Kata Bu Wulan lagi masih dengan nada bicara yang sama.
Aira hanya bisa menangis dan terus meminta maaf kepada ibundanya.
__ADS_1
" Siapa ayah dari anak itu? Tanya Bu Wulan dengan nada suara rendah sambil menatap wajah Aira dengan tatapan mata yang tajam.