
" Aira sudah mengundang teman-teman kantor Aira untuk acara makan-makan weekend ini sesuai dengan yang ibu katakan, dan mereka setuju. Ucap Aira memberi tahu ibundanya.
" Baguslah kalau begitu, ibu jadi senang jika rumah ini ramai. jawab Bu Wulan sambil mengelus-elus perut putrinya.
" Tapi bukannya akan sangat melelahkan ibu, ibu jadi harus masak banyak jika mereka datang ke sini. Kata Aira yang tak tega melihat ibundanya kecapean.
" Tidak nak, ibu justru senang melakukannya. Apalagi teman-teman kantor mu sangat ramah dan sopan, segala sesuatu yang di lakukan dengan perasaan senang itu akan berjalan mulus nak. Ucap Bu Wulan lalu mengelus lembut kepala putri semata wayangnya.
" Di tambah peralatan dapur di sini sangat canggih, ibu jadi tidak perlu bersusah payah soal memasak. sambung wanita paruh baya itu sambil tersenyum manis pada putrinya.
" Ya sudah kalau begitu, kalau itu memang keinginan ibu, Aira ikut senang mendengarnya. Ucap Aira sambil tersenyum manis pada ibundanya.
" Aduhhh...... tiba-tiba Aira mengaduh sambil memegang perutnya.
" Kenapa nak? Sakit? Tanya Bu Wulan dengan wajah panik sambil memegang perut putrinya.
" Ini Bu, bayinya barusan nendang perut Aira keras banget. Aira jadi kaget. kata Aira sambil melihat perutnya yang bergerak-gerak karena ulah bayi yang ada di dalam kandungannya.
" Kamu ini bikin kaget saja, ibu samping takut kamu tiba-tiba mau lahiran. Ucap Bu Wulan sambil mengelus dadanya karena terkejut.
" Maaf Bu. Ucap Aira sambil tertawa cengengesan. " Tapi akhir-akhir ini dia sangat aktif Bu, terkadang Aira terbangun karena tendangannya. Ucap Aira lagi menceritakan jika sudah beberapa kali dirinya bangun tengah malam karena ulah bayinya.
" Syukurlah berarti dia sehat. Ucap Bu Wulan.
" Iya Bu. Jawab Aira.
Lalu keduanya pun makan malam bersama, setelah itu Aira pun membantu ibundanya merapikan meja makan. Barulah setelahnya dia masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih dan beristirahat, begitu juga dengan Bu Wulan.
Setelah selesai Aira pun duduk bersandar di tempat tidurnya sambil melihat semuanya keperluan untuk bayinya yang sudah dia beli bersama ibundanya.
" Aku tidak pernah menyangka akan memiliki buah hati di usia ku sekarang, mungkin ini takdir hidup ku. Di balik semua cobaan ini aku bisa belajar lebih kuat lagi. Kata Aira pada dirinya sendiri sambil mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
Kemudian Aira pun seperti biasa mengajak bayi yang ada di dalam kandungannya mengobrol dan bahkan Aira juga membacakan dongeng untuk bayinya itu. Sesuai anjuran dokter kandungan Aira.
Setiap kali Aira berbicara bayinya selalu memberikan respon, seakan-akan bayi itu mengerti dan paham dengan apa yang di katakan oleh ibundanya.
Waktu terus berlalu tanpa terasa sudah hampir tengah malam Aira pun terlelap setelah mengucapkan selamat malam pada bayinya.
Dan kini tanpa terasa waktu yang di tunggu-tunggu oleh rekan-rekan Aira pun tidak, saat ini Aira tengah membantu ibundanya memasak di dapur.
" Bu ini mau di taruh dimana? Kata Aira sambil memegang piring besar yang berisi makanan.
" Kamu taruh di situ saja, nanti biar ibu yang bawa. Jawab Bu Wulan.
" Oke Bu. ucap Aira.
Lalu Aira pun beralih menggoreng pisang yang sudah siap untuk di goreng, sementara Bu Wulan masih sibuk menyiapkan makanan utama.
Setelah beberapa saat lamanya, tiba-tiba saja ada seseorang memencet bel. Aira pun berjalan menuju pintu dan kemudian membukanya.
Rekannya itu hanya cengengesan mendengar pertanyaan Aira, ia tahu jika dirinya terlalu awal datang ke rumah Aira. Dengan wajah yang pura-pura tidak bersalah dia langsung memberikan bingkisan yang dia bawa pada Aira kemudian berjalan masuk.
" Siapa yang datang Aira? Tanya Bu Wulan namun tiba-tiba saja seseorang itu pun menghampirinya.
" Ibu, apa kabar? Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah ada yang bisa aku bantu? Ucap rekan Aira yang sudah ada di hadapan Bu Wulan lalu dia dengan senang memeluk Bu Wulan.
" Kamu terlalu awal datang. Kata Aira pada rekannya sambil meletakkan bingkisan dari rekannya itu di atas meja.
" Tidak apa-apa, aku sengaja datang lebih awal agar bisa membantu ibu dan kamu Aira. Jawab rekan Aira.
" Tapikan..... Belum selesai Aira melanjutkan perkataannya.
" Sudah tidak apa-apa Aira. Ucap Bu Wulan memotong perkataan Aira.
__ADS_1
" Kamu sudah sarapan? Tanya Bu Wulan pada rekan putrinya itu.
Karena tidak mengerti apa yang di katakan oleh ibunda Aira, rekannya pun melihat ke arah Aira seperti meminta penjelasan apa yang di katakan oleh Bu Wulan.
Seakan mengerti arti dari tatapan mata itu, tanpa sadar terbesit niat jahil untuk mengerjai rekannya itu.
" Ibu tanya apakah kamu sudah mandi dan gosok gigi. Ucap Aira berbohong.
" Sudah Bu. Jawab rekan Aira dengan wajah polosnya pada Bu Wulan.
" Kamu jangan mengarang Aira, kamu tidak boleh begitu. Ucap Bu Wulan sambil memukul pelan punggung putrinya.
Lalu Bu Wulan pun mengatakan dengan gerakan tangan pada rekan Aira, setelah itu dia pun menjawab jika dirinya belum sarapan. Setelah itu Bu Wulan pun menyajikan nasi kuning lengkap pada rekan kerja Aira.
Dengan senang dia pun menyantap sarapan yang telah di hidangkan oleh ibunda Aira, sementara Aira hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
" Kau benar-benar menumpang sarapan pagi di rumah ku. kata Aira yang sedang membuat makanan penutup.
Mendengar perkataan itu rekan Aira hanya tertawa, lalu setelah itu dia pun membantu Aira dan ibundanya. Bu Wulan sempat tidak memperbolehkannya namun karena dia memaksa, wanita paruh baya itu pun akhirnya membiarkan rekan kerja Aira untuk membantu.
Lalu setelah beberapa saat satu persatu rekan-rekannya Aira pun tiba di rumah Aira, kemudian mereka pun mulai makan siang bersama sambil mengobrol dan menikmati makanan yang sudah di sajikan oleh Bu Wulan dan juga Aira.
Rekan-rekannya Aira terus memuji-muji masakan ibunda Aira yang sangat enak, mereka bahkan nambah beberapa kali.
Lalu setelah itu mereka pun menyantap makanan penutup sambil duduk-duduk di teras rumah Aira menikmati sinar matahari dan angin sepoi-sepoi karena cuaca saat itu di inggris lumayan cerah.
Saat sedang asyik mengobrol dan bercanda tawa tiba-tiba saja air ketuban Aira pecah, sontak rekan-rekannya pun panik bukan main termasuk Bu Wulan
Dengan panik salah satu rekan Aira pun membopong tubuh Aira masuk ke dalam mobil, lalu yang lain pun ikut bersama dengan Bu Wulan.
Saking kagetnya Bu Wulan hanya membawa beberapa keperluan si bayi tanpa berpikir panjang, karena memang Bu Wulan tidak memperkirakan jika putrinya akan lahiran lebih awal dari jadwal yang di tentukan.
__ADS_1
Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Aira tampak begitu kesakitan, Bu Wulan dan rekan-rekan kerja Aira yang perempuan pun ikut panik saat melihat Aira.