Jagoan Kecilku

Jagoan Kecilku
makan malam


__ADS_3

Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruangan tersebut, dan terlihat sang dokter sedang berbicara dengan susternya sementara Aira perlahan berjalan menghampiri sang dokter.


" Bagaimana dok? Tanya Aira begitu suster yang berbicara dengan sang dokter pergi.


" Dengan keluarga pasien? Tanya balik sang dokter memastikan.


" Bener Dok, saya putri dari pasien. jawab Aira sambil menganggukkan kepalanya.


" Bisa ikut ke ruangan saya? Ada yang ingin saya bicarakan. Kata sang dokter sambil membuka kacamatanya dan menatap Aira.


" Bisa Dok. Jawab Aira dengan cepat.


" Mari. kata sang dokter dengan ramah mengajak Aira.


Keduanya pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit, sesampainya di ruangan sang dokter suster tadi sudah berdiri menyambut kedatangan keduanya. Lalu mereka pun masuk ke dalam ruangan.


" Seperti yang di katakan dokter Handoko (nama dokter di rumah sakit sebelumnya yang mendiagnosa penyakit ibunda Aira) ibu nona mengidap tumor otak dan jenis tumornya adalah tumor ganas. Ucap sang dokter langsung to the poin.


Walaupun sakit Aira tetap tegar dan kuat menelan kenyataan yang ia alami saat itu.


" Lalu apakah ada pengobatan yang bisa di lakukan untuk mengobati penyakit tersebut? Tanya Aira dengan suara yang bergetar.


" Tentu, selama pasien mau berusaha untuk sembuh. Saya sebagai dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasien saya. Jawab sang dokter meyakinkan Aira.


" Terima dokter. Jawab Aira.


" lalu ini hasil pemeriksaan tadi. Kata dokter tersebut sambil menunjukkan hasil USG kepala ibunda Aira.


Aira pun memperhatikan gambar yang ada di hadapannya, lalu sang dokter pun menjelaskan letak dan ukuran tumor tersebut pada Aira.


" Baik dokter, sekali lagi terimakasih. Ucap Aira pada sang dokter sambil menjabat tangan sang dokter.

__ADS_1


" Iya nona sama-sama, saya akan pastikan jika ibu nona pasti akan baik-baik saja. kata dokter muda itu sedikit menghibur Aira, Aira hanya mengangguk dan tersenyum lalu keluar dari ruangannya.


" Tumben sekali dokter menghibur keluarga pasien. Celetuk suster yang sedari tadi hanya diam di belakang sang dokter.


" Aku tidak sedang menghiburnya sus, aku hanya ingin dia percaya pada pihak rumah sakit dan tidak khawatir. Jawab sang dokter memberi alasan.


Lalu Aira pun menemui ibunda sambil memegang hasil tes pemeriksaan tadi, sesampainya di ruangan ibundanya Aira langsung menyembuhkannya.


" Ibu, bagian keadaan ibu? Apakah ibu lapar? Tanya Aira yang berusaha bersikap seperti biasanya.


" Tidak, ibu tidak lapar nak. Jawab sang ibunda. " Aira anak ibu, apa yang dokter katakan? Sambung sang ibunda sambil menggenggam tangan putri semata wayangnya.


" Tidak, ibu baik-baik saja kok. Ibu hanya terlalu banyak beraktivitas dan sekarang tubuh ibu memerlukan banyak waktu istirahat. Kata Aira masih berusaha menyembunyikannya kenyataan dari sang ibunda.


" Nak, kamu itu putri ibu satu-satunya. Ibu yang membesarkan mu seorang diri dan menyaksikan pertumbuhan mu sampai saat ini, jadi ibu tahu betul jika kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ibu. Kata sang ibunda tetap ingin putrinya jujur.


Mendengar ucapan sang ibunda seketika Aira pun langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu, gadis manis itu pun menangis dengan begitu sedih dalam pelukan sang ibunda.


" Huhuhuhu....... Ibu pasti akan baik-baik saja, Aira akan melakukan apapun agar ibu tetap baik-baik saja dan tetap bersama Aira. Tidak perduli apapun itu, Aira akan melakukan semua yang Aira bisa untuk ibu. Kata Aira di iringi tangisan.


Karena sedari kecil Aira memang bukan anak yang cengeng, gadis itu cenderung lebih banyak menyembunyikan perasaannya. Namun ibundanya pasti akan mengetahui jika ada sesuatu yang mengganggu putrinya.


Sejak saat itu Aira hanya bulak balik kantor dan rumah sakit, dia tidak ingin meninggalkan ibundanya barang sebentar pun. Dia selalu berusaha ceria jika berada di depan ibundanya.


" Sedang apa? tanya seseorang dari arah belakang.


" Ahhhh...... Dokter. Ucap Aira yang sedikit terkejut kala menyadari jika dokter yang merawat ibundanya ada di hadapannya.


" Sedang apa melamun di sini sendiri? masih mengulangi pertanyaan yang sama sambil duduk di samping Aira.


" Hmmmmm...... Ha hanya mencari udara segar. Jawab Aira dengan canggung.

__ADS_1


" Tidak usah terlalu di pikirkan nanti akan menjadi beban pikiran untukmu nona, saya kan sudah mengatakannya jika saya akan melakukan yang terbaik untuk ibunda nona. Kata dokter muda itu yang seakan mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh gadis yang ada di sampingnya.


Aira tak menjawab dia hanya tersenyum simpul pada dokter muda itu.


" Lagi pula sejauh ini kemoterapi yang ibunda nona jalani berjalan lancar, tidak ada gejala apapun yang di deritanya ibunda nona. Kata dokter muda itu lagi masih berusaha meyakinkan Aira untuk tetap optimis.


" Iya dok, sekali lagi terimakasih sudah merawat ibu saya dengan sangat baik. Jawab Aira lembut masih dengan tetap mempertahankan senyumannya.


" Apakah nona sudah makan malam? iseng bertanya.


Aira sempat mengerutkan keningnya melihat sosok dokter yang ada di sampingnya itu. " Su sudah. Jawab Aira pendek.


" Wahhhh...... Sayang sekali yah, padahal saya sedang mencari teman untuk makan malam bersama. Kata si dokter muda itu masih berusaha mendekati pada Aira.


Aira hanya tersenyum canggung mendengar ucapan sang dokter, sejujurnya Aira adalah gadis yang tergolong cuek pada lawan jenisnya. Dia bukan gadis centil yang selalu berusaha mendapatkan perhatian dari lawan jenisnya apalagi pria itu menawan, gadis itu cenderung menghindari dan menjauh dari lawan jenisnya.


" Apakah nona bersedia menemani saya makan malam? tanya sang dokter blak-blakan.


" Ehmmmmmm......... Seperti tidak bisa. Jawab Aira yang menolak permintaan dokter muda itu.


" Hanya sebentar nona. Masih berusaha.


" Ehhmmmmm....... Baiklah, tapi saya tidak bisa terlalu lama menemani dokter karena saya harus mengecek kondisi ibu saya. Kata Aira akhirnya menurut keinginan sang dokter, dia merasa tidak enak jika terus menerus menolak permintaan dokter yang merawat ibundanya itu.


" Beres nona. Jawab dokter itu dengan gembira.


Sebenarnya ini bukan ajakan pertama kalinya dari dokter muda itu, dokter muda itu sudah sering mengajak Aira makan bersama. Namun Aira selalu menolaknya dengan berbagai alasan.


" Mari silahkan masuk. Ucap si dokter sambil membukakan pintu mobil untuk Aira.


" Apakah dokter akan makan diluar? Tanya Aira dengan wajah bingung.

__ADS_1


" Aku sudah terlalu sering makan makanan yang ada di kantin rumah sakit, jadi aku ingin mencobanya di tempat yang berbeda. Ayo cepat naik nanti bisa kemalaman. Katanya sambil menyuruh Aira untuk masuk ke dalam mobil, ia takut jika Aira berubah pikiran.


Dengan wajah bingung Aira pun masuk ke dalam mobil si dokter muda tersebut, lalu mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2