Jagoan Kecilku

Jagoan Kecilku
Langsung lamar


__ADS_3

Hari berganti hari, tak terasa sudah hampir dua bulan ibunda Aira menjalani perawatan di rumah sakit. Selama itu juga Aira bekerja keras.


Sore ini gadis itu pulang kantor lebih awal karena pekerjaannya telah usai. Jadi Aira memilih untuk pulang agar bisa menemani sang ibunda.


Saat sedang menunggu bus yang biasa di naikin oleh Aira tiba-tiba sebuah mobil mewah menepi tepat di depan Aira, lalu tak berselang lama kaca mobil pun diturunkan.


" Aira.... Sapa seseorang yang muncul dari dalam mobil tersebut.


" Tante Prita. Gumam Aira.


" Sedang apa disini? Tanya Bu Prita pada gadis manis itu.


" Menunggu bus Tante. Jawab Aira sopan sambil mendekat pada Bu Prita.


" Naiklah. Kata Bu Prita mengajak Aira masuk ke dalam mobilnya.


" Tapi........


" Kamu mau ke rumah sakit kan? tanya Bu Prita memotong perkataan Aira.


Aira pun menganggukkan kepalanya.


" Kita kebetulan satu arah, dari pada menunggu bus akan memakan waktu lama karena di jalan sana terjadi kecelakaan. Jadi naiklah Aira. kata Bu Prita sambil meminta agar Aira naik ke mobilnya.


Mendengar ucapan Bu Prita Aira pun dengan berat hati masuk ke dalam mobil mewah itu, lalu mobil itu pun mulai berjalan perlahan.


" Ohhhhhh...... perkenalkan Aira, ini suami Tante sekaligus papahnya Vino. kata Bu Prita memperkenalkan pria paruh baya yang duduk di sampingnya.


" Salam Om, saya Aira. Ucap Aira memperkenalkan diri dengan sopan sambil tersenyum.


" Saya Doni Wiranto, kamu pacarnya Vino? Ucap pria paruh baya itu memperkenalkan diri sambil melempar pertanyaan yang blak-blakan.


" Ha ha ha....... Bukan Om, saya hanya putri dari seorang pasien yang di rawat oleh dokter Fahri. Jawab Aira dengan tenang dan jujur sambil diselingi tawa.


" Oh gitu. Kata pak Doni sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. " Berarti Vino nya saja yang terlalu menghayal, jika kamu itu kekasihnya. Sambung pak Doni lagi yang membuat Aira hanya tersenyum canggung.

__ADS_1


" Papah apaan sih kok ngomongnya begitu, Aira jadi bingung kan. Ucap Bu Prita sambil memukul pelan tangan suaminya.


Plakkkk........ " Sakit mah. kata pak Doni sambil mengelus tangannya yang di pukul oleh sang istri.


" Aira kamu habis dari mana? Tanya Bu Prita lembut pada Aira.


" Baru pulang kerja Tante. Jawab Aira.


" Ohhhh...... Ternyata tempat kerja kamu di sekitar sini. ucap Bu Prita yang baru mengetahuinya.


" Kalau di sekitar sini berarti kamu bekerja di kantor Jxxxx atau Pxxxx. Tanya pak Doni tiba-tiba.


" Tidak Om, kebetulan saya bekerja di perusahaan Wxxxx. Jawab Aira jujur.


" Serius kamu bekerja di perusahaan itu? Tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Aira.


Aira hanya mengangguk-anggukkan kepalanya bingung lalu ia pun menunjukkan kartu karyawannya pada pak Doni, pak Doni pun menerimanya dan membacanya sementara Bu Prita dan Aira terlihat bingung.


" Wahhhhhh....... Hebat kamu masih muda sudah memiliki jabatan setinggi ini. Kata pak Doni tiba-tiba memuji Aira.


Lalu ketiganya pun berbicara dengan santai, sesekali Bu Prita menanyakan kondisi ibunda Aira. Aira pun menceritakannya dengan raut wajah sedih.


Karena memang sejauh ini belum ada perkembangan pada penyakit yang di derita ibunda Aira, yang membuat Aira sangat frustasi.


Tak berselang lama Aira pun tiba di rumah sakit, sebelum turun dari mobil Aira mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Prita mau pun pak Doni dan juga pak supir.


" Anak yang baik yah mah. Ucap pak Doni begitu Aira turun dari mobil sambil melihat gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


" Iya pah, mamah juga suka selain cerdas Aira itu memiliki attitude yang baik. jawab Bu Prita.


" Maaf nyonya, tuan. Apakah nona yang barusan itu kekasih tuan Vino? Tanya pak supir pada kedua majikannya.


" Iya dia calon menantu kami. Jawab pak Doni.


" Tidak pak, itu masih jauh. Vino saja masih belum mendapatkan hatinya, masih sang panjang untuk ke tahap itu. kata Bu Prita tidak membenarkan jawaban suaminya.

__ADS_1


" Kalau begitu kenapa tidak langsung melamarnya saja kan beres. Ucapan pak Doni memberi saran nyeleneh.


" Itu namanya pemaksaan pah, mana bisa begitu. Segala sesuatu membutuhkan proses dan perjuangan pah, jika melalui itu semua maka hubungan tersebut akan terasa lebih berharga dan bermakna. Kata Bu Prita sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya.


" Dari pada keburu di lamar orang lain coba, mending bergerak lebih awal. Masih menjawab karena merasa jika memikirkannya adalah yang terbaik.


" Memang itu papah, yang apa-apa harus cepat-cepat. Jika Vino melakukan hal yang seperti papah lakukan dulu pada mamah, belum tentu Aira menerimanya mengingat sosok keluarga satu-satunya yang berharga yang ia miliki sedang berjuang hidup dan mati. Gadis itu tidak mungkin mau menerimanya, dia pasti akan lebih memilih fokus pada kesehatan ibundanya dari pada kebahagiaannya sendiri. Jelas Bu Prita panjang lebar.


Mendengar ucapan istrinya pak Doni pun akhirnya diam dan mengerti, sementara pak supir yang sedari tadi mendengarkan pertikaian sepasang suami istri itu pun hanya tersenyum kecil.


Sepertinya untuk kali ini pun nyonya yang jadi pemenangnya.


Sementara itu di rumah sakit kini Aira tengah duduk di samping ibundanya, gadis itu hanya memperhatikan ibundanya yang sedang tertidur pulas.


Cepatlah sembuh yah Bu, agar kita bisa pulang ke rumah. Aira sudah sangat merindukan kebersamaan kita menghabiskan waktu bersama di rumah.


" Aira. panggil dokter Fahri yang baru masuk ke dalam ruang rawat ibunda Aira. " Kamu sudah pulang? Tanyanya sambil berjalan menghampiri Aira.


Aira hanya mengangguk dan tersenyum. " Mau periksa kondisi ibu yah? Tanya Aira.


" Iya, tadi siang aku mengecek kondisi beliau tekanan darahnya sangat rendah. Tapi aku sudah meminta suster untuk memasukkan vitamin ke dalam makanan beliau, dan sekarang aku ingin mengeceknya lagi. Ucap Fahri menjelaskan pada Aira.


Aira pun mengangguk mengerti lalu mempersilahkan dokter Fahri untuk mengecek kondisi ibundanya, Fahri pun mulai mengecek kondisi Bu Wulan.


Setelah beberapa pengecekan terlihat kening Fahri mengkerut, ia pun meletakkan stetoskopnya ke dada Bu Wulan. Sementara itu Aira yang sedari tadi memperhatikan Fahri pun cemas apalagi saat melihat wajah Fahri yang begitu serius.


" Ibu saya kenapa Dok? Tanya Aira yang sudah khawatir.


" Sus tolong siapkan ruang ICU nya, kita harus segera memindahkan pasien ke ruang ICU. Ucap Fahri pada suster yang sedari tadi ada di belakangnya.


" Ibu saya kenapa Dok? Tanya Aira lagi setelah mendengar instruksi dokter Fahri pada sang suster.


" Ibu mu koma Aira. Jawab Fahri cemas sambil mendorong tempat tidur yang digunakan Bu Wulan menuju ruang ICU bersama beberapa suster lain.


Dengan panik dan juga rasa cemas yang berlebihan Aira pun ikut mendorong tempat tidur itu, sambil memanggil-manggil sang ibunda di iringi isak tangis.

__ADS_1


__ADS_2