
Sepanjang perjalanan menuju restoran Aira hanya diam sambil memandang ke arah luar kaca mobil, gadis itu tidak sedikitpun melirik apalagi mengajak ngobrol dokter muda yang berada di sampingnya itu.
" Ehemmmmmm........ Suara dokter muda itu memecahkan keheningan.
Aira pun menoleh ke arah dokter muda yang sedang menyetir mobil.
" Apa dokter sedang flu? Tanya Aira dengan wajah serius.
" Hemmmmm...... Tidak. Jawab sang dokter.
Mendengar jawaban sang dokter Aira menganggukkan kepalanya lalu kemudian diam lagi, melihat Aira cuek kembali dokter muda itu kembali melancarkan aksinya.
" Oh iya, kamu bekerja dimana? Tanya sang dokter berusaha mengajak ngobrol Aira.
" Di perusahaan xx. Jawab Aira pendek.
" Oh, Keren sekali kamu bisa masuk ke perusahaan itu yah. Yang aku dengar perusahaan itu cukup selektif dalam memilih karyawannya. Kata dokter muda itu.
" Mungkin saya hanya beruntung saja. Jawab Aira sekenanya.
" Oh iya, kita belum berkenalan. Namaku Alvino Fahri Wiranto kamu bisa memanggil ku vino atau Fahri asal jangan Wiranto karena itu nama keluarga, siapa namamu nona? kata dokter muda itu berusaha mengajak Aira bercanda sambil memberikan tangannya agar bisa berjabat tangan dengan Aira. Sejujurnya Fahri sudah mengetahui nama Aira namun dia ingin berkenalan secara langsung.
" Nama saya Aira Puspita Maharani Dok, dokter bisa memanggil saya Aira. Jawab Aira sambil menyambut jabatan tangan dokter Fahri.
" Kok masih memanggil ku dengan profesiku sih? Aku kan sudah memberi tahu namaku. Kata dokter Fahri komplain pada Aira.
" Iya dok.... Maksud saya Fahri. Jawab Aira akhirnya memanggil nama dokter muda itu sambil berusaha tersenyum manis.
Lalu keduanya pun tiba di sebuah restoran yang cukup mewah, Fahri pun memarkirkan mobilnya lalu mengajak Aira turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran tersebut.
" Dokter Fahri, apakah anda benar-benar ingin makan di sini? Tanya Aira begitu duduk di kursi tamu VVIP.
" Iya, memangnya kenapa? Tanya balik Fahri sambil melihat buku menu.
" Sepertinya dokter salah membawa orang. Ucap Aira ambigu.
__ADS_1
Fahri pun mengerutkan keningnya bingung dengan maksud diri perkataan Aira.
" Maksud saya seharusnya dokter mengajak kekasih anda makan bersama di tempat ini bukan malah mengajak saya. Kata Aira menjelaskan perkataannya tadi.
" Ohhhhhh gitu...... Ayo lah Aira, tidak semua orang yang makan di sini adalah sepasang kekasih. Ada juga partner bisnis, teman atau mungkin keluarga. Ucap Fahri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pemikiran Aira.
" Tapi ini terlalu mewah untuk saya dokter. Kata Aira yang merasa tidak nyaman berada di tempat itu.
" Apakah kamu ingin kita pindah ke restoran lain? Tanya Fahri yang akhirnya mengerti perasaan Aira.
" Terlalu lama jika harus pindah ke tempat lain.........
" Dasar bocah nakal, sedang apa kau disini? Aku memintamu untuk menemani ku ke salon, kau malah beralasan sedang sibuk di rumah sakit, tapi apa ini? Apakah ini yang namanya sibuk di rumah sakit. Ucap seseorang dengan lantang orang tersebut langsung menerobos masuk kedalam ruang VVIP.
" Mamahhhhh....., kenapa mamah bisa ada di sini? Ucap dokter Fahri yang terkejut dengan kedatangan wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik walaupun ada kerutan di wajahnya namun tetap tidak bisa menutupi kecantikannya.
" Untuk apa kamu menanyakan hal aneh seperti itu, ini restoran milikku jadi suka-suka aku mau ada di sini atau tidak. Justru apa yang sedang kamu lakukan di sini bocah nakal. kata wanita itu lagi sambil memukul-mukul putranya dengan ringan.
" Siapa ini? Kekasihmu. Tanyanya lagi yang kini beralih melihat ke arah Aira yang sedari tadi diam memperhatikan keduanya.
" Mohon maaf nyonya, perkenalkan nama saya Aira. Saya adalah salah satu putri pasien yang di rawat di rumah sakit oleh dokter Fahri. Kata Aira memperkenalkan diri dengan sangat sopan santun di tambah dengan senyumannya yang begitu ramah.
" Saya Prita Mulyasari Wiranto, ibu dari bocah nakal ini. Ucap wanita paruh baya itu sambil tersenyum manis pada Aira.
" Silahkan duduk nyonya. Ucap Aira sopan sambil menarik kursi dan mempersilahkan Bu Prita untuk duduk.
" Terima kasih, kamu baik sekali. Kata Bu Prita lalu duduk. " Sudah pesan? Tanya Bu Prita dengan lembut pada Aira.
" Belum mah. Kata Fahri menyela.
" Aku tidak bertanya padamu. kata Bu Prita dengan jutek pada putranya.
" Saya kebetulan sudah makan malam nyonya, saya hanya kebetulan menemani dokter Fahri makan malam saja. Jawab Aira dengan jujur dan lembut.
" Jangan panggil nyonya, panggil Tante saja Aira. Pinta Bu Prita. " Oh hanya menemani yah. ucapnya mengulangi pertanyaan Aira sambil melirik putranya yang sedari tadi menatap Aira.
__ADS_1
Ohhhhhhhh........ Sepertinya kamu masih berusaha mengejarnya yah, hahahaha.......
Namun sepertinya gadis ini memasang tembok yang begitu tebal untuk menghalangi siapapun yang ingin masuk ke dalam kehidupannya maupun hatinya, kamu harus berusaha keras merobohkan tembok itu Vin.
" Saya tidak menggangu kalian kan? Tanya Bu Prita pada kedua orang yang ada di hadapannya.
" Tentu saja tidak Tante. Jawab Aira sambil tersenyum manis sementara Fahri hanya membuang wajahnya kesal.
Apa-apaan sih mamah, gak tahu apa aku sedang berusaha mendekati Aira. Mamah malah menggangguku saja.
Fahri hanya menatap wajah sang mamah dengan raut masam, sementara Bu Prita hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya mengolok-olok putranya.
Lalu ketiganya pun duduk bersama sambil berbincang-bincang dengan santai dan menyantap makanan yang di sajikan oleh pelayan, Aira sangat lembut memperlakukan Bu Prita sama seperti ia memperlakukan ibundanya sendiri.
Karena sikap sopan dan lembut Aira membuat Bu Prita langsung jatuh hati pada wanita muda yang ada di hadapannya itu, ia pun memberi jempol pada putrinya.
Setelah selesai Aira pun berpamitan pada Bu Prita dan juga dokter Fahri, saat dokter Fahri akan mengantar Aira kembali ke rumah sakit Aira dengan lembut menolaknya dan malah meminta dokter Fahri lebih mengutamakan Bu Prita.
" Hati-hati yah nak, kalau senggang sering-seringlah mampir ke sini. Tante akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka. Kata Bu Prita saat Aira berpamitan.
" Sekali lagi terima kasih Tante untuk makanannya dan juga kata-kata motivasinya, kalau begitu saya permisi dulu selamat malam Tante dan juga dokter Fahri. Kata Aira sopan sambil tersenyum manis lalu berjalan pergi.
Fahri pun menatap kepergian Aira yang perlahan-lahan menghilang, Bu Prita yang sedari tadi memperhatikan putranya hanya tersenyum tipis.
" Mamah setuju kok, kalau kamu mau ingin bersama Aira. Mamah juga menyukainya, dia gadis yang sopan, manis dan lembut. Celetuk Bu Prita lalu duduk kembali di kursinya.
" Masa? Ucap Fahri sambil tersenyum sumringah menatap wajah sang mamah.
Bu Prita pun menganggukkan kepalanya. " Tapi sepertinya tidak akan mudah untuk kamu mendapatkannya Vin, yang mamah lihat gadis itu seperti memasang tembok yang begitu tinggi yang membuat siapapun pria yang mendekati nya memilih mundur. Kata Bu Prita pada putra bungsunya.
" Kalau begitu Vino harus lebih giat lagi belajar melompat, agar Vino bisa melewati tembok itu dengan mudah. jawab Fahri sambil tersenyum pada sang mamah.
Maksud diri perkataan Fahri adalah jika begitu maka ia harus lebih giat lagi mengejar Aira, agar ia bisa meluluhkan dan mendapatkan hati wanita muda itu.
(Vino adalah nama panggilan Fahri dari keluarganya).
__ADS_1