
" Apakah ayah dari bayi ini adalah pria luar negeri Aira? tanya Bu Wulan sambil menatap wajah cucunya yang seperti bayi bule.
" Iya Bu. Jawab Aira jujur. " Dia berasal dari negara Amerika tepatnya Aira bertemu dengannya di kota New York. Sambung Aira lagi sambil menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan Arsen yang membuat Aira teringat dengan sosok pria asing itu.
" Apakah kamu mengenalnya dengan baik? Tanya Bu Wulan lagi yang kini menatap wajah putrinya.
" Entahlah, Aira tidak begitu mengetahui tentang dirinya. Jawab Aira yang tanpa sadar dirinya kembali mengingat saat-saat dirinya menghabiskan waktu bersama dengan Arsen.
" Kalau kamu menghubunginya dan memberi tahu jika kamu melahirkan putranya, apakah dia akan bertanggung jawab? Tanya Bu Wulan lagi yang mengkhawatirkan masa depan putrinya.
" Sepertinya tidak, karena sesuai dengan perjanjian yang kita buat saat itu. Kalau pun dia ingin bertanggung jawab, dia paling memberikan sejumlah uang untuk biaya putranya atau dia akan mengambil putranya dari Aira. jawab Aira mengatakan hal yang ada dalam pikirannya.
" Kalau begitu lebih baik kamu tidak usah menghubunginya, ibu masih sanggup mencari uang untuk menghidupi cucu ibu dengan menjual lebih banyak camilan. Kata Bu Wulan yang takut jika cucunya di ambil oleh ayah dari cucunya itu.
" Aira juga tidak mau kehilangannya Bu, Aira akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ibu dan si kecil. Ucap Aira sambil tersenyum manis pada ibundanya.
Lalu keduanya pun mengobrol tentang betapa menggemaskannya si bayi boy itu, tak butuh waktu lama keduanya pun tiba di rumah. Secara perlahan Aira keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah sambil menggendong bayinya.
Begitu masuk ke dalam kamar, Aira sangat terkejut dengan kondisi kamarnya karena ada beberapa furniture tambahan.
" Ibu, ibu...... Panggil Aira pada ibundanya setelah meletakkan bayinya di atas tempat tidur.
" Iya, kenapa? jawab Bu Wulan sambil berjalan menghampiri Aira.
" Ini semua dari mana? Tanya Aira sambil menunjuk tempat tidur bayi dan juga bak mandi dengan dilengkapi lemari pakaian bayi.
" Ohhhhhhh........ Ini hadiah dari rekan-rekan kerja mu Aira, saat Mira datang lebih awal waktu acara makan-makan. Ternyata dia mendapatkan tugas mengambil furniture ini dari toko kemudian membawanya ke sini. Jawab Bu Wulan jujur sambil mengingat saat rekan-rekan kerja putrinya bersama-sama merakit semua furniture itu.
" Ya ampun, kenapa ibu baru bilang sekarang sih. Ucap Aira lalu langsung mengambil ponselnya.
__ADS_1
Aira pun langsung mengetikan ucapan terimakasih kepada rekan-rekannya melalui pesan grup, rekan-rekannya pun langsung membalas dan mengucapkan selamat atas kelahiran bayinya, lalu obrolan pun berlanjut.
Tanpa terasa waktu pun sudah sore, dengan hati-hati Aira memandikan bayinya sambil di temani Bu Wulan.
" Tubuhnya benar-benar besar dan tinggi yah. Ucap Bu Wulan sambil menatap cucunya yang sedang di mandikan oleh putrinya.
" Iya Bu. Jawab Aira masih kagum dengan kondisi putranya yang sangat sehat.
" Oh iya, kamu dapat cuti lahiran lama? Tanya Bu Wulan pada putrinya.
" Hemmmmmmm....... Kalau tidak salah sih hampir sepuluh bulan Bu. Jawab Aira sambil berpikir mengingat-ingat kembali perkataan atasannya saat dia minta cuti lahiran.
" Wahhhh...... Lama juga yah. Ucap Bu Wulan yang terkejut sekaligus senang.
" Iya, jadi Aira bisa temenin ibu sambil mengurus si bayi bulat ini dan melihat perkembangannya setiap hari deh, selama waktu cuti. Kata Aira yang terlihat senang sekali.
" Tapi walaupun Aira cuti, Aira harus tetap mengerjakan beberapa pekerjaan Aira dari rumah. Kata Aira memberi tahu ibundanya.
" Ya sudah tidak apa-apa, kan kamu juga tidak harus mengurus rumah ini juga kan, kalau pun kamu sibuk si bulat biar ibu yang jaga. Ucap Bu Wulan pada putrinya.
Aira hanya menganggukkan kepalanya, lalu setelah selesai memandikan dan memakaikan pakaian pada putranya. Kini Aira pun sedang memberikan asi pada putranya itu sambil mengobrol dengan ibundanya.
" Aira, kamu sudah menyiapkan nama untuk putra mu? Tanya Bu Wulan yang baru teringat hal penting.
" Sudah kok Bu. Jawab Aira santai sambil menatap wajah putranya yang sedang sibuk meminum asi.
" Apa namanya? Tanya Bu Wulan penasaran.
" Namanya Raizel saga lean yang berarti si pengembara yang memiliki keputusan dan kepercayaan yang tepat, berkeinginan kuat dan memiliki tujuan. Selalu dilindungi, dan memiliki semangat yang kuat. Kata Aira memberi tahu ibundanya sambil menatap lembut wajah putranya.
__ADS_1
" Hemmmm....... Apakah kamu tidak ingin memberikan hak untuk ayahnya memberikan nama pada putranya sendiri? Tanya Bu Wulan pada putrinya.
" Tidak Bu. Jawab Aira singkat dan jelas.
" Ya sudah, yang penting namanya memiliki arti baik. Ucap Bu Wulan lagi lalu menggendong cucunya itu.
Hari berganti hari, waktu terus berjalan. Selama cuti Aira memang benar berada di rumah namun seperti perkataannya dia juga benar berkerja seperti biasa dia bekerja yang berbeda hanya tempatnya saja.
Pertumbuhan putranya Saga pun terus berkembang, bayi itu kini sudah bisa tengkurap dan sedang belajar duduk. Di sela-sela waktu Aira selalu mengajak bermain putranya itu dengan di temani Bu Wulan.
Sesekali suara tawa dari Aira terdengar sampai keluar rumah, kala melihat putranya yang bertingkah lucu saat belajar duduk. Bu Wulan yang tidak tega melihat cucunya di permainkan pun langsung mengambil cucunya lalu menggenggamnya menjauh dari Aira.
Saat itu juga Aira pun mengejar sambil terus menertawakan putranya, sementara si kecil Saga hanya ikut-ikutan tertawa kala melihat sang mami tertawa padanya.
" Ahhhh..... Kamu, ibu kan sudah mengatakannya pegangin tangannya jangan di lepas jadi nyungsep kan Saga. Tuh liat keningnya sampai merah. Ucap Bu Wulan mengomeli putrinya sambil sibuk mengobati memar di kening cucunya.
" Kalau di pegangin terus dia gak akan bisa-bisa Bu, lagian Saga nya juga gak nangis kok. Jawab Aira sambil mengajak ngobrol putranya.
Plakkkk..... Pukulan pelan mendarat di punggung Aira, sontak Aira pun mengaduh kesakitan.
" Namanya juga sedang belajar Aira, kamu juga waktu bayi begitu lahir tidak langsung bisa berdiri kan. Saga juga sama, semuanya butuh proses Aira. Ucap Bu Wulan sebel dengan putrinya.
Aira tidak menjawab dia memilih diam, semenjak ada Saga Bu Wulan selalu oper terhadap cucunya itu. Tak jarang Aira mendapatkan pukul seperti itu dari sang ibunda, apa lagi jika Aira sedang menjahili putranya itu.
Selama cuti terkadang rekan-rekan kerja Aira datang berkunjung, mereka juga sering membawakan mainan untuk Saga dan bermain dengan bayi laki-laki yang jarang menangis itu.
Saga yang memegang memiliki karakter gampang tertawa dan juga mau di gendong oleh siapapun, membuat bocah kecil itu menjadi pusat perhatian rekan-rekan kerja Aira.
Tak jarang begitu sampai di rumah Aira rekan-rekannya akan langsung menanyakan keberadaan Saga, si bayi bulat yang menggemaskan.
__ADS_1