
Pov dalari.
Sesampainya di teras, yang berada disamping Puskesmas. Heru dengan cepat membuka timbel nasi, pemberian ibu Nasrul, yang bentuknya sebesar betis orang dewasa.
"Nasinya jangan diacak!, nanti nggak habis." ujar Nawir sambil membuka plastik lauk makanya.
"Iya, siap pak." jawab Heru sambil memotong timbel itu menjadi dua bagian.
Setelah timbel itu terbagi. Nawir menuangkan telur dadar di atasnya. Tanpa pikir panjang, Kami. bertiga mulai menikmati makanan, yang terasa sangat nikmat, apalagi sehabis melakukan perjalanan jauh, seperti tadi pagi.
Bagian pertama dari potongan timbel, sudah habis. karena masih terasa belum nendang keperut. Kami bertiga mulai menyantap bagian sisanya. dan dengan rakusnya bagian sisanya pun habis juga, sehingga timbel yang ukurannya segede betis, hanya menyisakan daun pembungkusnya.
"Gil4. kita makan kok maruk amat" ujar Heru sambil menenggakak air minum yang ada di tanganya.
"Halah. Kita emang maruk kok, kemarin aja pas ngeliwet, nasi. Yang dua liter itu kita sikat habis" jawab Nawir mengingatkan tentang kejadian dua hari yang lalu, ketika liwetan dirumah Nawir.
"Iya. kalau makan enak begini, suka lupa untuk berhenti" timpalku, sambil mengelus-ngelus perut yang terasa begah.
"bener tuh!" ucap Heru, sambil mengangkat sudut bibirnya, merasa lucu mengingat kelakuan Kami bertiga.
Selesai makan, kami kembali ke ruang Puskesmas. untuk menemani Nasrul yang lagi sakit.
"Udah makannya" tanya ibu Nasrul sambil menatap kedatangan kami bertiga.
"Sudah, Bu. Tapi nasinya habis kami makan" jawab Heru sambil menunduk malu.
"Nggak apa-apa, syukur kalau habis, mah. yang penting jangan dibuang" jawab ibu Nasrul terpampang senyum di bibirnya.
"Nggak, kok. tadi saja Kalau nggak dilarang. Heru mau ngabisin sama daun-daunnya" Timpal Nawir, membuat Heru mengatupkan bibir.
Ibu Nasrul, hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan kocak teman-teman anaknya.
"Kapan Nasrul bisa pulang" Tanyaku setelah menghentikan tawa.
"Kata perawat, Insya Allah, besok. Sudah bisa pulang, setelah lukanya dicek kembali oleh dokter. Karena luka seperti ini bisa dilanjutkan dengan berobat jalan" jawab ibu Nasrul, sambil menatap ke arah anaknya, lalu ia mengusap lembut kepala Nasrul.
"Alhamdulillah, kalau begitu, Semoga saja Nasrul cepat sembuh dan kembali bersekolah" ujarku, sambil menatap nanar ke arah Nasrul, merasa sedih melihat kondisinya.
__ADS_1
"Ya, sudah. kalau kalian mau ngobrol, ibu tinggal dulu, mau beli cemilan buat kalian makan di sini" ujar ibu Nasrul, sambil berdiri dari kursi tempat duduknya. lalu ia mengambil tasnya, kemudian pergi berlalu keluar dari kamar Puskesmas.
"Ibu kamu, baik banget, yah. Rul" ucapku sambil mendekati Nasrul.
"Baiklah, aku, kan. anak tunggal, kalau nggak baik sama aku, mereka mau baik sama siapa." jawab Nasrul, sambil tersenyum bangga, karena mempunyai ibu yang sangat menyayanginya.
"Terus, pas. ibu kamu, tahu. kamu terluka begini, gimana reaksinya" tanya Heru Yang penasaran.
"Ya, begitulah. agak dramatisir sedikit" jawab Nasrul sambil memalingkan wajah.
"dramatisir bagaimana" susul Nawir penuh keingintahuan.
"Nasrul, Kamu. jangan pergi nak!, kalau kamu pergi, ibu sama siapa? Di Sini! haung haung haung, ungkap Ibu, seperti itu. sambil terus memegangi tanganku" jelas Nasrul, sambil memeragakan seorang ibu, yang lagi menangisi anaknya yang sedang sakit.
Candaan Nasrul membuat kita berempat tertawa terbahak-bahak, apalagi. melihat Nasrul yang memeragakan ketika menggambarkan ibunya menangis.
"Kalau, bapak kamu. gimana" tanya Heru sambil memegangi perut tak kuat menahan ketawa.
"Kamu, juga tahu. kalau bapak itu, kalem habis. jadi, dia. tidak terlalu memberikan ekspresi berlebihan, dia cuma bilang. Kenapa kaki kamu yang terluka Cuma Satu, kenapa enggak dua-duanya, bayangkan bapak berbicara sperti itu sambil menunjukkan muka Poker Facenya" cerita Nasrul membuat suara tawa kita semakin menggelegar.
"Kalian jangan berisik, ini. rumah sakit, bukan pasar" tegur seorang perawat, yang menyumbulkan kepalanya di ambang pintu, membuat kita semua menutup mulut agar tidak tertawa keterusan.
"Kayak, kamu nggak" jawabku sambil tersenyum menanggapi tuduhannya.
Begitulah, kelakuan anak kecil, ketika. ditegur oleh orang yang lebih tua, maka mereka akan saling menyalahkkan, tidak mau bertanggung jawab, atas apa yang mereka lakukan.
"Aku, Habis dhuhur langsung pulang, ya. Rul, Soalnya kamu juga tahu, kan. besok pagi aku harus mengepel sekolah" ujarku, sambil menatap ke arah Nasrul.
"Lah. kok gitu" jawab Nasrul, mengatupkan bibirnya seolah tidak suka.
"Yah, maaf banget.aku bingung harus bagaimana lagi. Kalau aku nggak sayang, sama kerjaan. mungkin. aku akan senang tinggal lebih lama menemanimu, di sini." ujarku, yang merasa tidak enak melihat perubahan raut wajahnya.
Dia hanya menarik nafas pelan, lalu membuangnya. "Iya, nggak apa-apa, aku faham, kalau mau pulang hati-hati aja, ya!" pinta Nasrul sambil menundukkan wajahnya yang terlihat lesu.
"Kalau, kalian. mau pulang, apa mau nemenin Nasrul di sini." tanyaku, sambil melirik ke arah Heru dan Nawir.
Mereka hanya saling menautkan mata, seolah sedang berdiskusi, mengunakan kekuatan batin.
__ADS_1
"Emang. kalau nginep, nggak akan ngerepotin keluarga kamu rul, Soalnya kita kan nggak bawa apa-apa, uang aja sudah nggak punya" tanya Heru, yang membuat senyum Nasrul yang hilang, kini. terlihat nampak kembali Terukir di bibirnya.
Nasrul tidak menjawab. Dia hanya menggeserkan badannya mendekati tepi ranjang. membuat Kami bertiga merasa khawatir.
"Mau ke mana, kamu jangan banyak bergerak dulu, biar lukamu cepet sembuh" pintaku sambil memegangi tubuhnya agar tidak melanjutkan pergerakannya.
"Tolong ambilin tasku" pinta Nasrul, sambil menunjuk ke bawah ranjang, karena Puskesmas disini, tidak memiliki lemari kecil seperti di rumah sakit.
Dengan sigap, aku. menundukkan badan, lalu mengambil apa yang diminta oleh Nasrul. Kemudian menyerahkan tas itu kepadanya.
Dari dalam tas. Nasrul mengeluarkan dompet kecil, lalu ia membuka dompet itu, menunjukkan lembaran uang Rp10.000 yang memenuhi dompetnya. membuat, Kami bertiga menggelengkan kepala tidak mengerti apa yang dia maksud.
"Udah lihat kan" tanya Nasrul, sambil menggeser kembali tubuhnya supaya berada di tengah ranjang.
"Maksudnya, gimana Rul" tanya Heru sambil mengerinyitkan dahi.
"Kalau kalian, di sini. jangan merasa takut tidak makan, aku bisa membelikan kalian, kalau Ibuku berbuat tega, sehingga mengabaikan kalian berdua" jelas Nasrul sambil menyimpan dompetnya di bawah bantal, menujukan bahwa dia bisa menjamin hidup sahabatnya selama berada disini.
Kalau untuk baju, kalian bisa buka plastik yang besar, di situ bajuku semua, kayaknya badan kita semua tidak jauh berbeda. jadi kurasa baju-baju itu akan cocok untuk kalian" lanjut Nasrul sambil membagi tatapannya ke arah Kami bertiga.
"Gimana, Wir. mau nggak, Kita nginep di sini, nemenin Nasrul" tanya Heru, yang sudah merasa yakin kehidupannya berada di sini terjamin.
"Boleh, sesekali. kita tidur di kota, meski hanya di puskesmasnya." jawab Nawir sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Nah, begitu dong. jadi aku tenang meninggalkannya, kalau kalian berdua mau menemaninya di sini" ujarku menunjukkan wajah yang berseri-seri.
"Terima kasih, ya. atas kebaikan kalian semua" ujar Nasrul sambil meregangkan tangannya, seperti orang yang mengajak berpelukan.
Kami bertiga, hanya saling menatap, merasa bingung dengan kelakuan Nasrul.
"Kenapa, kalian. bengong" tanya Nasrul, terihat matanya mengamati Kami bertiga.
"Mau apa, Rul. kok kamu gitu" tanya Heru yang masih menatap heran ke arahnya.
"Huuuuuh, Masa, kalian. nggak paham. Ayo berpelukan, dramatisir sedikit lah, biar kelihatan sedih" dengus Nasrul, terlihat mulutnya Yang berkedut.
"Oooooooh" jawab Kami bertiga, serempak. sambil berhamburan memeluknya.
__ADS_1
"Wah, wah, wah, Ibu ketinggalan banyak nih, sampai-sampai kalian berpelukan seperti ini" tanya ibu Nasrul yang baru datang, sambil membawa kantong plastik besar, berisi, cemilan.