JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 42 TIDAK MENUMUKAN APAPUN


__ADS_3

Pov dalari


"Kenapa dengan mukamu? nggak sanggup membayarnya ya!" tanya Dadun sambil menatap ke arahku.


"Sanggup, sanggup, kok!" jawabku tergagap lalu mengeluarkan uang pemberian dari Ibu Nasrul, yang belum terpakai sama sekali. kemudian menyerahkan ke arah Dadun.


"Uang buat apa ini?" tanya Dadun.


"Itu sebagai tanda jadi, besok sisanya aku bayar. soalnya aku tidak bawa uang banyak." jelasku.


"Emang kamu nggak apa-apa. dengan harga segitu. kamu bisa membeli emas setengah gram?" tanya Dadun terlihat raut wajahnya yang serius.


"Nggak apa-apa! Kak. namanya juga seni, Mungkin sebenarnya, uang segitu. tidak cukup untuk membayar kreativitas seseorang." ujarku sok puitis.


"Bener, aku suka orang-orang yang ngerti seni. hebat, hebat!" ungkap Dadun sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Iya kak, karena tidak semua orang bisa berjiwa seni, seperti kakak." aku menunjukkan kekaguman dengan keahliannya.


"Bagaimana, kalau kita barter saja?" saran Dadun membagi tatapan ke arahku dan Fatimah.


"Maksudnya?" ucap kita serempak.


Dadun terdiam sebentar, Seperti sedang mengumpulkan keberanian, untuk berbicara. terlihat dia beberapa kali menarik nafas dengan sangat dalam.


"Tukar! kalian mendapatkan barang yang kalian mau, sedangkan aku mendapatkan barang yang aku mau. gimana adil, kan? tanyanya seperti memberikan teka-teki.


"Barang apa, yang kamu mau?" tanya Fatimah menatap penasaran ke arah Dadun.


"Kalian berdua, aku yakin sudah mengetahui, bahwa aku suka sama Fitri, aku pernah menembaknya. namun sampai saat ini, dia belum memberikan jawaban atas perasaanku?" ucap Dadun terhenti, sambil menarik nafas dalam kembali.


"Terus, tugas kita apa?" tanya Fatimah.


"Aku pengen tahu, perasaan Fitri terhadapku, seperti apa. tolong suruh dia menjawab perasaanku!" lanjut Dadun menjelaskan tugas yang harus kita jalankan.


Fatimah hanya menarik nafas pelan, lalu menghembuskannya. seolah sedang menghadapi masalah yang sangat berat, walaupun sebenarnya iya.


"Kenapa, kamu nggak bisa?" tanya Dadun dengan penasaran.

__ADS_1


"Bukan begitu, Dun. sebenarnya jawabannya sudah ada di kamu!" jelas Fatimah.


"Maksudnya, bagaimana?" tanya Dadun yang masih bingung.


"Sekarang, kalau kamu suka sama seseorang, maka kejarlah! Jangan Menunggu untuk disambut, karena Sekuat apapun pertahanan wanita, ketika melihat perjuangan seorang pria. dia akan luluh, tunduk pada pria itu." jelas Fatimah bak motivator Kondang yang suka muncul di televisi.


Seketika Dadun pun manggut-manggut, seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Fatimah. kemudian tersenyum seolah mendapat jawaban dari apa yang dia cari selama ini.


"Satu lagi! aku tahu kamu orang seni, tapi cobalah sedikit mengalah, menurunkan egomu. mungkin bisa mulai dari parfum, mandi pagi, potong rambut.sehingga enak dipandang. namun Maaf sebelumnya, aku hanya mengungkapkan perasaan wanita, mungkin perasaanku bisa mewakili seluruh wanita yang ada di dunia ini." jelas Fatimah.


"Tapi kalau benar-benar cinta, itu tidak harus merubah penampilan?" tanya Dadun bak anak kecil yang sedang bertanya sama orang tuanya, dengan pertanyaan-pertanyaan yang irasional.


"Yah, seharusnya seperti itu, kalau kamu benar-benar cinta. maka kamu akan siap merubah segalanya, demi mendapatkan cinta itu. mungkin perlahan, nanti. pasangan kamu akan menerima, setelah menjalaninya." Ungkap Fatimah memberikan penjelasan.


"Okelah. kalau begitu, berarti aku harus terus Mengejar Cinta Fitri?" tanya Dadun.


"Harus! kalau kamu benar-benar mencintai dia!" jelas Fatimah memberikan motivasi.


"Nih, uang kamu!" dadun menyerahkan kembali uang yang kuberikan.


"Nggak apa-apa, nanti kalau gelangnya sudah jadi, aku kasih sama Fatimah. ya sudah, silakan Kalian pergi!' usir Dadun membuatku mengerenyitkan dahi, tidak mengerti dengan sikap anehnya.


Namun Fatimah segera menarikku, untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Bawa uangnya!" bentak Dadun sambil melemparkan uang itu ke arahku.


Merasa butuh, aku pun mengambil uang itu. sebelum pergi tak lupa Aku mengucapkan terima kasih, meski sambutannya kurang bisa dimengerti oleh akal sehat.


Sekeluarnya dari kelas 3, terlihat dari arah depan ada segerombolan kakak kelas, yang hendak masuk kedalam.


"Awas saja, kalau terjadi sesuatu sama Arfan!" ujar Azis tiba-tiba, ketika kita berpapasan sambil mengangkat telunjuk ke arah mukaku. Membuatku merasa bingung dengan apa yang ia ancamkan.


Namun tak ada perdebatan, kami langsung berpisah, melanjutkan tujuan masing-masing.


Aku dan Fatimah terus berjalan, sampai di depan ruang kelas dua. terlihat sahabat-sahabatnya yang sedang duduk menikmati jajanannya.


"Makin lengket aja, nih. pasangan baru!" ujar Ratna menyambut kedatangan kita.

__ADS_1


"Apaan, sih. kalian gak jelas banget!" dengus Fatimah sambil duduk menyela tengah-tengah sahabatnya.


"Aku pamit dulu, kak. terima kasih sudah membantu." ujarku yang merasa dikacangin, ingin segera pergi dari circle-nya Fatimah.


"Oh iya, gimana. Aku sampai lupa, belum menanyakan hal yang terpenting." tanya Fatimah melepaskan pelukan sahabatnya, menatap ke arahku yang sedang berdiri.


"Kayaknya, bukan, Kak." jawabku sambil tertunduk merasa bingung dengan apa lagi yang harus kulakukan.


"Ya sudah, semangat!!!" ujar Fatimah sambil memberikan senyum termanisnya menyemangatiku.


"Iya Kak, sekali lagi terima kasih, aku pamit dulu!"


"kamu hati-hati, ya! Aku nggak mau kamu sampai terluka!" ungkap Fatimah yang membuat mataku terbuka dengan lebar, merasa takjub dengan perhatiannya.


"Cie! cie! cie!" ledek para sahabatnya, sehingga dengan refleks Fatimah menutup mulut. seolah ungkapan itu adalah kesalahan, semakin membuatnya terlihat lucu dan manis.


Akhirnya aku pun meninggalkan mereka, untuk mencari kedua sahabatku yang entah di mana keberadaannya.


*****


Pukul 13.00. aku pun sudah berada di pondok pesantren.  Membaringkan tubuhku di atas tikar yang tidak ada empuk-empuknya, menatap plafon. menunggu para santri lain selesai mengaji. Aku tidak menyusul, karena ketika aku melewati samping Masjid. kitab yang dikaji, adalah kitab yang terakhir, sehingga merasa percuma, aku masuk ke dalamnya, pasti sudah selesai.


Benar saja, 5 menit berlalu, pintu kamarku didorong. Lalu masuklah Kang Arif dan Kang Alfian sambil menenteng kitab yang baru saja dikaji. kemudian mereka merapikan di rak kitab, agar tidak tertukar dengan kitab pengajian waktu lainnya.


"Sudah datang dal?" tanya Kang Arif sambil duduk di sampingku yang masih tiduran. sebenarnya pertanyaan ini tidak ada jawabannya. karena kalau aku sudah ada di sini, ya berarti, itu sudah pulang dari sekolah. aku hanya tersenyum lalu membangkitkan tubuhku untuk duduk bersamanya.


" Hampir lupa. tadi, Kang Agus menyuruhmu, untuk segera menemuinya, ketika kamu sudah pulang dari sekolah!" seru Kang Arif memberitahu ada amanat yang harus ia sampaikan.


"Sekarang Kang agusnya, udah pulang dari masjid, belum?." aku balik bertanya.


"Ayo. kita cek! kayaknya tadi pulang bareng sama santri  santri lainnya." ajak Kang Arif sambil bangkit menuju lantai atas untuk menemui Kang Agus.


Kita berdua dipersilahkan masuk, setelah mengucapkan salam. terlihat di dalam kamar, Kang Agus sedang menghafal kitab-kitab, yang baru saja dipelajari di masjid. walaupun dia sudah paham, namun menurutnya. orang yang sudah mendapatkan nikmatnya belajar, maka ketika mengulangnya 1000 kali. itu tetap saja masih terasa baru.


"Bagaimana perkembangan tugas kamu?" tanya kang Agus sambil menutup kitabnya . lalu disimpan di atas lemari yang tingginya sedada itu.


"Aku sudah mengobrol sama dadun. namun aku sama sekali tidak menemukan kemiripan suaranya, dengan suara orang yang mengobrol di kuburan. Aku lebih curiga sama seseorang, kang. karena Suaranya sangat mirip dengan orang yang berada di kuburan itu." jelasku.

__ADS_1


__ADS_2