
Pov Dalari
Akhirnya kami pun melanjutkan kembali perjalanan, menuju pondok pesantren, berpisah dengan rombongan pengawal Dadun.
"Kasihan ya!" ungkap Kang Arif, sambil terus berjalan di belakang Kang Agus.
"Kasihan kenapa?" tanya Kang Agus tanpa menoleh ke arah Kang Arif.
"Yah! kasihan saja, sama Dadun! masih kecil sudah mendapat perlakuan seperti itu." ungkap Kang Arif.
"Iya semua orang juga pasti akan merasa kasihan, kalau melihat dari raganya, namun kalau melihat dari kejahatannya, mereka Pasti akan merasa geram, ingin menghakimi sepuas mungkin." jawab Kang Agus.
"Walau bagaimanapun, Dadun harus tetap mendapatkan hukuman, dari apa yang dia sudah perbuat! Karena hukum tidak pandang bulu, mau anak-anak ataupun sudah dewasa. ketika mereka melakukan kesalahan, maka harus ada hukuman, yang setimpal!" tambah Kang Arif yang berjalan di belakangku.
"Ini adalah pelajaran buat kita, kalau melakukan sesuatu itu, harus dipikirkan akibatnya terlebih dahulu, jangan bertindak seenak jidat!" ungkap Kang Agus mengingatkan.
Aku hanya menyimak obrolan kakak-kakak ku di pondok. obrolan yang mengandung banyak arti kehidupan, yang bisa dipetik, untuk dipelajari dan di aplikasikan dalam kehidupan, yang akan datang. Sekaligus menemani perjalanan kami, yang terus menyusuri Jalan Setapak, diterangi sinar rembulan, dibantu oleh senter yang Kang Andi bawa.
15 menit berlalu, akhirnya kita sampai ke pondok. Kemudian kita masuk ke kamar masing-masing, aku dan Kang Arif masuk ke kamar Pondok yang sama, sedangkan yang Agus dan Kang Andi masuk ke kamarnya Kang Agus, mengingat waktu yang masih larut malam, Kang Andi memutuskan, untuk menginap di pondok. biasanya dia pulang ke rumahnya, yang berada didekat dengan pondok pesantren.
Setelah masuk ke kamar, aku mengeluarkan bungkusan yang diberikan oleh Dadun. ketika tadi kita berpapasan di jalan menuju arah pulang.
"Apa itu?" tanya Kang Arif yang menatap penasaran ke arah bungkusan yang aku pegang.
"Kurang tahu, Kang! ini pemberian dari Dadun, tadi ketika kita berpapasan." jawabku sambil terus memperhatikan bungkusan itu.
"Buka! Siapa tahu saja itu harta warga, yang dititipkan kepada kamu!" ujar Kang Arif yang nampak terlihat wajahnya menunjukkan penuh dengan rasa kekhawatiran.
Dengan cepat bungkusan itu, aku buka. setelah dibuka terlihat di dalamnya ada dua buah gelang yang terbuat dari tanduk, membuatku mulai mengerti Kenapa Dadun memberikan bungkusan ini.
"Apa itu?" tanya Kang Arif.
"gelang yang kupesan. kemarin aku sudah menceritakan sama Kang Arif. aku berpura-pura, untuk mendengar suara dadun dengan cara memesan gelang ini!""jawabku menjelaskan agar Kang Arif tidak salah paham.
__ADS_1
"Bagus banget! kayaknya gelang ini terbuat dari tanduk ya?" tanya Kang Arif sambil membolak-balikkan gelang yang ada di tangannya, memperhatikan dengan teliti.
"Iya Kang, memang dia seniman banget! apalagi kalau melihat gelang yang dia pakai, gelang yang terbuat dari akar, berbentuk ular naga, itu luar biasa!" jelasku penuh kekaguman.
"Kok gelangnya ada dua, yang satunya buat siapa?" tanya Kang Arif semakin penasaran.
"Aku pesannya kapelan, sama temanku!" jawabku sambil tertunduk, takut Kang Arif terus menyelidikiku memesan gelang dengan siapa.
"Ya sudah, simpan lagi!" seru Kang Arif.
Aku pun mengambil gelang yang diberikan kembali oleh Kang Arif, menyatukan lagi. sehingga kalau disatukan seperti itu, terlihat seperti satu gelang, yang tidak bisa terpisah. luar biasa memang kecerdikan Dadun, yang bisa membuat gelang yang bisa berkesinambungan seperti ini, dengan waktu yang tidak lama.
Setelah merapikan gelang pemberian dari Dadun ke dalam lemari pakaianku. aku dan Kang Arif mulai mencoba merebahkan tubuh, untuk menghilangkan rasa lelah, menikmati malam yang tak bisa kita nikmati sebelumnya. malam-malam di mana disibukan dengan menjaga kedamaian Kampung Cikadu, dari gangguan pocong jadi-jadian.
Keesokan paginya setelah mengikuti pengajian ba'da subuh, yang selesai pukul 06.30. aku segera bergegas menuju ke sekolah, membawa peralatan mandi, serta baju seragam, mengingat waktu yang sudah mendesak seperti sekarang, tidak mungkin aku bisa pulang kembali ke pondok, untuk mandi. Aku berencana mandi di toilet sekolah, agar tidak banyak waktu yang terbuang.
Setelah selesai menyapu dan mengepel area dan teras sekolah, dengan cepat kuambil peralatan mandiku yang tadi ku simpan di gudang, untuk membersihkan tubuhku di kamar mandi.
Setelah berada di kamar mandi, dengan cepat ku guyur tubuhku, dengan air yang terasa dingin, menyegarkan tubuh dari keringat keringat yang keluar sehabis bekerja.
Pintu kamar mandiku terbuka dengan sempurna, terlihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu, menetap ke arahku. karena toilet yang berada di sekolahku, tidak dipisah. semua siswa maupun siswi bisa menggunakan kamar mandi itu. Tanpa ada kekhususan sama sekali.
"Apa-apaan kamu! cepat Tutup pintunya!" bentakku yang merasa kaget mendapat kejadian yang begitu mendadak. padahal aku sangat yakin, tadi sebelum mandi Aku kunci pintu itu.
"Yey! santai aja kali, lagian ngapain kamu mandi di toilet sekolah?" ucap Fatimah yang masih menatap ke arahku.
"Buruan tutup! atau kusiram kamu dengan air!" Ancamku sambil mengambil air dengan gayung yang ada di tangan.
Dengan tanpa dosa Fatimah pun menurut, tatapan matanya terus tertuju dengan tubuhku yang tidak terbalut dengan apa-apa, hanya tertutup oleh busa sabun yang belum Aku bersihkan. membuatku semakin merasa risih diperhatikan seperti itu.
Byur!!
Air yang baru saja aku ambil, aku siramkan ke pintu yang sudah tertutup, merasa jengkel atas perlakuan Fatimah.
__ADS_1
"Kalau berani siram orangnya, jangan siram pintunya!" teriak Fatimah dari luar kamar mandi.
Aku tidak menjawab ocehannya, dengan cepat aku mengunci kembali pintu itu, dan kucoba membukanya, memastikan pintu itu tidak terbuka, dan ternyata kunci itu sangat kuat, berarti memang kebod0hanku yang lupa Mengunci pintu kamar mandi, sehingga Fatimah bisa menikmati tubuhku, yang tidak tertutup sehelai benang pun.
Setelah pintu itu tertutup dengan sempurna dan dengan aman. aku segera menyelesaikan aktivitas mandiku, mengguyur tubuhku yang penuh busa Sabun, dengan air.
Setelah selesai mandi, aku kenakan pakaian seragamku, lalu memasukkan pakaian yang tadi aku pakai Sebelum mandi, ke dalam plastik, untuk disimpan di gudang sekolah.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang yang mengintipku. setelah dirasa aman, aku pun menuju gudang sekolah, untuk menyimpan pakaian kotorku.
Terlihat dari arah teras sekolah, Fatimah yang sedang duduk memperhatikan langkahku, seolah tidak mau melepaskan pandangannya. dengan kesal ku hampiri dia untuk meminta tanggung jawab, dengan apa yang telah ia lakukan pagi ini.
"Mau apa?" tanya Fatimah sambil menatap heran menyambut kedatanganku, seolah kejadian tadi, merupakan hal yang biasa saja.
"Kamu tuh! kurang ajar, Masa kamu ngintip!" ucapku yang tidak suka dengan kejadian yang baru saja menimpaku.
"Yey! itu salah kamu, Kenapa kamu mandi di sekolah, terus kenapa tidak mengunci pintunya?" jawab Fatimah sambil memicingkan mata, tidak suka dengan tuduhanku.
"Kamu sengaja, kan. pengen ngeliat tubuhku?" Selidikku terus memojokkannya, agar dia mau mengakui kesalahannya.
Fatimah tidak menjawab, Dia hanya memfokuskan pandangan ke arah bawah perut, lalu ia tersenyum, seolah menggoda. membuat tanganku dengan refleks menutup tubuh yang dipandanginya
"Lumayan!" gumamnya sambil tersenyum nakal.
Dengan kesal aku pun meninggalkannya, padahal sudah dari malam, aku merencanakan akan menemuinya, untuk memberikan gelang yang kita pesan dari Dadun. namun melihat kejadian seperti ini, aku melupakan hal itu, pikiranku terfokus untuk menyelamatkan Harga Diriku, yang sudah dicampakkannya.
"Dasar aneh!" teriak Fatimah setelah melihatku pergi meninggalkannya.
Aku terus mempercepat langkahku, untuk menuju rumah Pak Chandra, seperti biasa mencari sarapan gratis, yang sudah disiapkan oleh keluarganya.
"Tumben datangnya telat?" tanya Pak Chandra yang merasa heran, karena aku biasanya datang ke rumahnya sebelum jam 07.00
"Maaf Pak! tadi bangun subuhnya kesiangan, jadi tidak sempat membersihkan sekolah terlebih dahulu." jawabku sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap keberadaannya, rasa hormat yang begitu besar, Membuatku menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Ya sudah! kamu sarapan dulu sana! nanti setelah sarapan, seperti biasa Tolong bawakan berkas yang ada di meja kerja saya!""seru pak Candra sambil berlalu meninggalkanku yang hendak menyantap sarapan.
Seperti biasa, setelah menumpang makan di rumahnya. dengan sukarela aku mencuci semua perabotan yang kotor yang menumpuk. karena istri Pak Chandra yang sudah hamil besar, tidak sempat untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini, menurutnya tidak kuat Ketika Harus berdiri berlama-lama. Dan hanya dengan inilah, yang bisa kulakukan sebagai pembalasan kebaikan keluarga mereka, walaupun itu sangat tidak sebanding dengan kebaikan yang mereka berikan.