
Pov dalari
Setelah menyampaikan maksud dan tujuanku, ketika menemui Fatimah. aku langsung berpamitan untuk segera pulang. tak lupa, Mengucapkan terima kasih kepada mereka yang berada di situ.
Aku kembali melewati jalan yang dekat sekolah, sedangkan mereka berlima melanjutkan perjalanannya. karena mereka berlima searah.
Aku menyusuri jalan Gang, yang tidak melewati rumah warga. karena melihat pakaianku yang sangat kotor, aku malu ketika harus bertemu orang. aku lebih memilih Jalan Setapak yang lewat kebun.
Sesampainya di pondok. aku segera memasuki kamar, Terlihat Kang Arif yang sedang menghafal kitab.
"Habis sekolah, apa pulang mencangkul? tanya Kang Arif meledekku, setelah melihat pakaianku yang sangat kotor.
"Hehehe. tadi jatuh kang, Licin." alasanku yang tidak masuk akal. tidak mau, kalau Kang Arif tahu bahwa aku habis berantem. bisa-bisa aku kena marah, karena berantem bukan kebiasaan para santri.
"Ini kan musim kemarau, mana ada licin?" benar saja Kang Arif tidak percaya.
"Yah namanya juga musibah, nggak mandang musim kemarau, atau musim hujan. kalau sudah waktunya ya, begini!" Elakku sambil membuka baju putih yang sudah berubah warna menjadi kuning.
"Ya sudah kamu makan dulu, tadi aku sekalian masakin, tuh nasinya di pojok masih di kastrol!" seru Kang Arif sambil menunjuk ke arah pojokan kamar.
Tiba-tiba mataku menjadi perih, terharu bahagia karena kebaikannya. memang benar aku sangat lapar sekali, karena hanya baru pagi, itupun aku makan di rumah Pak Chandra. Apalagi habis bertarung yang mebutuhkan tenaga extra.
Kuambil kastrol, lalu makan langsung di penutupnya yang dijadikan piring. Mengingat kalau harus ngambil nampan jauh. Nasi itu rasanya sangat nikmat, meski hanya berlaukan asin yang dibakar. apalagi dengan rasa lapar yang seperti ini, kenikmatannya menjadi berkali kali lipat.
"Tadi patungan uangnya. Siapa yang bayar? tanyaku di sela-sela suapan.
Karena ketika masak nasi dipondok, selain patungan beras, maka patungan uang juga, untuk membeli lauk pauknya.
"Sudah makan saja, sih. jangan banyak bicara, pamali!" dengus Kang Arif mengingatkan.
Mendengar ucapannya seperti itu. Aku hanya mengangkat jempol, lalu fokus kembali menyantap nasi itu dengan sangat hikmat. setelah nasi itu habis aku membawa kastrol atau kuali masak. untuk disimpan kembali ke dapur, sekalian mengambil minum dikeran dan dilanjutkan dengan membersihkan badan.
Setelah mandi selesai. adzan Ashar berkumandang, dari toa masjid depan pesantren. memberitahu bahwa kewajiban sebagai makhluk sudah tiba. semua Santri bergegas menuju arah suara pangilan itu, untuk melaksanakan salat berjamaah, serta dilanjutkan mengikuti pengajian ba'da Ashar.
__ADS_1
Sejam berlalu, akhirnya pengajian ba'da Ashar selesai. biasa setelah pengajian ba'da Ashar, para santri tidak menghafal pembelajarannya. mereka memilih menghabiskan senja dengan bermain bola.
Sebelum berangkat ke sawah, yang kita jadikan lapang. aku dan Kang Arif, dipanggil kembali oleh Kang Agus. untuk menghadap ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, terlihat Kang Agus dan Kang Andi sudah menunggu.
"Bagaimana kamu sudah mendapat informasi, tentang Dadun?" tanya Kang Agus mempercepat maksudnya, karena dia takut ketinggalan untuk bermain bola.
"Susah, Kang. menurut informasi yang aku dapat. Dadun itu bisa merubah suara, sehingga sangat susah untuk mencocokkan suara dia, sama suara orang yang mengobrol di kuburan." jawabku menjelaskan penemuanku di sekolah.
Kang Agus hanya menarik napas dalam, mungkin persoalan yang sedang dihadapi sangat berat, menarik napas seperti itu bisa sedikit melepaskan beban.
"Iya Kang, benar. kalau Dadun itu bisa merubah suara, bahkan dulu pas waktu sekolah dia pernah menjadi juara pembaca dongeng, di tingkat 3 kabupaten." Jelas kang Arif sama persis dengan yang diungkapkan heru. karena mungkin Dadun sama Kang Arif, adalah teman satu sekolah.
"Tapi jangan khawatir, Kang. besok aku mau memesan gelang sama Dadun. tadi aku perhatikan gelang buatannya sangat bagus." ujarku memberi solusu.
"Gelang buat apa laki-laki itu tuh gak boleh pakai gelang!" jawab Kang Agus sambil menatap ke arahku.
"Kenapa gak boleh, tapi banyak, kan. laki-laki yang suka pakai gelang!" jawabku penasaran.
"Enggak kok, Kang. aku cuma pengen mendengar suaranya saja, karena dengan cara itu kita baru bisa ngobrol. Dan nanti ada temen, yang membantu memberitahuku. mana suara aslinya, mana suara palsu dadun." jelasku agar Kang Agus tidak salah paham
"Sip! kalau seperti itu, cari tahu terus tentang Dadun, tapi kamu jangan aneh aneh, dan Siapa tahu saja, kedepanya kita bisa menemukan jawaban, untuk memecahkan masalah ini."
"Amiiiiin!" Ucap kami serempak.
Setelah dirasa pembahasan sudah selesai, Kami berempat bangkit lalu menuju lapangan, untuk melanjutkan rutinitas sore dengan bermain bola.
*****
Pukul 20.00. selepas melaksanakan salat Isya, Kami berempat seperti biasa, sudah berangkat menuju ke kampung Kang Arif.
Di perjalanan menuju Kampung Arif, tidak ada gangguan seperti malam-malam sebelumnya. bahkan di saung pekuburan tidak ada suara orang, memang benar kali, mereka memang sudah pindah lokasi.
__ADS_1
Setibanya di kampung Kang Arif, kita langsung disambut oleh Pak RT. namun ada yang berbeda kali ini, terlihat ada seorang anak muda, yang belum kami kenal.
"Bayu!" ucap pria itu memperkenalkan namanya, sambil mengeluarkan tangan ke arah kami.
"Kang Bayu, suaminya teh Isma?" tanya Kang Agus meminta kepastian.
"Iya, terima kasih banyak, kemarin udah menolong keluarga saya!" jawab Kang Bayu sambil tersenyum
Mendengar suara Kang Bayu, rasanya pernah aku kenal, namun aku bingung itu Di mana.
"Sama-sama Kang. kok, ada dirumah, bukannya kerja di kota?" Kang Agus bertanya lagi.
"Iya. namun saya tidak tenang, kalau bekerja terus, sedangkan Kampung Saya lagi di teror, Nanti usaha saya sia-sia, kalau hasil kerja keras saya. Dinikmati pocong si4lan itu." jawab Kang Bayu dengan penuh semangat, bak pahlawan yang siap mengorbankan jiwa raganya, demi ketentraman kampung.
"Iya Kang, kita juga dibuat pusing, oleh pocong jadi-jadian itu." Jelaskan Agus menuturkan permasalahan yang dihadapi oleh warga kampung cikadu.
"Kita harus bersama-sama, merapatkan barisan untuk Menghadang segala kemungkinan, saya yakin suatu saat pocong itu, pasti akan tertangkap, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti mereka akan merasakan jatuh juga. Contohnya banjing loncat." Jawab kang Bayu panjang lebar. Diakhiri guyonnan, sayang itu dingin seperti coolkas, jadi yang mendengar gak ada yang tertawa.
Akhirnya mereka pun mengobrol, berbaur dengan warga. ditemani dengan kopi oleh-oleh dari Kang Bayu, yang baru pulang bekerja dari kota. Berbagi kopi seperti itu, menurutnya itu belum seberapa, jika dibandingkan dengan pertolongan warga, yang diberikan pada keluarganya. namun aku tetap kepikiran, ketika dia berbicara, suaranya itu sangat tidak asing di telinga.
Sama seperti malam sebelumnya, tidak ada gangguan dari pocong jadi-jadian. Malam ini suasananya aman terkendali sampai pagi. bahkan menurut Pak RT, biasanya pocong jadi-jadian itu, kalau libur biasanya hanya sehari. Malam ini adalah malam kedua yang aman dari gangguan pocong.
Merasa cukup aman, Kang Agus pun. seperti biasa dia membangunkan Kami bertiga di sepertiga malam. agar kami bisa mengikuti pengajian ba'da subuh.
Setelah berpamitan, kami pun pergi meninggalkan warga Kampung Cikadu, yang sudah mulai terasa tentram, tanpa ada kehadiran dari makhluk jadi-jadian itu.
Sebelum pulang ke pondok, Seperti biasa aku membersihkan sekolah terlebih dahulu. biar nanti pagi, selesai pengajian aku bisa langsung berangkat ke sekolah. tanpa harus memikirkan tentang pekerjaanku.
*****
Pukul 07.00. aku sudah berada di sekolah, menunggu pelajaran pertama dimulai, ditemani dengan kedua sahabatku.
Dari arah pintu gerbang, terlihat ada sosok laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol, meski kurang jelas, Karena antara sekolah dan pintu gerbang jaraknya lumayan jauh, kurang lebih dari 200 meter. Namun, walaupun begitu. tapi aku yakin, bahwa perempuan itu adalah Fatimah, namun orang yang diajak mengobrol sama dia, aku kurang paham.
__ADS_1
Semakin lama, mereka semakin mendekat akhirnya baru ketahuan, bahwa yang berjalan bersama Fatimah itu, adalah?