JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 29 DICEGAT POCONG


__ADS_3

Pov dalari


"Jangan panik!!" ucap kang Agus, sambil terus menatap ke arah bayangan putih itu, seolah lagi mengukur kekuatan makhluk yang ada di hadapannya.


Pak RT yang semula mau berlari. tapi melihat Kami bertiga tetap berdiri. akhirnya beliau mengalah, kembali ke barisan. untuk bersama-sama berperang melawan pocong itu.


"Kita mau ngapain jang, ayo lari! Jangan melayani makhluk seperti ini." Ajak Pak RT  dengan suara bergetar, menahan ketakutan yang menyelimuti jiwanya.


Orang yang ditanya, tidak menjawab. Kang Agus semakin fokus menatap pocong itu. terdengar, walaupun pelan. dia membaca doa-doa, yang dianggapnya bisa mengusir mahluk halus. namun pocong itu tidak bergeming sama sekali, dia masih berdiri dengan tegak, di tengah-tengah jalan sambil menatap kearah kami.


Huuaahhhhhaahhhahahahhha!!!!.


terdengar suara tawa yang menggelegar, dengan gema yang memenuhi tempat itu. membuat aku dan Pak RT merapatkan tempat berdiri kita, dengan Kang Agus dan Kang Andi.


"Bantu baca doa!" bisik Kang Agus yang terus fokus, menghilangkan makhluk yang mencegat jalan kami.


Akhirnya aku dan Pak RT pun, membaca doa-doa yang kita bisa, membantu Kang Agus untuk mengusir pocong itu.


Tujuh menit berlalu. kami masih berdiri, sambil membaca baca doa, namun tidak ada tanda-tanda, yang menandakan pocong itu akan pergi. Bahkan terlihat pocong itu, sesekali memancarkan cahaya merah, yang keluar dari matanya, kadang juga dibarengi dengan suara tawa, seperti tadi. seolah mengejek Kami berempat, yang sudah mulai merasa ketar-ketir.


"Bagaimana nih, Jang?" tanya pak RT, terdengar suaranya yang semakin menggigil.


Ditanya lagi sama Pak RT, Kang Agus hanya terdengar menarik napas kasar, seolah dia juga frustasi dengan apa yang sedang kami hadapi. terlihat dia mengusap wajahnya, dari peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. bahkan baju Kokonya sampai terlihat lepekmenyerap keringat. padahal ketika memakai baju koko pasti pakai kaos dalam.


Dan bukan hanya Kang Agus yang bercucuran dengan keringat, kami semua yang ada di sini merasakan hal yang sama. Walau keadaannya sangat dingin, namun keringat itu terus bercucuran tanpa memikirkan cuaca. Mau lari rasanya kaki kami terpaku ke tanah, sehingga hanya bisa terus memperhatikan pocong itu.


"Tenang! Dan Tarik napas!" ucap kang Agus dengan pelan, menenangkan rasa percaya dirinya yang mulai hilang.


Kami bertiga mengikuti saran kang Agus, menarik napas  dalam, agar lebih tenang dan bisa berpikir jernih.


"Ya sudah, ayo! kita lewati saja, Biarkan kita masing-masing hidup saja. kita, ya kita. mereka, ya mereka. Toh, kita udah beda alam." saran kang Agus, yang hendak pergi melewati pocong itu.


"Jangan lewat sini, jang. kita cari Jalan terobosan lain!" sanggah pak RT, yang merasa ngeri kalau berjalan harus melewati pocong itu.


Kang Agus pun mengangguk, tanda menyetujuinya. akhirnya kami semua berbalik badan, hendak pergi mencari jalan lain, untuk menuju rumah Pak RT. tiba-tiba kakiku menendang batu, yang besarnya sebesar kepalan tangan anak balita. aku ambil batu itu, kemudin aku berlari menuju arah, di mana pocong itu masih berdiri.


"Dalari mau kemana?" teria kang Andi, yang merasa takut melihat aku mendekati pocong itu.

__ADS_1


Aku tidak mendengarkan teriakan Kang Andi, entah apa yang merasukiku, sehinga aku bisa seberani ini. aku terus mendekati pocong itu, sampai jaraku dan jarak pocong itu kira kira ada sekitar lima meteran. kulemparkan batu yang kugenggam ke arahnya. entah Mengapa aku sangat Penasaran sekali, ingin melemparkan batu  ke arahnya.


"Aduh" terdengar desis seseorang, ketika batu yang kulempar mengenai pocong itu. sehingga membuatku semakin penasaran. kucari batu lagi, untuk dilemparkan ke arahnya. Namun sayang, keadaanku yang tidak membawa penerangan sama sekali, sehingga sangat kesusahan untuk mencari batu yang lainnya.


"Dalari kamu ngapain? ayo kita pulang!" teriak kang Agus yang terdengar panik, melihat Adik kelasnya malah sibuk berjongkok.


"Pocong ini tidak mempan doa, pocong ini mempannya sama batu" balasku dengan berteriak juga, sambil terus meraba-raba area sekitar, mencari batu yang bisa dilemparkan.


Mendengar penuturanku, keberanian Mereka mulai kembali. dengan cepat kang Agus dan kang Andi yang membawa senter kecil, mencari batu atau benda-benda yang bisa dilemparkan.


Tidak sulit mencari bebatuan jika diterangi, sehingga dengan waktu sebentar saja, tangan mereka sudah menggenggam beberapa benda, untuk dijadikan senjata melawan pocong itu. Setelah memiliki senjata, dengan cepat mereka menghampiriku yang masih berjongkok, yang  masih meraba-raba area sekitar mencari benda-benda yang bisa dilemparkan.


"Dalari awas!!" teriak Kang Agus dan Kang Andi, berbarengan.


Aku yang lagi menunduk, tidak sadar dengan keadaan yang sebenarnya, sehingga merasa kaget ketika mereka berteriak.


Bug! bug! bug! bug!


Terdengar suara loncatan yang sangat cepat, menghampiriku.


Teriakku, setelah satu tendangan mendarat di punggung. membuatku jatuh tersungkur ke depan, mencium jalan. Untung saja keadaan musim kemarau, sehingga jalan itu penuh dengan Debu, mukaku tidak terlalu sakit ketika bersetuhan dengannya, hanya mulutku saja yang penuh dengan Debu 


Dengan cepat kumenguasai keadaan, dan membalikan badanku, agar bisa melihat serangan selanjutnya, yang akan dilakukan oleh pocong. namun ketika pocong itu hendak memulai kembali serangannya. satu lemparan terlihat terbang menuju ke arahnya, sehingga pocong itu merunduk menghindari lemparan.


Disusul benda-benda lain yang berterbangan menuju ke arahnya. membuat pocong itu terlihat kalang kabut, menghindari semua serangan, namun ketika serangan itu makin gencar dilakukan, dengan jarak yang semakin dekat, Karena Kang Agus dan Kang Andi mulai merangseg mendekati pocong itu, tiba-tiba.


Hhhhhhuaaahhhaahahahha!!!


Terdengar suara tawa, dibarengi dengan melesatnya pocong itu, terbang ke udara menuju pohon besar yang tumbuh di samping jalan. sehingga kami semua kehilangan jejaknya.


Senter yang sangat tidak memadai, tidak mampu membantu untuk melihat keadaan pohon besar itu.


"Kemana larinya" Kang Andi mengeluarkan pertanyaan bod0h, udah jelas jelas kami semua melihat, bahwa pocong itu terbang ke atas pohon.


Setelah dirasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi, mereka bertiga menghampiriku, yang masih tergeletak di jalan.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Kang Agus, sambil berjongkok di sampingku.

__ADS_1


"Belikatkuuuuuuu" desisku, seperti orang yang kesakitan, padahal tendangan pocong itu tidak terasa sama sekali, mungkin karena pocong itu melakukan tendangan, dengan dua kakinya sekaligus, sehingga itu lebih terasa sebagai dorongan, bukan sebagai tendangan.


"Kenapa dengan belikatmu?" Tanya Kang Agus, yang terlihat panik, kemudian dia berusaha membangunkanku.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Kang Andi, setelah melihatku terduduk.


"Belikatku, sakit banget Kang!" jawabku meringis, dengan sedikit drama.


"Ya sudah, ayo kita pulang nanti di rumah kita obati!" ajak Pak RT, yang sedari tadi terdiam.


"Kamu bisa jalan nggak, dal?" tanya Kang Agus sambil menatap ke arahku.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya gelengan kepala yang kuberikan sebagai jawaban.


"Ya sudah, kamu digendong ya! sama bapak. kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, nanti keburu pocong si4lan itu muncul kembali." saran Pak RT, sambil berjongkok di sampingku.


"Biarkan saya saja, Pak. yang menggendong. Tolong pegangi senternya!" Ujar Kang Agus, sambil memberikan senter korek yang ada di tangannya.


Kemudian Kang Agus berjongkok, membelakangiku. dengan Sigap Pak RT, dan Kang andi mengangkat tubuhku, untuk didekatkan ke punggung Kang Agus.


"Kamu pegangan yah!, biar gak jatuh." Pinta Kang Agus setelah Dia menyangga tubuhku dengan kedua tangannya supaya tidak terjatuh.


Akhirnya Kami berempat  melanjutkan perjalanan. setelah melewati rintangan yang begitu menakutkan. Aku yang sedang digendong oleh Kang Agus, rasanya sangat bahagia. rasanya seperti memiliki kakak, yang selalu melindungi adiknya, membuat sudut kedua bibirku terangkat.


Begitulah kehidupan para santri, walaupun awalnya Kang Agus sudah mewanti-wanti mengingatkan. ketika aku mau ikut. dia bilang, kalau ada sesuatu yang terjadi menimpaku, Kang Agus tidak akan menolongnya. namun itu hanya kata-kata saja, rasa persaudaraan yang terjalin begitu kuat, sehingga ketika ada saudaranya yang kesakitan, maka dengan suka hati mereka akan membantu.


Lagi ngelamun, membayangkan mempunyai seorang kakak. tiba-tiba mataku menggeryep kaget, karena senter yang dipegang Kang Andi mengarah ke muka.


"Ngapain kamu senyum-senyum, begitu. kamu pura-pura yah!" tanya Kang Andi setelah melihat ekspresi wajahku.


Dengan cepat tangan Kang Agus yang menyangga tubuhku. terlepas begitu saja, Untung aku masih bisa berdiri tegak. tidak terjatuh, ketika Kang Agus melepaskan gendongannya.


Melihat situasi seperti ini, dengan cepat aku berlari menuju rumah Pak RT, yang sudah terlihat.


"Eh, bocah tengik! kurang ajar, kamu ngerjain orang tua?" Teriak kang agus, yang berlari mengejar di belakangku.


Itulah kehidupan para santri, meskipun umur udah dibilang dewasa, namun kelakuan masih seperti bocah, masih suka main kejar-kejaran, sambil dibarengi dengan tertawa. yah, namanya juga Anak Santri, yang namanya juga anak-anak harap dipahami.

__ADS_1


__ADS_2