JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 49 BERAKSI


__ADS_3

Pov bayu


Setelah berada di luar rumah, aku segera berjalan menuju ke area pekuburan, untuk menjalankan misi pertunjukan di rumah Pak Haji Goni.


"Siap?" Tanyaku setelah berada di Kebon bambu dekat pemakaman.


"Ayo Kita mulai beraksi!" jawab pria yang ada di hadapanku dengan semangat, meski tidak nampak mukanya, namun aku bisa mengenali suara.


Kita berjalan mendekati salah satu rumpun bambu, yang berjajar sangat bnyak diarea pekuburan, biasa bambunya digunakan untuk penutup mayat. lalu membuka bunker tempat penyimpanan benda benda pertunjukan. mulai dari topeng ,baju putih, serta benda-benda lainnya, yang biasa di gunakan sebagai pelengkap pementasan.


Aku menggunakan pakaian hitam, lalu dibalut dengan kain putih, yang menutupi kepala. di bagian atas kepala diikat oleh tali, sehingga terlihat berkuncung. lalu muka kita masing-masing ditutup dengan topeng  yang terbuat dari getah karet, permukaan kulit yang sangat kasar, apalagi dicat dengan warna merah. sehingga akan terlihat seram ketika ada yang melihat.


Setelah selesai mempersiapkan semua, kita berdua berjalan pelan meninggalkan tempat yang dijadikan basecamp. berjalan di tengah kegelapan malam, hanya terlihat bayangan hitam, yang berkelebat pergi menjauh dari area pemakaman.


10 menit berjalan, akhirnya kita sampai di salah satu rumah yang nampak mewah dari luar, rumah terbesar dan terbagus di kampung Cikadu. kupindai semua sudut area di rumah itu, dengan cara mengelilingi area pekarangan samping rumah, yang nampak sepi. karena kebiasaan warga Kampung ,ketika tidak meronda maka akan tidur lebih cepat, apalagi kalau siangnya sehabis bekerja di ladang.


Setelah puas mengelilingi rumah pak haji Goni, aku  memberikan kode, yang hanya kita berdua yang paham.


Aku menuju samping rumah sebelah kanan, sedangkan partnerku menuju samping rumah sebelah kiri. setelah berada di dekat jendela  kurogoh saku Celanaku, lalu mengeluarkan koin untuk mengetuk kaca jendela, agar suara ketukannya terdengar sangat aneh, seperti kuku yang dipantulkan dengan kaca.


Trek! trek! trek!


Aku mulai mengetuk-ngetuk kaca jendela, terdengar Suaranya sangat nyaring, karena keadaan Malam yang begitu sunyi ,sehingga suara sedikitpun bisa terdengar jelas.

__ADS_1


Setelah tujuh Kali mengetuk, aku menghentikannya. giliran temenku yang berada di samping kanan. mengetuk-ngetuk jendela dengan koin. sehingga mereka yang berada di dalam, menganggap kita bisa berpindah tempat dengan begitu cepat.


Setelah temanku mengetuk tujuh kali, aku pun segera merogoh  kantong kembali, mengambil butiran pasir, untuk dilemparkan ke atas genteng, sehingga seperti hujan yang berjatuhan, menambah suasana mistis.


Trek! trek! trek!


Aku ketuk kembali kaca jendela, sebelah kanan rumah, yang berada tepat disamping kamar. menunggu orang yang ada di rumah, terpancing untuk melihat keadanku, yang begitu menakutkan.


Lama berusaha, akhirnya tirai penutup jendela terbuka. diikuti suara teriakan yang begitu keras, suara teriakan ketakutan, setelah melihat mahluk yang begitu menyeramkan mengetuk jendela rumahnya.


Setelah mendengar teriakan. aku segera menuju sisi samping kanan rumah Pak Haji Goni, untuk menemui sahabatku.


Setelah bertemu, tanpa ada aba-aba. aku mengeluarkan linggis untuk mencongkel jendela, Karena setelah Kedatangan para santri, para warga lebih berhati-hati, mereka mengecek ulang semua akses yang bisa masuk ke rumahnya.


Setaah di congkel, Jendela itu terlepas, aku segera memasukkan bom asap ke dalam rumah, selain untuk menakuti warga, bom asap berguna untuk mengkamuflase kedatangan kita,  seolah-olah kita keluar dari kepulan asap itu.


Setelah asap itu sudah menebal, temanku dengan cepat, ia masuk ke rumah pak haji.  berdiri di belakang bom asap, sehingga nanti akan terlihat, Ketika asap yang keluar sudah habis. maka tinggallah sosok putih menyeramkan, menggantikan asap itu. tak lupa menyemprot kan parfum yang beraroma daun kamboja, yang tumbuh biasa tumbuh diarea pekuburan. lalu menyemprotkan parfum yang berbau busuk, bau bangkai sebagai tanda kedatangan mahluk astr. Parfum farfum itu aku dapat dari toko-toko sulap yang ada di kota.


Aku yang menunggu di luar jendela, terus memperhatikan keadaan sekitar, takut ada warga yang datang. sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat pekerjaan sahabatku.


Aku Kencangkan baju yang menutupi tubuh, baju yang terbuat dari kain putih, sehingga ketika orang ada yang melihat. mereka pasti menganggap aku adalah hantu, yang datang dari pekuburan.


Malam ini rasanya sangat gelisah sekali, ketika menunggu sahabatku. melakukan aksinya di dalam rumah. aku perhatikan jam tangan yang ada di tanganku, sebagai waktu pengontrol kita, ketika melakukan aksi, yang tidak boleh lebih dari 10 menit. hasil atau enggak ketika aku sudah habis, maka sahabatku akan keluar, untuk segera pergi dari tempat pertunjukan.

__ADS_1


Beberapa kali aku menengok ke dalam rumah, namun tak ada tanda-tanda keberadaan dari sahabatku, di ruang tengah hanya terlihat sisa-sisa Ke Bulan asap.


Lima menit berlalu, masih belum ada tanda-tanda pergerakan dari dalam rumah. tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh, dari salah satu kamar, Mungkin sahabatku sedang mengacak-ngacak kamar, untuk mencarii barang berharga yang bisa kita ambil, sebagai bayaran pertunjukan.


Kupalingkan pandanganku dari arah dalam rumah, memperhatikan kembali keadaan sekitar. sambil berharap harap cemas, bahkan aku sampai mondar-mandir, Karena rasa gelisah yang begitu mengganggu.


Delapan menit berlalu, aku coba menyumbulkan kepala kembali, ke dalam rumah. untuk mencari keberadaan sahabatku yang masih berada di dalam kamar, masih terdengar mengacak-acak isinya.


Cklek!


Suara Pintu dari kamar yang sedang diacak-acak oleh temanku terbuka. lalu muncullah sosok putih, sambil mengeleng-gelengkan kepala. memberi tanda, bahwa tidak ada benda yang bisa dicuri di dalam.


Aku hanya mengangkat dua jariku, memberi tanda, waktu yang tersisa hanya tinggal 2 menit lagi.


Diberi tanda seperti itu, dia hanya mengangguk, lalu masuk ke kamar yang lainnya terus.mencari benda-benda berharga yang bisa dijadikan pembayaran untuk pertunjukan kita.


Terdengar Suara orang yang lagi mengacak-ngacak kamar  lagi, tanda sahabatku mulai melakukan aksinya kembali, tak lama dia keluar lagi dengan menggeleng-gelengkan kepala, memberi tanda bahwa di kamar itu tidak ada sesuatu yang bisa kita ambil.


Temanku lalu mendekati Kembali Salah satu pintu kamar yang lainnya, mungkin itu adalah kamar yang terakhir yang ada di ruang tengah. namun hatiku tiba-tiba tidak mengizinkan, dengan cepat aku menggeleng-geleng kepala, memberi tanda agar ia tidak masuk ke dalam.


Namun dia tetap melangkahkan kaki, menuju pintu kamar. sehingga dengan reflek Aku mengeluarkan kembali tanganku dari dalam bungkusan, memberi tanda jarak agar dia segera menghentikan aksinya. namun keras kepalanya dia terus melakukan aksi itu.


Dengan kesal aku pun menutup pintu kaca jendala dari luar, karena perintahku diabaikannya. kupidai lagi area sekitar untuk, mengecek keadaan yang benar-benar terlihat sepi.

__ADS_1


"Dasar bodoh, padahal kalau sudah seperti ini  nanti bisa-bisa kita ketahuan, padahal kalau masih penasaran, suatu saat kita bisa datang ke sini lagi. kita mencari tahu terlebih dahulu di mana Pak haji Goni, menyimpan barang-barang berharganya.


__ADS_2