JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
pary 24 INALILLAHI ARIF


__ADS_3

Pov dalari


"Rif, arif, bangun" bisik Kang Agus, membangunkan Kang Arif, yang jelas-jelas matanya terbuka lebar.


"Dalari, Tolong ambilkan air putih" pinta Kang Agus, menyuruhku.


Dengan cepat aku pun pergi ke dapur, setelah mencari beberapa saat. aku melihat ember air, tanpa pikir panjang aku mengambil air itu, dengan gelas yang ada dirak prabot dapur. lalu membawanya kembali ke Kang Agus.


"Duduk" tawar Bapak Kang Arif dengan pelan, sambil terus memperhatikan anaknya.


Aku menurut, duduk di samping Kang Agus, aku berdoa supaya Kang Arif baik baik saja.


Kang Agus mulai Berdoa, lalu ditiupkan ke air yang ada dalam gelas. setelah itu dia memasukkan jarinya ke dalam gelas, kemudian mengusapkan Kemukakan Arif, sehingga matanya menjadi tertutup, dengan perlahan dia memeluk tubuh Kang Arif, untuk dibaringkan di kasur.


"Bapak, Arif Kenapa, Pak. Innalillahi, ya Allah" ujar ibu kang Arif dengan terbata-bata, dibarengi dengan suara tangis yang keluar.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun" ucap Bapak Kang Arif, sambil memeluk tubuh istrinya, terlihat matanya yang berenang dengan air bening.


"Arif, Pak.Arif" ujar wanita setengah baya meradang, memanggil-manggil nama anaknya


"Maaf, Bu, pak. tolong tenang! Kang Arif tidak apa-apa, dia hanya pingsan. nadinya juga masih berdenyut" jawab Kang Agus menenangkan mereka, sambil menunjukkan tangannya, yang sedang memegang pergelangan Kang Arif memperlihatkan nadinya.


"Arif, kenapa?" tanya bapaknya, dengan suara parau


"Sudah, Tolong jangan panik, tenang. Biarkan saya menyadarkannya" pinta kang Agus, sehingga membuat suara tangisan ibu kang Arif sedikit menurun.


"Arif, nggak apa-apa kan, Gus." tanya ibu itu yang masih terisak.


Kang Agus tidak menjawab, dia kembali fokus menatap Tubuh Kang Arif. lalu dengan perlahan dia meraba leher Kang Arif, seperti mencari sesuatu. Setelah dari leher Ia turun ke bawah dada.


"Tolong bantu buka celananya!" pinta kang Agus, sambil menoleh kearahku, dengan perlahan aku membantu melepaskan celana Kang Arif, menyisakan kolornya yang menutupi lutut.


"Coba, kamu cari di bawah dengkulnya, Apa ada benjolan kecil" pintanya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga kang Arif. Dengan pelan kang agus membisikan bacaan-bacaan Alquran, dan sesekali menyebut nama Kang Arif, seperti sedang membangunkan orang yang lagi tertidur.


"Ada kang" ujarku, setelah menemukan apa yang disebutkan Kang Agus, bentuknya seperti darah yang menggumpal, menyumbul dari kulit sebesar kelereng.


"Fokus berdoa sama Allah, dengan doa yang kamu bisa. Lalu ikuti benjolan itu, jangan sampai naik ke atas"

__ADS_1


Aku mengikuti perintah Kang Agus, membaca doa-doa yang  pernah dipelajari di pondok. Lalu kembali memijat benda Bulat itu. aneh, tapi nyata. ketika tanganku hendak menyentuhnya , benjolan itu berlari Seperti takut dengan telunjukku.


"Tahan jangan sampai ke atas" seru Kang Agus, mengingatkan.


Telunjukku terus mengikuti benjolan itu, yang sudah berada di betis, semakin aku dekatkan, semakin Iya menjauh. membuat kejadian itu terasa lucu, sehingga sudut bibirku terangkat.


"Fokus, jangan ketawa" bisik kang Agus, dengan membulatkan mata.


Benar saja ketika aku tidak fokus berdoa, benjolan  kecil itu berhenti, sehingga aku bisa memegangnya. namun keanehan itu terjadi kembali, tanganku merasa tersetrum ketika aku memegangnya.  Membuatku menjauhkan tangan dari benjolan itu.


"Makanya, fokus!" bentak Kang Agus, yang tak suka melihat aku bermain-main.


Aku menarik nafas dalam, kembali memfokuskan pikiranku untuk berdoa , lalu mengusir kembali benjolan yang ada di kaki kang arif, semakin lama semakin ke bawah. akhirnya benjolan itu hilang, setelah melewati jari kaki Kang Arif.


"Hilang kang" ujarku sambil menatap heran kearah Kang Agus, namun dia tidak menjawab.


Kang agus terlihat kembali memasukkan tangannya, ke dalam gelas. lalu mencipratkannya ke muka Kang Arif, beberapa kali dia Memanggil nama Kang Arif ditelinganya, dengan pelan.


Melihat tidak ada reaksi, kang agus merogoh saku kokoknya, mengambil minyak wangi, kemudian membuka tutupnya. setelah botol minyak wangi itu terbuka. dia mendekatkan ke hidung Kang Arif, lalu memanggil kembali namanya.


Perlahan, tapi pasti. terlihat kelopak mata Kang Arif bergerak gerak, menandakan sebentar lagi dia akan sadar.


Akhirnya mata Kang Arif terbuka dengan sempurna, bola matannya memperhatikan sekeliling kamar.


"Ariiiiiiiiiiif" teriak ibunya,hendak memeluk kang arif, namun dengan sigap kang Agus menahan.


"Biarkan, Arif. Benar benar sadar, bu. kalau boleh tolong buatkan yang manis-manis, supaya kekuatannya kembali pulih" pinta Kang Agus.


"Apa itu" tanya ibu Kang Arif, matanya yang sembab menatap lekat Kang Agus.


"Apa aja, boleh. yang penting manis termasuk teh Manis juga, boleh" jawab Kang Agus menjelaskan.


"Kalian juga mau ngopi" tawar ibu kang Arif, yang hendak bangkit untuk membuat teh manis.


"Boleh, bu." jawab Kang Andi sambil tersenyum malu-malu.


Tak ada pembicaraan lagi, ibu kang Arif langsung pergi dari kamar, dan tak lama kembali dengan membawa nampan, yang diisi oleh teh manis dan beberapa gelas kopi.

__ADS_1


Setelah teh itu tidak terlalu panas, Kang Agus membangunkan tubuh Kang Arif agar bersandar. Supaya air teh itu masuk ke mulutnya dengan mudah.


"Ya sudah, kamu istirahat rif! supaya tubuhmu, kembali segar. maafin aku, kalau aku tidak memaksa, kamu. untuk lewat jalan terobosan, Mungkin kejadiannya gak akan seperti ini" seru Kang Agus, sambil menatap nanar ke arah Kang Arif Mungkin dia merasa bersalah karena keegoisannya sampai-sampai temannya seperti ini.


Kang Arif hanya tersenyum, sambil menatap Kang Agus. "nggak apa-apa Kang, buat pembelajaran kita semua," ucap kang arif pelan, namun kita semua bisa mendengarnya.


"Ya udah kamu istirahat! Dan Cepat pulih, kita masih banyak tugas, yang harus diselesaikan" Kang Agus berkata, lalu ia bangkit dari tempat duduknya, menuju keluar kamar. membiarkan Kang Arif beristirahat dengan tenang.


Setelah berada di luar kamar, mataku terbelalak kaget. ternyata di ruang tengah rumah kang arif, sekarang. sudah banyak orang, mungkin para warga berdatangan, ketika mendengar suara tangisan ibu kang Arif.


"Gimana keadaan Jang Arif?" tanya Pak RT, setelah melihat kang Agus duduk.


"Alhamdulillah, sudah baikan, Pak. sekarang kang arif, lagi istirahat " Jelas kang Agus sambil mengeluarkan bungkusan rok0k dari sakunya. kemudian ia mengambil sebatang untuk dibakarnya.


"Jang Agus, suka ngerok0k, juga" tanya pak RT, sambil menatap sama Kang Agus.


Kang agus hanya tersenyum, tidak menjawabnya. namun, terlihat Pak RT, menyuruh seorang warga, untuk membeli rok0k, yang sama dengan Kang Agus.


"Sebenarnya, apa yang menimpa Jang Arif" tanya Pak RT, merasa penasaran dengan kejadian yang terjadi.


"Syok, kelewat kaget, Pak. sehingga tubuhnya tidak merespon, dengan keadan sekitar. kalau menurut kebiasaan kita, itu yang disebut pingsan, namun pingsannya Kang Arif Emang sangat aneh, matanya terbuka, seperti orang yang kesambet" Jelas kang Agus, membuat mata Pak RT terbelalak, tidak mengerti apa yang disampaikan.


"Maksudnya gimana, Jang." tanya Pak RT, mencari kejelasan.


"Kesurupan atau kesambet" jawab Kang Agus, memperjelas penjelasannya.


"Kok nggak teriak-teriak, atau nggak berbuat aneh seperti biasanya orang kesurupan," Pak RT bertanya kembali.


"Tidak semua orang yang kesurupan itu, harus berteriak-teriak, sama seperti orang yang pingsan, tidak selamanya matanya harus tertutup. jadi ada suatu kejadian di mana orang-orang yang kesurupan itu diam, dan orang pingsan juga matanya terbuka" Jelas kang Agus sambil memukul-mukul asbak dengan rok0k, untuk menjatuhkan abunya.


"Terus benjolan tadi, itu apa, kang." Tanyaku yang masih penasaran.


"Aku juga tidak tahu, kenapa setiap orang yang kesurupan, suka Ada benjolan seperti itu, biasanya itu ada di leher, kalau nggak ada di leher, di bawah dada. kalau nggak ada di bawah dada, ada di bagian dengkul belakang, makanya ketiaka kita juga  melihat orang yang kesurupan, suka dipijat dengkol bagian belakang, tapi wallahualam" jelas Kang Agus.


"Oooooh, ternyata seperti itu, terus ada doa khusus nggak, buat mengobati orang kesurupan" tanya Pak RT, penuh penasaran.


"Kalau kesurupannya diganggu oleh jin, sebenarnya tidak ada doa khusus, yang penting kita baca doa sebisa kita sambil berharap Allah memberikan pertolongan, dan kita harus yakin, dengan doa kita. karena, salah satu ijabahnya doa itu adalah keyakinan kita. Tapi kebanyakan yang saya temui, kesurupannya pura-pura, atau depresi, itu harus dibawa ke medis." Jelas kang Agus, sehingga orang yang mendengarkan di situ, berdecak kagum melihat wawasan Kang Agus.

__ADS_1


Obrolan itu terhenti, setelah terdengar suara warga  yang teriak-teriak dengan riuh, di depan rumah Kang Arif.


__ADS_2