
Pov bayu
Namaku Bayu Setia, aku adalah salah satu warga dari kampung Cikadu, walaupun sebagai pendatang. kampung ini menerimaku dengan baik, bahkan mereka memberikan satu kembang kampungnya untuk aku nikahi.
Aku baru beberapa bulan tinggal disini, belum genap setahun. menikah dengan isma anaknya pak rojak. mereka mau menerimaku sebagai keluarga mereka, karena mereka tahu bahwa aku sudah memiliki pekerjaan, dibuktikan dengan membuat rumah untuk istriku.
Mereka tidak tahu bahwa aku bekerja di kota, hanya sebagai pesulap jalanan. namun lama-kelamaan sulap itu menjadi membosankan, nggak ada tantangan sema sekali, dan sepinya peminat. Sehinga ada teman yang menyarankanku, untuk mencari tempat pertunjukan yang lebih menantang, yaitu pentas dari pintu ke pintu, sebagai bayarannya aku mengambil sebagian dari harta mereka.
Kebetulan di kampung istriku, ada seorang anak, yang memiliki jiwa seni yang begitu tinggi. sehingga dia bisa membuat satu topeng, dari getah karet yang dicetak. Membentuk muka yang begitu seram, apalagi dibalut dengan kain putih yang ikat kuncungnya. Membuat begitu terlihat nyata.
Usahaku dikampung awalnya lancar-lancar saja, sampai-sampai ada anak santri yang mulai mengganggu kredibilitasku, mereka mematahkan anggapan bahwa yang pentas itu adalah hantu beneran, dengan pola pikir yang begitu cerdas.
Sebulan lebih bekerja, aku sudah bisa membeli rumah di desa sebelah. orang-orang tidak tahu, aku sebenarnya. tidak pergi ke kota, namun aku tinggal di rumah itu, dan ketika mau melakukan pentas aku kembali ke kampung.
Kejadian tadi pagi, sangat mendebarkan. sehingga aku menganggap bahwa tadi pagi itu, adalah hari terakhirku untuk mentas, namun dengan kecerdikanku, aku bisa terbebas dari segala tuduhan yang dilontarkan warga terhadaku.
Sebenarnya fartner kerjaku menyarankan untuk segera berhenti, karena situasi yang mulai tidak kondusif. Para warga mulai mengendus keberadaan kita, namun aku menolak. karena belum mempunyai tabungan yang banyak, apalagi orang terkaya dikampung ini, belum sempat menonton pertunjukan kami.
Pukul 12.00. aku pun bangun dari tidur, karena semalam Aku mentas di rumah Pak Firman, sehingga mataku merasa ngantuk.
Benar. aku tidak tidur bareng para warga, aku hanya pura pura saja, kemudian terbangun ketika semua warga mulai terlelap.
Aku menampilkan kreativitasku, di rumah Pak Firman. tidak banyak saweran yang mereka berikan, hanya seperangkat emas yang ada di tubuh istrinya, sebagai bayaran atas pertunjukanku, namun itu cukup untuk bertahan beberapa hari ke depan.
Setelah mataku terbuka dengan sempurna, Aku menuju kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhku yang terasa berat. kemudian aku melaksanakan salat di masjid, untuk menutupi semua kejelekanku, berkamuflase bagai bunglon, menghindari prasangka buruk warga.
Selesai melaksanakan salat zuhur, istriku sudah duduk menunggu di ruang makan. Karena sedari pagi, aku belum sempat memasukkan makanan apapun.
__ADS_1
"Ayo, Makan dulu!" tawar istriku sambil memberikan senyum manis, menyambutku yang baru datang.
"Iya, ayo kita makan bareng!" jawabku mengajaknya, untuk menemaniku makan.
Setelah selesai, makan isma dengan cepat menyiapkan kopi, karena kebiasaanku setelah makan harus disambung dengan kopi, biar lambungku tidak ngantuk.
"Kasihan, ya. istri Pak Firman. semua perhiasannya hilang, sama sepertiku." ucap istriku membuka pembicaraan, kembali terlihat raut wajahnya yang sendu, Mungkin dia belum ikhlas karena uang yang aku berikan sudah hilang.
"Iya sangat kasihan, semoga saja pocong jadi-jadian itu cepat tertangkap!" ujarku menyahuti, agar tidak membuatnya curiga.
"Maafin aku ya, A. gara-gara keteledoranku, semua uang simpanan kita raib digondol pocong." ujar istriku matanya yang mulai mengembun, merasa bersalah atas kejadian yang menimpanya.
Aku memeluk istriku untuk menenangkannya, karena dia tidak tahu, aku lah yang mengambil perhiasan dan uangnya. Kuusap lembut rambutnya, agar isma tak berlarut-larut, dalam kesedihan.
"Gak apa-apa! Semoga saja, semua harta kita yang hilang, diganti oleh Allah dengan yang lebih banyak!" Tenangku sambil terus mengusap-ngusap rambutnya.
"Amiiin. Sekali lagi, aku minta maaf, ya!" Ujar isma mengulang kembali permintaan maafnya.
Mendengar ucapanku seperti itu, is.a menatap nanar kearahku sambil tersenyum. wajahnya yang terlihat merah, membuatku semakin Mencintainya.
Wajah kita saling mendekat, sehingga napas kita berdua beradu, semakin lama wajah kita semakin mendekat, hingga kedua bibir kita beradu. perlahan bibir itu saling *******, saling membasahi dengan air liur masing-masing.
Terdengar suara napas Isma yang semakin memburu, menandakan dia ingin segera dinafkahi batinnya.
"Kamu wanita tercantik, Neng." lirihku sambil terus menc1umi bibir seksinya, menc1um sampai leher, hingga *******-***** kedua Puncak kenikm4tannya.
"Kamar, A." ajak istriku dengan suara parau, membuat hasrat Kelelakianku terpanggil, apalagi aku yang baru beberapa bulan menikah, masih hangat-hangatnya, berada di dalam ranj4ng
__ADS_1
Dengan segera, aku menggendong tubuh istriku. yang belah4n d4danya, sudah terbuka. Membawanya menuju kamar. diperlakukan seperti itu, Isma hanya tersenyum, sambil mengaitkan tangannya kepundaku.
Sejam berlalu, akhirnya kita menyudahi permainan kamar itu, terdengar suara napas yang masih keluar dengan sangat memburu, melepas lelah yang begitu luar biasa.
"Terima kasih ya, Neng!" ujarku sambil tersenyum.
Isma tidak menjawab, dia hanya memeluk tubuhku dengan erat, Mungkin dia takut ditinggalkan olehku, yang gagah perkasa, bisa menafkahi lahir batinnya. tak ada pembicaraan lagi setelah itu, hanya dengkuran keras, terlelap setelah melakukan pertempuran yang sangat berat.
******
Setelah melaksanakan salat Isya, aku pun berpamitan sama Istriku, mau ikut ngeronda agar warga tidak semakin Curiga dengan pekerjaanku, Yang mengganggu mereka.
Sebelum berangkat, tak lupa istriku memberikan sekantong kopi yang sudah diseduh, menurutnya, agar aku tidak diracuni orang lain, seperti tadi malam. Kuterima pemberian itu dengan tersenyum, sebagai tanda terima kasih atas perhatian yang dia berikan.
"Di rumah hati-hati ya, Neng." ujarku sebelum pergi meninggalkan istriku sendirian.
"Aa, juga hati-hati!" Jawabnya sambil mengedipkan mata, membuatnya terlihat sangat manja.
Aku pergi meninggalkan rumah dan istriku. setelah tak terlihat isma, aku langsung berbelok ke Jalan Setapak, yang digunakan warga untuk pergi ke kebunnya. aku tidak langsung pergi ke pos ronda, Karena ada urusan yang harus diurus terlebih, dahulu di pekuburan umum.
Benar. aku tidak jadi pindah dari Saung pekuburan, karena setelah aku dan partnerku merencanakan untuk pindah basecamp di malam itu, Keesokan paginya aku mengecek kembali area sekitar, Saung pekuburan, terlihat ada rumput yang terduduki sehinga rata dengan tanah, menandakan aku sudah diikuti sekian lama.
Mengetahui itu, aku yakin mereka yang mengintipku, pasti akan mengikuti ke tempat baru, yang sudah kita rencanakan. namun Jangan panggil aku Bayu, kalau aku tidak cerdik. aku tetap menjadikan pekuburan, sebagai basecamp untuk memulai pertunjukan. Hanya lokasinya saja yang sedikit bergeser, yang semula dari Saung, sekarang bergeser di tempat yang paling pojok di area pekuburan. Tempatnya sangat sepi, karena tidak mungkin ada orang yang berani malam-malam masuk ke kebun pohon bambu.
Sesampainya di basecamp baru, terlihat di tengah-tengah kegelapan, ada titik api yang menyala membakar rokok. menandakan partnerku sudah datang terlebih dahulu.
Setelah memperhatikan keadaan sekitar dengan teliti, dan dirasa cukup aman, aku dengan cepat menghampiri orang yang sedang duduk di atas tembok kuburan itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Kapan kita mau pentas lagi?" tanya partnerku sambil bebisik.
"Malam ini, kita libur terlebih dahulu. Aku ingin memantau situasinya. kalau memungkinkan, besok kita eksekusi rumah Pak Haji goni, sesuai rencana kita sebelumnya. biar ketika kita mencari lapak baru, kita sudah mempunyai modal untuk bertahan hidup." Aku memberikan pengarahan sama fatnerku yang masih di bawah umur.