
Pov dalari
"Sudah! sudah! Tolong hentikan!" Bentak pak RT. yang menjadikan tubuhnya sebagai pelindung Kang Bayu, yang sudah tidak berdaya.
Melihat pak RT yang mengorbankan dirinya, akhirnya ada beberapa orang yang membantu melindungi Kang Bayu, agar terbebas dari amukan warga, yang sudah nampak emosi.
Setelah beberapa orang menghentikan, akhirnya para warga pun tersadar, mereka mulai menghentikan Serangan yang bertubi-tubi ke arah Kang Bayu.
"Cukup! cukup!" bentak Seorang warga yang terlihat sudah tua, untuk mennhentikan aksi warga, yang terus menghakimi kang Bayu. akhirnya semua orang pun berhenti memukuli Kang Bayu, yang sudah terkulai lemas, tak berdaya, mungkin bisa disebut pingsan.
"Kenapa diam? ayo Kita hajar terus, sampai m4mpus!" usul Seorang warga yang masih terlihat geram.
"Jangan nanti harta kita nggak bisa balik?" saran Seorang warga yang menolak saran warga lainnya.
"Emang bisa, Kalau harta kita balik?" tanya Seorang warga.
"Bisa saja! kalau hartanya belum digunakan." jawab orang yang memberi saran.
"Bagaimana Pak RT?" Tanya Seorang warga yang meminta kejelasan kepada tetua mereka.
"Benar. kita jangan main hakim sendiri, kembali atau enggaknya harta kita. kita tidak berhak menghakimi nyawa seseorang, biarkan Bayu hidup, Siapa tahu saja suatu saat dia bisa mengakui kesalahannya, dan berubah menjadi orang yang baik." jelas Pak RT yang terduduk di atas tanah, menghadap tubuh Kang Bayu yang tak bergerak sama sekali.
"Mendingan Bunuh saja! soalnya maling tetap akan menjadi maling seumur hidupnya, karena itu sudah menjadi kebiasaan atau sifatnya. Dia bukan berudu yang bisa bermetamorfosa menjadi katak!" sanggah Seorang warga yang tidak setuju dengan saran Pak RT.
"Jangan seperti itu, kita tidak tahu kedepannya Bayu akan seperti apa, Biarkan pihak yang berwajib yang mengurus dia!" saran Pak RT.
"Terus kita harus bagaimana?" Seorang warga bertanya kembali.
"Kita bawa Bayu ke kampung, nanti kita satukan dengan Dadun. untuk diserahkan ke aparat desa, agar diproses sesuai hukum yang berlaku!" jawab Pak RT memberikan petunjuk.
__ADS_1
"Terus, bagaimana membawanya, diakan pingsan?"
"Gampang, kita cari pohon bambu, untuk dijadikan tandu." jawab Seorang warga memberi saran.
Tanpa di komando, dia pun berdiri lalu mencari rumpun bambu, untuk dijadikan alat untuk menandu Kang Bayu, tak lama Ia pun kembali, dengan membawa sebilah bambu berukuran dua Meter lebih.
"Kok cuma satu?" tanya Pak RT yang menatap heran ke arah orang yang membawa bambu.
"Buat apa banyak-banyak Pak? satu bambu saja sudah cukup!" jawab warga itu, sambil berjongkok di hadapan Kang Bayu.
"Bagaimana cara membawanya?" tanya pak RT yang masih menatap heran ke arah orang itu, karena biasanya tandu itu terbuat dari dua bambu, yang diikat oleh tali, dan korban biasanya disimpan di tengah-tengahnya.
Pria itu tidak menjawab, Dia hanya mengambil lengan Kang Bayu yang masih terikat, lalu membukanya. kemudian tangan dan kaki Kang Bayu diikat kembali dengan kuat. Ke bambu yang ia bawa, seperti membawa hewan Buruan, Yang Diikat kedua kaki dan tangannya.
"Ayo kita Gotong!" Pintanya sambil melirik ke arah orang-orang yang masih berdiri, menatap heran ke arahnya yang begitu tega, menyamakan manusia dengan hewan buruan.
Diperintah seperti itu, mereka pun tersadar, akhirnya dengan terpaksa Mereka pun mengikuti saran orang yang memberikan ide, menggotong kang Bayu dengan posisi tangan dan kakinya yang diikat ke Bambu, sebagai alat untuk membawa tubuhnya.
Akhirnya suara riuh orang pun pergi meninggalkan area, di mana terjadi penangkapan Kang Bayu. dengan suara riuh saling bercerita, tentang apa yang mereka alami barusan. Suara itu semakin menjauh mendekati kembali perkampungan warga, yang nampak sepi, karena semuanya tadi berlari mencari keberadaan Kang Bayu yang kabur. menyisakan orang-orang yang menjaga keberadaan Dadun.
Sekian lama berjalan, akhirnya para warga sampai ke pos ronda, di mana Dadun ditahan. terlihat sudah banyak ibu-ibu yang menonton, mungkin mereka penasaran dengan sosok pocong jadi-jadian.
"Aaaaaaaaaa!" teriak seorang wanita, yang menjerit setelah melihat kedatangan kami yang menggotong kang Bayu di sebilah bambu.
"Kenapa kalian tega berbuat seperti ini, ini manusia, Ini orang, bukan binatang!" teriak teh Isma yang melihat suaminya diperlakukan seperti hewan buruan.
Para warga tidak menjawab, namun mereka menyimpan tubuh Kang Bayu, yang terkulai lemas, di atas tikar yang berada di pos ronda. Teh Isma pun memeluk tubuh suaminya, sambil membuka ikatan ikatan yang ada di tangan dan kaki Kang Bayu. sambil terus menangis menyalahkan warga yang memperlakukan suaminya seperti itu. Di tengah tangisannya, teh Isma kerap kali memanggil-manggil nama Kang Bayu.
"Sabar Isma! suamimu adalah orang yang jahat. kamu harus bisa sabar, menerima kenyataan ini." ucap pak RT yang menenangkannya, sambil mengusap-usap punggung teh Isma, diikuti oleh pelukan kedua orang tua teh Isma yang sudah sampai di situ, karena mendengar teriakan riuh orang orang.
__ADS_1
"Bayu kenapa?" tanya ibu teh Isma sambil memeluk anaknya.
"Mereka semua jahat, Bu. mereka hendak membunuh A Bayu!" ujar teh Isma terus menyalahkan warga yang menghakimi. tidak terima dengan apa yang terjadi kepada suaminya, Padahal sudah jelas suaminya memang bersalah.
"Pak RT, sebenarnya, ini ada apa?" tanya Bapak teh Isma sambil menatap ke arah Pak RT, seolah meminta penjelasan dengan semua yang terjadi.
"Mohon maaf, kang ajid, menantu akang adalah orang yang suka meresahkan warga kampung kita, menantu Akang lah Yang berbuat onar, dengan berpura-pura menjadi pocong. Sebenarnya kami sudah curiga sekian lama, Namun Baru kali ini saya bisa menangkap basah Bayu dan Dadun!" jelas Pak RT, membuat Bapak teh Isma melongo, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kang ajid, kita kecolongan, kita sembarangan menerima orang, sampai-sampai Kampung kita dibuat resah!" jelas Seorang warga yang menimpali.
"Bay, bangun bay. kamu jelaskan sebenarnya ini ada apa?" ujar Bapak teh Isma, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kang Bayu yang masih terkulai lemas.
"Bapak, bapak, Aa, Pak!" teriak teh Isma yang semakin histeris, melihat suaminya yang tidak bisa dibangunkan.
"Sudah Isma, sabar! terima semuanya dengan lapang dada" ungkap sikap seorang wanita yang memberikan ketengan, sambil berjongkok disamping teg Isma.
"Ambil air!" seru salah satu orang tua, yang mungkin merasa kasihan melihat keberadaan Kang Bayu yang sangat mengkhawatirkan, sekarang bisa terlihat dengan jelas, karena penerangan lampu pos ronda yang begitu terang. seluruh tubuh dan wajah Kang Dadun terlihat membiru, napasnya yang udah mulai lemah, mungkin dia tidak akan tertolong lagi.
Dengan cepat salah Seorang warga memberikan air yang ada di tangannya, kemudian orang tua itu mengambil lalu mendoakan air yang diberikan.
Setelah selesai berdoa ,air itu pun dituangkan di muka Kang Bayu, dengan pelan mata Kang Bayu mulai bergerak, lalu terbuka, namun tidak besar, hanya seperti ayam yang tertidur, memperhatikan ke area sekita.
"A a aaaaa!" Panggil teh Isma yang tak henti-hentinya menyebut nama Kang Bayu, seolah masih tidak rela atau tidak bisa menerima dengan semuanya yang terjadi, terhadap dirinya dan keluarganya. mungkin inilah istri yang berbakti namun, berbakti dalam keadaan salah, membela suami yang tetap salah. Tapi nggak tahu juga deh, Karena aku belum menikah.
"Minum bay!" tawar orang tua tadi, sambil memberikan air sisa mengguyur wajah Kang Bayu.
Dengan cepat Kang Bayu pun dibangkitkan oleh teh Isma, agar duduk, supaya air yang diminum bisa masuk ke dalam mulutnya. tak lama kang bayu pun mulai tersadar, dengan seutuhnya. dia memindai keadaan sekitar, yang menatap tajam ke arahnya.
Setelah semua rohnya berkumpul, Kang Bayu pun mulai tersadar, dengan apa yang terjadi. tak lama Ia pun menundukkan pandangan, seolah malu dengan apa yang ia perbuat.
__ADS_1
"Kenapa tega berbuat seperti ini? menyakiti aku, yang sayang sama aa?" ujar teh Isma sambil terus menangis menggoyang-goyangkan tubuh Kang Bayu, yang masih terduduk dan terlihat lemas.
"Jawab Aa, jangan diam saja! Neng tidak butuh harta yang banyak, Neng cuma butuh Aa jadi orang yang baik!" ujar teh Isma, yang terus-menerus menangis, menunjukkan istri yang paling setia, bisa menerima kekurangan suami. Namun tidak, dengan cara merugikan orang lain.