JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 44 GARA GARA KOPI


__ADS_3

Pov agus


Setelah dalari pergi. aku dan para warga, berkumpul di majelis taklim, yang biasa dipakai oleh ibu-ibu pengajian.


"Sudah berkumpul semuanya?" tanya Pak RT sambil menatap satu persatu warga yang berkumpul di pagi itu.


"Sudah Pak, semuanya sudah berkumpul." jawab Seorang warga memberitahu.


"Baiklah, kalau sudah berkumpul jadi, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. maksud saya mengumpulkan para bapak dan para ibu, di sini. untuk membahas kejadian yang menimpa kita tadi malam." ujar Pak RT membuka pembicaraan.


Para warga pun terdiam, menyimak apa, yang akan disampaikan Pak RT. agar tidak Salah tanggap, ketika ada sesuatu yang penting.


"Yang jadi pokok permasalahannya, Kenapa kita semua, yang jaga tadi malam bisa tidur sepulas itu?" tanya Pak RT membuka permasalahan.


"Aku yakin pak, kita tertidur pulas, gara-gara kita meminum kopi. Karena setelah kopi itu habis, ngantuk pun datang!" ujar Seorang warga memberikan pendapat.


"Kalau kopi. ada dua kemungkinan, pertama kopinya, yang kedua airnya. untuk airnya, karena yang membuat istri saya. saya bisa bertanggung jawab, bahwa air itu murni seperti air panas di malam-malam sebelumnya." jelas Pak RT membela dirinya, karena kalau dia berbuat jahat, kenapa baru malam ini terjadi. alasan pak RT bisa diterima oleh akal.


"Berarti, ini kopinya yang bermasalah, bukan begitu maksudnya Pak RT?" tanya Seorang warga.


"Bukan begitu juga, kita belum tahu kebenarannya!" jelas Pak RT menenangkan.


"Jadi Pak RT, sama warga. Nuduh saya?" jawab Kang Bayu yang tidak terima atas tuduhan warga, karena secara tidak langsung Kang Bayu lah yang membawa kopi itu.


"Bukan begitu, bay. kita hanya mencari kebenaran, dari apa yang menimpa terhadap kita semua." Tenang Pak RT.


"Kalian tidak tahu berterima kasih, saya sudah mengorbankan harta saya, waktu saya, untuk menjaga Kampung ini, tapi tuduhan lah yang kalian berikan kepada saya, sebagai balasan yang kalian berikan." Seloroh Kang Bayu dengan nada tinggi, mungkin dia masih muda, jadi emosinya Yang meluap- luap.


"Sabar bay, kalem." ucap Seorang warga


"Iya, kalem aja, sih. kalau nggak salah, mah!" Timpal warga lainnya.


"Iya, bay. kita nggak menuduh kamu, namun Siapa tahu saja kopinya emang sudah kadaluarsa atau bagaimana?" jelas Pak RT.

__ADS_1


"Bukan begitu, Pak. saya nggak enak, dengan tuduhan warga, seolah saya yang bersalah, Padahal saya membeli kopi itu, dengan uang hasil jerih payah saya sendiri dan mana mungkin saya bisa meracuni para warga, sedangkan kopi itu, kopi sachetan, kopi pabrik, yang sudah ditakar, tidak mungkin saya memasukkan apapun, ke dalamnya." alasan Kang Bayu. dan itu juga bisa masuk akal.


"Bagaimana nih, Jang?" tanya Pak RT sambil menatap ke arahku, meminta pendapat agar masalah cepat selesai.


Sebelum berbicara aku menarik napas terlebih dahulu, agar tidak terbawa emosi, dengan suasana yang sudah mulai memanas.


"Menurut hemat saya, tidak bisa menyalahkan siapapun, karena mungkin ini kebodohan saya, yang tidak tahu apa-apa! Sehingga saya tidak bisa menjaga, terjadinya kejadian seperti malam. namun untuk kedepannya, supaya lebih aman, kita jangan memakan atau meminum benda pemberian orang lain, karena jika suatu saat nanti  kejadian seperti malam terulang, kita tidak semua terkena!" Jelasku memberikan pendapat, Karena aku belum tahu kebenaran Siapa yang salah.


Para warga pun manggut-manggut, tanda mereka setuju. karena untuk Sekarang, bukan waktunya untuk saling menyalahkan, namun harus saling merapatkan barisan, agar kejadian semalam tak terulang.


Setelah pembahasan itu selesai, baru Pak RT membahas permasalahan yang menimpa ke keluarga Pak Firman, di mana, malam tadi keluarga Pak Firman, didatangi pocong jadi-jadian.


"Kejadiannya, seperti apa, Pak. sampai-sampai harta bapak di gondol oleh pocong?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah Pak Firman.


"Kejadiannya sama, Pak. dia mengetuk-ngetuk kaca terlebih dahulu, dengan kukunya. hingga lama-kelamaan, saya merasa penasaran, lalu melihatnya membuka tirai penutup jendela, diluar jendela terlihat sudah berdiri pocong, berwajah seram, menatap ke arah saya. dengan panik Saya pun berlari ke kamar, memeluk anak dan istri saya.


"Benda apa saja yang hilang?" tanya Pak RT.


Berbeda dengan penjelasan warga, yang mengatakan bahwa semua harta Pak Firman, ludes dibawa oleh pocong jadi-jadian itu.


"Memang disimpan di mana, Kok. bisa sampai hilang?" selidik Pak RT.


"Nggak disimpan di mana-mana, perhiasan itu dipakai sama istri saya!" jelas Pak Firman membuat kami semua yang berada di majelis taklim, menatap ke arahnya, tidak mengerti apa yang ia maksud.


"Kok, bisa seperti itu?" tanya Pak RT mewakili pertanyaan kita semua warga yang berada di sini.


"Iya, Pak RT. istri saya dengan sukarela menyerahkan perhiasan itu, karena pocong itu terus mengganggu kita, ketika kita lagi bersembunyi di dalam kamar." jelas Pak Firman membuat kita semakin bingung.


"Coba, cerita dengan jelas! seperti apa kejadiannya?" Seru Pak RT.


"Pocong jadi-jadian itu tiba tiba berada di kamar, awalnya hanya Kepulann asap putih yang keluar dari sela-sela papan kayu rumah saya, hingga lama-kelamaan asap putih tebal itu, menghilang diganti dengan pocong. anak saya yang melihat pocong terus menangis, karena takut melihat hantu. istri saya pun Entah kenapa, seperti orang yang dihipnotis, dia melepaskan seluruh perhiasan yang ada di tubuhnya, dengan sukarela Dia memberikan perhiasan itu ke pocong. setelah perhiasan itu berpindah tangan, pocong itu tiba-tiba menghilang kembali?" jelas Pak Firman.


"Terus, kenapa tidak berteriak minta tolong?" tanya Pak RT.

__ADS_1


"Saya sudah berteriak-teriak, sekencang mungkin. namun tak satu orang pun yang datang, menolong. dan ternyata yang berjaga hanya tidur doang!" jelas Pak Firman sambil menatap sinis ke arah Pak RT, seolah meminta pertanggungjawabannya.


"Terus uang tidak hilang?" tanya Pak RT tak memperdulikan perkataan Pak Firman, karena mungkin itu adalah kebenaran yang terjadi, kita tertidur sangat pulas, sehingga tidak bisa mendengar teriakan orang minta tolong.


"Nggak, nggak ada yang hilang, karena saya mengikuti saran Jang Santri, menyimpan uang di tempat yang paling tersembunyi, sampai-sampai istri saya tidak tahu, di mana saya menyimpan uang itu." jelas Pak Firman, membuatku semakin yakin bahwa pocong itu adalah manusia, namun sampai saat ini aku belum bisa membuktikan, siapa yang berbuat onar seperti itu.


Mendengar semua penjelasan yang Pak Firman sampaikan, Pak RT hanya menarik napas dalam, karena permasalahannya semakin rumit.


Untuk sekarang kita sudahi saja permusyawaratan kita, nanti ketika saya menemukan sesuatu, saya akan kumpulkan lagi, untuk sekarang ikuti saran Jang Agus, simpan semua harta bapak-bapak di tempat yang paling aman, dan ketika bertugas meronda, bawa makanan, minuman, serta rokok masing-masing, agar tidak terjadi salah paham. seperti sekarang, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." ujar Pak RT mengakhiri permusyawarahan itu, dan menyuruh para warga untuk kembali ke rumah masing-masing. menjalankan rutinitas seperti biasa, karena jangan sampai gara-gara pocong jadi-jadian, sehingga malas untuk mencari nafkah untuk anak istri.


Setelah selesai bermusyawarah bersama warga. Aku, Kang Arif dan Kang Andi, bergegas menuju rumah Kang Arif. karena mau pulang ke pondok rasanya terlalu siang, apalagi ketika bapak Kang Arif, menawari kami semua untuk sarapan terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah Kang Arif, Kami bertiga berkumpul, ditemani oleh kedua orang tuanya, yang duduk menghadap ke arah kami.


"Permasalahannya makin rumit ya, Jang?" tanya Bapak Kang Arif mengawali pembicaraan, sambil menikmati goreng Uli ditambah dengan kopi panas.


"Iya Pak, padahal saya sudah berusaha sebisa mungkin, namun sampai saat ini belum ada titik temu, letak masalahnya di mana, yang ada, permasalahan ini semakin melebar kemana-mana!" jelasku sambil menyeruput kopi yang masih panas.


"Memang, kalau kopi sudah kadaluarsa itu, bisa membuat kita tertidur, seperti tadi malam, ya?" tanya Kang Andi.


"Kurang tahu juga, Kan aku bukan Depkes."  jelasku menerangkan kebod0hanku, yang tidak paham masalah tentang makanan.


"Coba kalau masih ada kopinya, kita masih bisa melihat tanggal kadaluarsanya!" Jelas kang Arif menyayangkan, karena semua kopi yang dibawa oleh Kang Bayu, semuanya sudah habis diseduh sama para warga, tadi malam.


"Bukannya, Kang Agus, tadi malam, dikasih kopi sama Pak RT?" tanya Kang Andi mengingatkanku bahwa tadi malam, aku dikasih kopi pemberian dari Kang Bayu. Mengingat kopi yang dibawa Kang Bayu sangat banyak,  jadi pak RT membagunya buat ngopi di kobong.


Aku pegang saku Kokoku, untuk mengecek keberadaan kopi itu, dan berutung ternyata kopi itu masih ada, di dalam saku bajuku, dengan cepat aku Keluarkan, untuk melihat tanggal kadaluarsanya.


"Coba lihat!" pinta Kang Arif setelah kopi itu keluar dari kantong kokoku.


"Masih lama kadaluarsanya, masih 3 tahun lagi." jelas Kang Arif sambil menunjukkan tanggal yang dicetak di bungkus kopi.


Aku pun mengambil bungkus kopi itu, lalu memperhatikannya, namun mataku tiba-tiba menangkap ada yang aneh, dibungkus kopi itu.

__ADS_1


__ADS_2