
Pov dalari
Setelah selesai mencuci piring, aku mengambil berkas yang harus dibawa ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, berkas yang Kubawa dari rumah pak Chandra, aku simpan di meja kerja kepala sekolah, kemudian masuk ke kelasku, untuk mengikuti pelajaran pertama
"Tuh! orangnya sudah datang!" ucap Nawir setelah melihat kedatanganku.
"Ada apa, nih? kayaknya serius banget!" tanyaku sambil menguluarkan tangan, mengajak salaman kepada kedua sahabatku.
"Besok Nasrul mengundang kita, untuk menginap di rumahnya, kira-kira Kamu bisa nggak?" tanya Heru sambil menatap ke arahku.
"Besok malam minggu ya!" tanyaku memastikan.
"Iya, besok malam minggu! Kenapa emang?" ucap Nawir membenarkan.
"Jadi Bisa nggak kamu ikut nginep, di rumah Nasrul!" Heru mengulang lagi pertanyaannya.
"Nawir! kamu ikut nggak?" aku melempar pertanyaan itu kepada Nawir.
"Aku, gimana kamu saja! kalau kamu ikut, aku ikut! soalnya kalau kurang satu orang saja, nanti nggak seru!" jawab Nawir sambil tersenyum.
"Boleh, ayo kita serang rumah Nasrul, Soalnya besok di pondok, aku gak ada pengajian!" aku memberi jawaban.
"Srius kamu bisa?" Heru memastikan.
"Insya Allah, lagian kapan aku berdusta?" Jawabku.
"Terus kamu bisa gak, Wir?" Heru memberi pertanyaan ke pada nawir.
"Bisa lah, kalau aku jawab gak bisa, pasti kalian memaksa!" Jawab Nawir sambil memicingkan mata.
"Bagus! kalau kalian setuju, besok sepulang sekolah, kita langsung berangkat ke rumah Nasrul!" saran Heru menutup kongres pagi itu.
Akhirnya kita bertiga mengikuti pelajaran seperti biasanya, pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Pukul 10.00. semua siswa pun dibubarkan, mengingat hari ini hari Jumat, jadi pelajaran di sekolah hanya setengah hari. Aku kembali ke pondok, sedangkan kedua sahabatku kembali ke rumah masing-masing.
*****
Keesokan paginya, sebelum berangkat ke sekolah. aku meminta izin terlebih dahulu ke Kang Agus sebagai ketua pondok, memberitahu. bahwa nanti malam, aku mau menjenguk teman yang lagi sakit, sekalian mau menginap di rumahnya.
__ADS_1
Awalnya Kang Agus menolak! karena Santri yang membantu warga Kampung Cikadu, diundang kembali. untuk hadir dalam acara syukuran, karena mereka terbebas dari gangguan pocong jadi jadian. dengan berbagai alasan dan permintaanku yang sedikit memelas, akhirnya Kang Agus pun mengizinkan.
*****
Pukul 13.00. semua siswa pun dipulangkan dari sekolah, aku dan kedua sahabatku pulang bersama, dengan siswa-siswa lainnya, yang searah menuju ke rumah Nasrul. untuk menginap di rumahnya.
Di perjalanan kita beriringan dengan rombongan Fatimah dan kedua sahabatnya, sebenarnya banyak yang pulang ke arah yang sama, namun jaraknya yang terpisah sehingga tidak terlihat seperti barbarengan.
"Mau ngapel ya?" ledek Ismi yang berjalan di belakang.
"Ih, apaan sih Mi, kamu ada-ada saja!" jawab Fatimah yang terdengar mendengus, nampaknya dia tidak suka diejek seperti itu.
"Yey! PD amat! Siapa juga yang ngomongin kamu." jawab Ismi yang terdengar Ketus juga.
"Emang mau ke mana, dal?" tanya Ratna sambil mempercepat jalannya, agar bisa berdampingan denganku.
"Nginep di rumah Nasrul!" jawabku dengan jujur.
"Nggak nyambi kan?" ledek Ratna sambil memicingkan matanya.
"Nyambi apa?" Tanyaku menunjukkan wajah heran.
"Apaan sih Ratna. kamu jangan mengada-ngada!" soloroh Fatimah, yang mempercepat jalannya, sehingga kita berdampingan.
"Harusnya kamu senang dong! Mau diapelin!" ungkap Ratna sambil melirik ke arah Fatimah.
"Senang apaan sih!" ujar Fatimah sambil menarik lengan Ratna agar berjalan kembali di belakang Kami bertiga.
"Bener kan Ru? Dalari Mau ngapel ke rumah Fatimah?" Ratna melemparkan pertanyaan ke Heru, setelah tidak mendapat jawaban dariku.
"Hahaha. gopek dulu! kalau mau tahu! enak aja, mau dapat info gratisan." jawab Heru meledek Ratna.
"Kalian semua menyebalkan!" Ujar Ratna sambil memperlambat kembali langkahnya, agar kembali berjalan di belakangku.
Ledekan demi ledekan terus dilayangkan oleh sahabat Fatimah dan kedua sahabatku, sehingga membuat perjalanan kami begitu seru. Dan akhirnya di pertigaan jalan Ismi dan Ratna berpisah, menyisakan Fatimah dan kedua sahabatku yang berjalan searah, menuju kampungnya Heru dan nasrul.
Suasana pun menjadi Hening, setelah ditinggalkan Ratna dan Ismi, karena tidak ada yang seheboh mereka.
"Emang mereka mau pada ngapain? ke rumah Nasrul." tanya Fatimah yang berjalan beriringan dengan Heru.
"Mau nginep, kemarin pas ke rumahnya, orang tua Nasrul menyuruh kami semua, untuk menengok anaknya!" jawab Heru menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, begitu!" jawab Fatimah sambil mencembungkan bibirnya.
"Nanti malam boleh nggak aku main ke rumah kamu?" tanya Nawir sambil menghentikan langkahnya agar bisa berjalan di samping Fatimah.
"Mau ngapain?" tanya Fatimah yang merasa heran.
"Mau nganter ngapel sahabatku, ke rumahmu!" Ujar Nawir sambil cengengesan, membuat Fatimah yang sudah tenang kembali mendengus kesal.
"Kalau kamu mau, boleh! nanti aku siapkan kentongan, untuk memukul kepalamu!" jawab Fatimah
"Sadis amat!" jawab Nawir meringis, merasa ngeri mendengar ancamannya.
Kami berempat terus berjalan, sambil terus saling ledek, saling menggoda satu sama lain. membuat suasana di perjalanan kembali riuh, dengan candaan dan ledakan mereka.
Sesampainya di rumah Nasrul, kita pun disambut dengan hangat oleh keluarganya, apalagi Nasrul yang sejak dari tadi, sudah menunggu kedatangan kami, di ruang tamu.
"Bagaimana keadaanmu Rul?" tanyaku sambil memperhatikan sekujur tubuhnya, terutama bagian telapak kaki yang terluka.
Terlihat perban masih membungkus kakinya, menandakan lukanya belum terlalu kering, namun ada perubahan, perban pembungkus lukanya tidak setebal, ketika awal dia masuk Puskesmas.
"Alhamdulillah sudah baikan, aku udah kangen kalian semua!" ucap Nasrul yang terlihat matanya yang berbinar, menunjukkan rasa kangen yang begitu mendalam.
Akhirnya kita berempat pun berpelukan, melepas Rindu setelah seminggu tidak bertemu.
"Mau minum apa?" tanya ibu Nasrul yang memperhatikan kami dari tadi.
Kami bertiga hanya saling menatap, karena baru kali ini, kita bertamu ke rumah orang, ditawarin Minuman apa. ini sangat luar biasa.
"Minuman cola saja ya, Pasti kalian haus, sepulang dari sekolah, Nanti kalau sudah mandi, Baru kalian makan!" saran ibu Nasrul sambil tersenyum.
"Dalari minum apa saja, dia pasti mau Bu! Disuguhin air comberan aja pasti dia sedot!" ledek Heru sambil mendelikan mata ke arahku.
Membuat ruangan tamu itu, begitu hangat, dengan tawa yang memenuhinya.
Ibu Nasrul hanya menggeleng-geleng kepala, kemudian masuk ke dalam rumahnya, lalu masuk ke toko grosirnya, tak lama ia kembali, dengan membawakan tiga botol minuman cola yang sangat dingin, terlihat dari botolnya yang mengembun, membuat Kami bertiga menelan saliva, ingin cepat meminumnya.
"Silakan diminum!" tawar Ibu Nasrul mempersilahkan, sambil menyimpan botol minuman itu di meja ruang tamu.
"Ayo minum!" Nasrul menambahkan perkataan ibunya.
Setelah saling menatap, kami pun mengambil botol masing-masing, lalu membukanya. kemudian meminumnya, dengan sangat lahap seperti orang yang baru menemukan air, di tengah-tengah gurun sahara. apalagi sehabis perjalanan pulang dari sekolah, yang begitu jauh, dan begitu terik. sehingga rasa minumannya menjadi semakin luar biasa.
__ADS_1