JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 27 MENCARI BUKTI


__ADS_3

Pov dalari


Kurang lebih sepuluh menit kami berjalan, akhirnya sampai di rumah warga, yang tadi teriak minta tolong. terlihat masih banyak kerumunan warga, untuk memberikan semangat ataupun hanya menonton, orang yang terkena musibah.


"Pak RT, Darimana saja. Kok, baru datang?" tanya Seorang warga tanpa dosa, padahal tadi aku melihat dia, ada di kerumunan warga, ketika membakar rumah Pak Ujang.


"Bantu madamin api, di rumah Kang Ujang" jawab Pak RT, yang terlihat sudah kalem, tidak seperti tadi ketika memarahi pak Ujang, menunjukkan Wibawanya sebagai seorang pemimpin.


"Halah, ngapain repot-repot nolong orang seperti itu, biarkan saja rumahnya hangus terbakar." celetuk Seorang warga, membuat Pak RT memalingkan wajah, menatap tajam ke arah orang yang berbicara.


"Gara-gara kalian, yang tidak bisa mengontrol emosi. hampir saja, empat orang nyawa melayang begitu saja. Untung ada para santri yang, membantu menyelamatkan." Jawab Pak RT dengan Tatapan yang menyala, merasa kesal dengan kelakuan bod0h para warganya.


"Ya, biarin mampus aja sih, Pak. itu, setimpal dengan perbuatannya, yang suka nyolong duit orang." jawab warga, terlihat senyum sinis Yang Terukir di wajahnya, tanpa ada sedikit ketakutan.


"Saya heran sama kalian, Otaknya di mana? harusnya kalian Sadar! kenapa masih ada pocong yang berkeliaran, padahal orang yang kalian curigai sudah lemas terkapar, bahkan Hampir mati" bentak pak RT yang berapi-api, menunjukkan kekesalannya.


Mendengar penjelasan Pak RT, semua warga yang ada di situ, terlihat sangat panik. mungkin otak kanannya sudah berfungsi kembali, bisa membaca apa yang terjadi sebenarnya. sehingga para warga terdiam, saling berbisik sama teman-temannya yang ada di samping.


"Besok! setelah sholat Dhuhur, kita berkumpul di balai warga. untuk membahas kejadian yang menimpa Kang Ujang," lanjut Pak RT tegas, mengingatkan para warga. agar bisa bermusyawarah, mencari jalan terbaik, untuk permasalahan yang baru saja menimpa keluarga Pak Ujang.


"Tapi, Pak?" sanggah Seorang warga, namun tidak dilanjutkan. setelah mata tajam Pak RT melihat ke arahnya.


"Tidak ada tapi, tapi. kalau kalian tidak hadir! maka saya tidak akan senggan-senggan, untuk melaporkan kalian ke pihak yang berwajib, atas kecerobohan kalian semua." ujar Pak RT dengan nada tegas, sehingga para warga tidak berani membantahnya lagi.


Setelah memperingatkan warga. Pak RT kembali melanjutkan langkah, menuju pintu rumah warga. terlihat di dalam rumah itu, sudah banyak orang yang mengerumuni seorang wanita, yang terkulai lemas. seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.


Melihat ada yang datang, warga yang berkerumun memberikan jalan, agar Pak RT bisa mendekat dengan korban. seperti lalat kecil yang dihampiri oleh pemukul.


"Pak RT! uang saya hilang." ujar suara wanita itu sangat Lirih, suaranya yang menyayat hati, membuat Siapa saja yang mendengar akan merasa iba.


Terlihat dari sudut matanya, keluar cairan bening, sebagai tanda luapan emosi yang tertahan. para warga hanya bisa menenangkan, sambil mengusap-usap punggung wanita itu, agar lebih tenang.

__ADS_1


Pak RT, hanya membiarkan wanita yang sedang menangis itu, menunggu tangisannya reda terlebih dahulu. Karena ketika orang yang lagi nangis bercerita, Pasti akan sangat ngawur.


"Sabar, sabar, is!" lirih Seorang warga, yang merasa kasihan melihat kondisi teh Isma.


"Uang itu, baru dikirim suami saya yang kerja di kota. sekarang sudah habis tak tersisa, Saya bingung, bagaimana saya, nanti menjelaskan sama suami saya?" jawab Isma sambil terisak.


"Bagaimana ceritanya, kejadiannya bisa seperti ini?"  tanya Pak RT dengan pelan, setelah melihat tangisan teh Isma udah mulai reda.


"Ketika saya lagi tertidur, terdengar ada suara ketukan yang sangat nyaring, dari arah kaca jendela, sehingga saya terbangun. awalnya saya biarkan ketukan itu, namun lama-kelamaan, saya merasa penasaran. Dan akhirnya saya buka tirai penutup jendela. saya kaget! ketika melihat makhluk yang ada di luar, mukanya sangat hancur, matanya yang ada  di dalam kelopak, dibalut kain putih yang diikat rapih di kepalanya. Saya mau berteriak, namun suara saya tertahan di tenggorokan, hanya bisa meronta-ronta agar bisa keluar dari kegaguan itu.


"Belum hilang Rasa kaget, setelah melihat pocong. tiba-tiba lampu rumah saya mati, membuat saya semakin gelagapan. dengan sekuat hati, saya kembali ke atas ranjang, untuk bersembunyi, dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh saya.


"Terdengar suara, seperti orang yang sedang lompat-lompat, mendekati kamar. sehingga membuat saya semakin ketakutan, merapatkan pejaman mata seerat-eratnya, agar tidak bisa melihat, Apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya suara lompatan itu kembali terdengar, namun sekarang suaranya terdengar menjauh dari kamar, dan setelah itu tak terdengar suara apapun lagi.


"Setelah merasa cukup tenang, Saya memberanikan diri untuk membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh. perlahan membuka  mata. keadaan yang sangat gelap sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. dengan perlahan Aku mencari pintu keluar kamar, kemudian menuju pintu rumah untuk meminta tolong.


Setelah berada di luar rumah, baru saya bisa berteriak meminta tolong. dan para warga pun berhamburan datang ke sini, untuk menolong saya." wanita bernama Isma itu, menghentikan ceritanya menyeka air mata yang terus berjatuhan, sesekali dia menghisap ingus yang hendak keluar.


"Setelah saklar lampu dinyalakan kembali, Aku di bopong masuk ke dalam rumah, untuk melihat Apa yang dilakukan pocong si4lan itu, Ternyata Pak RT!" Teh Isma tak kuat melanjutkan ceritanya, hanya isakan tangis dan senggukan sebagai kelanjutan ceritan.


"Ternyata uang yang disimpan di dalam Alquran, dan beberapa perhiasan yang Isma miliki, semuanya Raib tak tersisa. namun anehnya, tidak ada benda di dalam kamar sedikitpun yang berubah" lanjut seorang wanita yang duduk disamping teh Isma, yang sedari tadi terus menenangkan wanita yang baru menikah itu.


"Gimana saya, Pak RT. nanti suami saya marah, uang hasil keringatnya hilang Diambil pocong. saya bod0h tidak bisa menjaga kepercayaan, yang dititipkan oleh suami saya" teh Isma mengeluarkan ketakutannya.


"Sabar yah, Is. Saya yakin, Bayu orangnya tidak seperti itu, Dia anaknya sangat baik. Nanti, kalau dia pulang! saya akan mencoba berbicara dengannya." hanya kata itu yang keluar dari tetuah Kampung Cikadu, mungkin beliau juga bingung harus melakukan apa.


Permasalahan demi permasalahan datang silih berganti, seolah tidak bosan menghampiri orang yang sedang kesusahan. hanya kata sabar yang bisa mereka ucapkan, untuk  mengobati dari semua rasa keterpurukan.


Ketika lagi hanyut terbawa dengan cerita teh Isma. tiba-tiba Kang Agus memberikan kode, untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Aku dan Kang Andi, menatap heran ke arahnya. namun Kang Agus tidak memperdulikan. Dia bangkit lalu menuju keluar rumah. melihat Kang Agus udah keluar, kita sebagai pengawal Setia. mau tidak mau harus mengikutinya.


"Ada apa Kang?" Tanyaku yang merasa heran, kenapa Kang Agus mengajak kita keluar.


"Cek! semua akses yang bisa masuk ke dalam rumah." Pinta Kang Agus memberikan komando, bak komandan yang memberi arahan kepada bawahannya.


Tak ada penolakan, Kami bertiga pun berpencar mengelilingi rumah teh Isma, mengecek Apakah ada kejanggalan yang bisa dijadikan bukti otentik. untuk mengambil langkah selanjutnya.


Kang Agus mengecek bagian depan, diawali dengan mengecek beberapa jendela, sedangkan Kang Andi memilih samping kiri rumah, membiarkanku mengecek samping kanan. karena samping kiri letaknya bersebelahan dengan kamar teh Isma, di mana tadi pocong itu muncul. Kang Andi nggak mau kalau nantinya aku ketakutan.


Aku melangkah menuju arah samping rumah, setelah meminjam senter dari warga, untuk menerangi jalan yang kupijak. sesudah berada di samping rumah, aku mulai mengecek keadaan sekitar, yang terlihat nampak gelap. karena biasanya penerangan dari rumah warga, hanya ada di bagian depan, membiarkan samping kanan, dan kiri gelap gulita seperti ini. Apalagi ditambah dengan keadaan rumah Teh Isma, yang berada di paling pojok, berdampingan dengan Kebun warga yang tidak terurus, Membuat suasananya semakin mencekam.


Setelah puas memantau keadaan sekitar, walau dengan degup jantung yang sangat kencang, aku mulai mengikuti yang Kang Agus lakukan, mengecek semua sudut rumah, yang memungkinkan punya akses masuk ke dalam.


Terlihat ada jendela yang menempel di dinding rumah, dengan penasaran aku mendekati jendela itu. terdengar suara orang yang mengobrol dari dalam, karena hanya dibatasi dengan dinding yang terbuat dari papan kayu.


Setelah berada pas di depan jendela, aku coba menarik jendela dengan perlahan. Mengecek Apakah bisa dibuka?, mengikuti apa yang Kang Agus lakukan, ketika dia mengecek jendela bagian depan.


Cklek!!!


Setelah ku tarik. Jendela itu terbuka, dengan penasaran aku memasukkan kepalaku, untuk melihat kebagiaan dalam rumah Teh Isma.


Agggggggrrrrhhhhh!!!!!!!


Teriak warga. yang merasa kaget setelah, melihatku memunculkan kepala lewat jendela.


"Eh , bocah siala4n ngagetin aja!" bentak Seorang warga, yang merasa kesal karena meraasa kaget dengan ulahku.


"Kurang kerjaan ngagetin orang tua saja"


Makian-makian warga terus berhamburan menghampiriku, sehingga membuat keadaan kembali gaduh. Aku hanya terdiam, bingung harus melakukanapa. apalagi yang kulakukan ini adalah saran Kang Agus, dan Aku belum diberitahu apa tujuannya melakukan seperti ini.

__ADS_1


Mendengar keributan yang terjadi. Kang Agus yang berada di halaman depan, dengan cepat lari menuju ke dalam.


"Sudah, sudah, tolong hentikan makiannya! ini saya yang menyuruh" ujar Kang Agus menenangkan warga, yang sudah nampak emosi. Dan dengan santainya. dia menguluarkan tangan mengajakku masuk ke dalam rumah panggung teh Isma, melewati jendela yang baru saja terbuka.


__ADS_2