
Pov dalari
Selesai membayar jajanan. Kami bertiga pun Beranjak Pergi, Meninggalkan kantin. namun sebelum masuk kelas, terlihat banyak siswa di dalamnya. akhirnya kami kembali, tidak jadi untuk menikamti jajan di dalam, mencari tempat tempat yang lain.
Setelah menjauhi kebisingan, kita pun duduk di dekat pohon, yang letaknya tidak jauh dari sekolah.
"Gimana kalian udah dapat ide?" Tanyaku sambil memasukkan gorengan ke mulut, lalu mengunyahnya. agar perutku tidak terlalu bekerja keras, ketika merubahnya menjadi energi.
"Ada. namun berat!" jawab Heru sambil menghela napas panjang.
"Bagaimana?"
"Kalau ada Nasrul, mungkin pekerjaan ini tidak akan berat, karena kuncinya ada di dia." jelas Heru.
"Kok?" tanya aku penasaran, tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Heru.
"Kuncinya ada di Fatimah. Nasrul dan Fatimah mereka saudara sepupu, jadi mungkin ngobrolnya enak."
"Terus hubungannya, bagaimana antara Fatimah dan masalah yang aku hadapi?"
"Fatimah. adalah salah seorang teman terdekatnya dadun, karena Dulu sering mewakili sekolah. jadi pasti mereka sering mengobrol." Heru menjelaskan ide sebenarnya.
"Oh, begitu. nanti aku coba ngobrol sama dia. Kebetulan aku juga Lumayan dekat sama Fatimah, siapa tahu aja dia mau membantu." ungkapku, meski sebenarnya tidak mau melibatkan banyak orang, ke dalam urusanku. Namun kekuranganku, tidak bisa membuat pilihan lain.
"Nah, itu ide bagus. Coba saja minta bantuan sama dia!" saran Heru.
Akhirnya Kami bertiga pun melanjutkan obrolan. dengan obrolan biasa, dengan topik membahas keadaan Nasrul, dan keadaan yang menimpa warga kampung cikadu.
20 menit berlalu, setelah menghabiskan semua jajanan. akhirnya kami pun beranjak mendekati area sekolah, agar ketika bel berbunyi kita bisa mendengarnya.
Namun ketika hendak masuk kelas. terlihat Fatimah yang menenteng kantong jajanannya, Mungkin dia baru pulang dari kantin. dengan cepat aku mengasih kode kepada dua sahabatku, untuk mendekati Fatimah tapi mereka menggelengkan kepala. seolah menolak. dengan terpaksa aku pun menghampiri.
"Iya, ada apa, dal?" tanya fatimahsambil menatap ke arahku, membuat jantungku berdegup agak kencang. padahal jujur aku tidak ada rasa apa-apa, namun Entah mengapa tubuhku berdesir seperti itu.
"Eeeeem eeeeee Anu!" tiba-tiba saja lidahku menjadi kelu, seperti orang yang Gagap tidak bisa mengeluarkan perkataan.
"Santai aja kali, kayak sama siapa aja!" ujarnya sambil memberikan senyum termanisnya.
"Aku mau minta tolong, tapi ceritanya panjang. Kapan ya kita bisa ngobrol, tapi cuma berdua!" Aku mengungkapkan tujuanku.
"Minta Tolong apa? ngomong aja, kalau bisa pasti aku bantu!"
__ADS_1
"Sudah aku bilang, ceritanya akan sangat panjang. Jadi butuh waktu untuk membahasnya, kira-kira kamu punya waktu Nggak, untuk mendengarkan ceritaku." ujarku sambil menatap fatimah meminta jawaban.
Fatimah pun terdiam seketika, Mungkin dia memikirkan Gimana caranya, kita bisa ngobrol berdua.
"Emang nggak bisa sekarang? padahal tinggal ngomong aja!" tanya Fatimah memastikan
"Gak bisa nay." jawab aku sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu. nanti sepulang sekolah. kamu tunggu aku di pertigaanan!" pintanya sambil menghela napas dalam, entah apa maksudnya, seperti itu. apakah dia tidak mau membantu atau apa.
"Terima kasih, sudah mau membantu." ujarku sambil merapatkan Kedua telapak tangan di depan dada.
"Apaan sih, Dal. Ya sudah, aku masuk kelas dulu yah!" Ujarnya sambil menunjukkan kembali, senyum termanis yang Terukir di bibirnya.
Aku hanya bisa menatap kepergiannya , memperhatikan Langkah Demi Langkah, sampai fatimah tidak terlihat lagi, masuk ke dalam kelasnya.
"Biasa aja kali menatapnya, dosa tahu!" ujar Nawir yang menghampiri dari belakang, sambil menepuk pundakku.
"Enggak, siapa yang menatap? aku hanya memperhatikan lantai." jawabku ngasal, karena merasa malu ketahuan oleh kedua sahabatku.
Tak lama setelah itu, bel pun berbunyi. menandakan jam pelajaran selanjutnya, akan segera dimulai, aku, Nawir dan Heru, bergegas memusuhi kelas. bersiap kembali untuk menerima pelajaran, setelah beristirahat sejenak.
Pelajaran demi pelajaran terlewati, begitu saja. rasanya begitu cepat, hingga akhirnya waktu pulang pun tiba. namun sebelum itu, para siswa diwajibkan salat berjamaah dzuhur terebih dahulu di masjid.
Setelah selesai salat, sesuai janji. aku menunggu Fatimah di perempatan jalan, ditemani oleh Nawir dan Heru.
"Kalian pulang saja, duluan! takut orang tua kalian nyariin." saranku sambil menatap ke arah kedua sahabatku, yang setia menemani.
"Enggak! kita mau nemenin kamu saja di sini, nanti kamu berbuat macam-macam lagi, kalau dibiarkan berdua begitu saja denga fatimah, minimal kalau ada kita, kalian berpikir-pikir terlebih dahulu, sebelum melakukan sesuatu." cenda nawir menyamakanku dengan Pack Boy.
"Apaan sih, nggak jelas banget!"
"Iya, dulu kan kamu pernah bilang. berjaga-jaga lebih baik daripada mengobati, Siapa tahu saja kalian berdua nanti tidak bisa mengontrol." tambah Heru menyudutkanku dengan candaannya.
"Ngontrol apa?" Tanyaku sambil menatap Heru.
"Nafsu!" jelas Heru diiringi gelak tawa.
Mendengar ledekan mereka berdua. aku hanya mendengus kesal, memicingkan mata menetap ke arah mereka. namun yang ditatap hanya tertawa, terus meledekku.
Heru segera menutup mulut, menghentikan suara tawanya. ketika melihat ada seorang siswa, yang berjalan mendekati ke arah di mana kita sedang menunggu. karena ini adalah jalan pertigaan, satu arah ke rumah Fatimah, dan satu arah ke arah rumah Kang Arif, atau ke kampung Cikadu. Jadi semua siswa yang pulang ke arah selatan, maka mereka akan melewati jalan ini.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nawir merasa heran sambil menatap Heru.
"Itu yang namanya Dadun!" bisik Heru memberitahu.
Mengasih kode dengan sudut mata, memberitahu bahwa orang yang sedang berjalan, yang akan melewati kami, bernama Dadun.
Aku terus memperhatikan orang itu. karena sebenarnya, aku dan Nawir, belum tahu dadun itu yang mana, jadi tidak tahu bahwa yang datang itu adalah orang yang aku cari.
Semakin lama, orang itu semakin mendekati kami, karena jalan yang akan dia tempuh, melewati pertigaan di mana Kami, yang sedang menunggu Fatimah.
Terlihat siswa itu memang seniman banget, tasnya yang terbuat dari dalaman kulit kayu, yang disatukan sehingga membentuk benang, lalu dirajutnya membentuk tas. di pergelangan tangannya melilit gelang berbentuk ular, yang terbuat dari akar. membuktikan bahwa orang itu benar-benar seniman.
Bentuk tubuhnya. sama presis dengan apa, yang dikatakan fitri. Orangnya tinggi, hitam. namun aku tidak bisa mencium bau tubuhnya, dan melihat ke dalam mulutnya. karena menurut Fitri. dadun itu selain hitam, orangnya bau, dan giginya kuning.
Dan benar juag denga apayang diungkapkan Heru, dia itu sangat pendiam. sehingga dia memilih pulang paling akhir, agar tidak bergabung dengan siswa-siswa lainnya.
"Misi" ujarnya dengan pelan, namun bisa tertangkap oleh telinga. ketika dadun melewati kerumunan kami, tidak seperti kakak kelas yang lainnya, yang angkuh, menindas junior dengan kata senioritas.
"Pulang, Dun?" tanya Heru basa-basi.
Dadun tidak menjawab, Dia hanya melirik ke arah kami. dengan Tatapan yang sulit diartikan. Tatapan dalam seolah menembus ke hati Kami bertiga, kemudian ia berlalu pergi meninggalkan tempat kami, dan berbelok di pertigaan menuju arah jalan ke rumahnya.
"Aneh banget?" Decak Nawir, setelah Dadun tidak terlihat lagi.
"Apa yang aku bilang, dia emang benar-benar misterius!" ungkap Heru dengan raut wajah yang kaku.
"Kalian tadi lihat? Bagaimana cara dia menatap kita!" Tanyaku sama mereka berdua
"Iya. aku sampai deg-degan, kayak lagi ditatap apa gitu!" ungkap Nawir memberikan pendapat.
"Kirain cuma aku saja, yang merasakan seperti itu. apalagi aku yang menyapanya." timpal Heru sambil bergidik.
"Iya, kok bisa yah? seperti itu. gimana Aku mau ngobrol dengannya, di tatapnya aja sudah seram seperti ini." ungkapku membayangkan.
"Tadi.denger nggak suaranya?" tanya Heru sambil menoleh ke arahku.
"Dengar, tapi kurang jelas. emang kenapa?" aku balik bertanya.
"Katanya kamu lagi mencari tahu? bagaimana suaranya! Masa kamu lupa sama rencana kamu sendiri?" Ketus Heru.
"Hehehe. maaf aku masih ngeri, membayangkan tatapannya. jadi aku nggak fokus, lagian tadi dia ngomongnya cuma satu kata, terus pelan." ujarku sambil tersenyum, merasa lucu karena Dadun bisa membuatku kehilangan fokus.
__ADS_1