
Pov fatimah
"Kok kamu diam?" susul Ratna melengkapi pertanyaan Isni.
Aku hanya diam, tak memberikan jawaban. masih merasa syok Atas kejadian yang baru saja kualami. jujur, Baru kali ini aku melihat orang yang berkelahi, dengan begitu dekat.
Tiba-tiba Isni menarik tanganku, dengan pelan lalu mengajakku, ke dekat pohon beringin, yang tadi dipakai tempat berteduh dalari. melihat isnii seperti itu, dengan sigap ratna pun ikut menggandengku.
"Nih, minum!" tawar Ratna, sambil mengeluarkan air minum yang ia bawa dari rumah.
Aku mengambil air pemberian Ratna, lalu meminumnya untuk mendinginkan suasana hati, yang tak begitu baik.
Glug! glug! glug!
Air itu kuteguk untuk menjernihkan pikiran, yang sedang bekerja keras, memikirkan kejadian yang baru saja kualami. bagaimana kalau mereka terus-terusan berkelahi? Bagaimana kalau salah satu dari mereka ada yang meninggal? bagaimana aku menjelaskan sama orang-orang. mereka bertarung gara-gara aku? Otaku, dipenuhi dengan semua pertanyaan-pertanyaan itu.
Melihat aku melongok, kebingungan seperti itu. kedua sahabatku dengan repleks mereka memijat pundaku, agar membuatku merasa lebih nyaman.
"Terima kasih, ya!" ucapku sambil tersenyum menatap ke arah mereka.
"Ya. sama-sama, udah baikan, kan? sekarang." tanya Isni.
Aku hanya mengangguk, menikmati setiap pijatan, yang mengalir di pundakku. rasanya sangat nyaman, sampai-sampai aku memejamkan mata.
"Eh, kurang asem, Malah tidur!" Seloroh Ratna menepuk pahaku.
"Hehehe. nikmat!" kataku sambil tersenyum, dengan reflek isni pun melepaskan tangannya.
"Ih!" isni hanya mendengus kesal, lalu mendorongku.
"Kasar banget, sih! Kenapa nggak dilanjutkan?" tanyaku sambil menatap nanar ke arah Isni, berharap dia mau melanjutkan pijatannya.
"Mereka Kenapa, sih? bisa sampai berantem seperti itu?" tanya Ratna, mengulangi pertanyaan Isni yang belum aku jawab.
"Bentar, bentar!" jawabku sambil membuka resleting tas untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa, dengan tasmu?" tanya Ratna dengan penasaran memperhatikanku, seolah tidak mau ada yang terlewat.
"Aku lapar. kebetulan tadi aku membeli makanan, dan belum sempat memakanya." jawabku cuek, sambil mengambil gorengan yang tadi aku beli. ketika waktu istirahat, jajanan yang belum sempat aku makan.
Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat kelakuan temannya, mungkin merasa aneh, bukannya bercerita, malah perut yang dipikirkan.
"Mau cerita nggak, sih?" tanya Isni kesal, sambil menatap ke arahku, yang sedang mengunyah gorengan.
Merasa kasihan sama mereka. aku pun mulai bercerita, tentang bagaimana terjadinya perkelahian itu. mulai dari aku pulang dengan tergesa-gesa, karena mempunyai janji dengan dalari. sampai-sampai Arfan yang menggangguku dengan kasar. aku ceritakan semuanya, tak ada yang terlewat. membuat mereka berdua, mengepal-ngepalkan tangan, seolah mereka itu laki-laki, yang bisa melindungi kaum perempuan.
"Kurang ajar banget si Arfan. Masa, dia berbuat seperti itu, padahal Kalau ditolak. ya, sadar diri saja dengan kekurangannya!" Gerutu Isni mengancingkan gigi.
"Terus si Dalari, mau ngapain, kok. Kalian pakai janjian segala?" tanya Ratna yang tak memperdulikan persoalanku dan Arfan.
"Rahasia dong, dia memintaku untuk mengobrol berdua, mungkin dia mau menembakku, menjadikan aku kekasihnya." jawabku berbunga-bunga, tak memperdulikan keberadaan mereka, yang nampak kesal.
"Ngayal banget, sih!" Gerutu Ratna sambil mencembungkan pipi.
Lagi asik mengobrol, tiba-tiba. dalari dan kedua sahabatnya datang kembali, setelah membersihkan tubuhnya dari Debu Jalanan dengan air.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba" gumamku sambil tersenyum menatap kedatangan tiga bocah laki-laki itu.
"Kamu tuh perempuan, jangan agresif banget sih, biarkan dia yang berusaha mengejar kamu! perempuan itu harus punya harga diri." bisik Isni dengan pelan, karena takut terdengar dalari yang semakin mendekat.
Dengan malas kuhentikan Niatku. kembali duduk menunggu mereka, datang menghampiri.
"Belum pulang, ya?" tanya Dalari yang sudah berdiri di hadapanku, tanpa menatap.
"Iya. maaf yah, tadi buat kamu menunggu. Terima kasih tadi sudah menolongku dari gangguan Arfan, kamu tidak apa-apa?" crocosku melupakan pesan Isni.
Dalari hanya tersenyum, lalu duduk di hadapanku. "aku baik-baik aja, cuma bajuku saja yang kotor. Kamu gak apa apa juga, kan?" jawab dalari sambil menanyakan kondisiku.
Namun aku tidak menjawabnya. aku terus memperhatikan mukanya, Siapa tahu saja ada bekas luka, selepas perkelahian tadi. namun benar, apa yang ia katakan. tak ada lebam yang menghiasi wajah tampannya.
"Kamu mau minta bantuan apa?" tanyaku setelah memastikan bahwa dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Boleh nggak, kita ngobrolnya berdua saja! soalnya permasalahannya rumit bangat." Pintanya sambil menatap ke arahku, namun itu tak lama. Dia memalingkan wajahnya, kembali menatap ke arah jalan.
"Kamu mau ngomong apa, sih? aku dan Fatimah itu sudah seperti saudara, kalau mau ngomong. Yah ngomong aja!" seloroh isni, tidak suka dengan apa yang dalari minta.
"Maaf Kak isni, ini benar-benar urgen banget masalahnya. jadi hanya mereka berdua yang mengobrol. nanti suatu saat, mungkin dalari akan menceritakan semuanya." balas Nawir menjelaskan, agar isni tidak salah paham.
Aku pun menatap ke arah Isni, meminta waktu untuk mengobrol dengan dalari. Mungkin dalari merasa malu, ketika mau mengungkapkan perasaannya, kalau banyak orang seperti ini.
Aku pun bangkit lalu sedikit menjauh dari kerumunan mereka berempat. mengajak dalari, agar dia bisa menyampaikan Apa maksud dan tujuannya.
"Yah, kenapa?" Tanyaku yang sedikit tergagap, setelah berduaan dengannya. Entah mengapa bisa seperti itu. padahal Kulihat dia cuek-cuek saja.
"Aku ringkas aja, ya. Yang penting kamu ngerti, siapa tahu saja kamu bisa membantu!" Jawab dalari.
Aku hanya mengangguk pelan, siap mendengarkan apa yang ia mau sampaikan.
Dalari pun mulai bercerita, dari awal. di mana ia dan santri lain, yang ditugaskan oleh guru pondoknya. untuk mengusir pocong jadi-jadian, di warga Kampung Cikadu. yang sekarang lagi Geger di semua kalangan warga desa. Dia bercerita sampai-sampai mengerucut lah Ke mana arah pembicaraannya. Dalari mencurigai salah satu murid, yang bersekolah di MTS Nurul Hasanah. kebetulan murid itu adalah salah satu teman dekatku, ketika waktu SD. Dia meminta bantuanku, agar dalari bisa mendengar suaranya, untuk dicocokkan dengan suara orang yang mengobrol di pekuburan.
"Jadi gimana, bisa bantu, nggak? Soalnya kata Heru, dadun itu kalau ngobrol tidak memakai suara asli." cerita itu diakhiri dengan pertanyaan, yang menanyakan kesiapanku untuk membantunya.
Aku terdiam sesaat. menimbang baik dan buruknya dengan permintaan dalari, karena menurutku dadun adalah orang yang baik. meski Dia jarang bersosialisasi, dengan teman-teman lainnya. namun kecurigaan dalari Bukan Tanpa Alasan, karena aku juga tahu bahwa dadun dari keluarga yang biasa-biasa saja, sehingga alasannya bisa aku terima. mana mungkin dia memberikan fitri, begitu banyak hadiah, sedangkan keluarganya saja masih butuh.
"Bukan apa-apa! aku hanya mencari kebenaran. benar atau tidaknya. namanya juga berusaha, kalau benar berarti kita bisa membantu warga yang sedang diteror. kalau prasangka aku salah berarti kita tidak akan berburuk sangka lagi sama Dadun." lanjut dah lari ketika melihatku terdiam.
"Iya, benar juga sih. namun aku bingung, bagaimana cara mengajak dia mengobrol, kalau nggak penting-penting amat. dia tidak mau berbicara." jelasku sambil menatap ke arah dalari mengungkapkan semua isi hati.
"Aku sudah punya rencana yang matang, Siapa tahu saja kamu nggak keberatan, dengan Rencanaku" ungkapnya dengan penuh keyakinan.
"Rencananya, gimana?" Tanyaku penasaran.
"Tadi pas aku menunggu kamu di sini. aku melihat dia bisa membuat gelang dari akar, terlihat gelang itu sangat bagus. jadi aku mau memesannya, nanti kamu bantu, biar aku bisa ngobrol sama dadun, dan kasih tahu mana suara aslinya!" ungkap dalari mengemukakan idenya.
"Ya, ya." aku menganguk-anggukan kepala, seolah paham apa yang dimaksud oleh dalari.
"Bagaimana kamu bisa bantu?" Dalari mengulang pertanyaannya lagi.
__ADS_1
"Insya Allah, aku bisa. kalau buat menemani kamu untuk mengobrol dengan Dadun. namun aku tidak bisa berjanji, kalau apa yang kita lakukan itu akan berhasil" ungkapku pesimis karena walau aku dekat dengan Dadun, tak semua sifatnya aku ketahui.
"Terima kasih, sebelumnya. Yang penting kita sama-sama berusaha terlebih dahulu, soal hasil itu urusan nanti!" ungkap pria yang selalu hadir dalam mimpiku.