
Pov dalari
"Hus, sembarangan aja kalau ngomong," tukas Kang Agus. "Ayo kita lanjut lagi, nanti kalau ada apa-apa, jangan panik!" perintah Kang Agus mengingatkan.
Kami pun mengikuti perintah Kang Agus, berjalan dengan pelan mendekati area pemakaman. semakin dekat, maka semakin Jelas pula suara orang yang mengobrol, sampai akhirnya kami tiba dipintu masuk TPU.
Terlihat dari pintu gerbang TPU, ada sebuah Saung kecil di tengah-tengah kuburan, (saung adalah gazebo), mungkin. untuk beristirahat para warga, yang menggali kubur. walau dalam keadaan gelap.
Saung itu terlihat Cukup jelas, walau cuma siluetnya. soalnya di pekuburan tidak ada pohon yang tinggi, yang bisa menutupi datangnya cahaya dari langit.
selain terdengar seperti orang yang mengobrol, tercium juga bau asap rok0k yang terbawa tiupan angin.
"Siapa ya?" Kang Agus bertanya, mungkin kami yang ada di sini, tidak akan bisa menjawabnya. karena kita semuan tidak tahu ,siapa atau apa, yang ada di Saung itu.
"Sudah aku bilang, Mereka itu lagi reoni" Cieletuk Kang Andi, masih tetap bercanda.
"Aku penasaran, apa kita lihat aja ya, kesana." saran Kang Agus, yang tidak masuk akal, bagaimana kita mau melihat, sedangkan baru mendengar suaranya saja, dengkulku udah terasa lemas.
"Ayo kita pergi kang, biarin aja mereka, kita masing-masing hidup, biarkan mereka juga menikmati alamnya sendiri" tolak kang Arif dengan alasan, Mungkin dia juga merasa, apa yang aku rasakan sekarang.
"Tunggu dulu ,siapa tahu aja bener itu manusia, kalau manusia pasti mereka punya tujuan jahat, sehingga mereka berkumpul di tengah kuburan seperti ini," Kang Agus mengemukakan pendapat, tanpa menghiraukan ketakutan kita.
"Jangan gil4 deh kang!" seloroh Kang Arif yang tidak setuju.
"Tapi bener juga sih pendapatmu, Kang. Mana Mungkin ada orang normal berkumpul di tempat seperti ini," Timpal Kang Andi, membenarkan pendapat Kang Agus.
"Ya namanya juga bukan manusia, pasti kelakuannya bedalah sama kita, ini lelembut penunggu kuburan Kang, masak kalian belum sadar sih?" sanggah Kang Arif, dengan kesal.
"Aku mau mengeceknya, Kalau kalian tidak mau ikut, tunggu aja di sini" ujar Kang Agus, yang tak bergeming dengan berbagai sanggahan.
"Aku ikut Kang" pinta Kang Andi, menawarkan diri untuk mengawalnya.
"Ya udah, ayo!" jawab Kang Agus, sambil mulai memasuki area pemakaman.
melihat mereka pergi, kita berdua hanya bisa saling menatap dalam kegelapan, merasa takut karena ditinggal oleh mereka.
"Kita juga ikut Kang" teriak Kang Arif, sambil berlari ke arah Kang Agus.
"Eh, bahlul. Jangan berteriak" pinta Kang Agus dengan membulatkan mata, tidak suka rencananya digagalkan.
__ADS_1
Benar saja, ketika terdengar suara teriakan Kang Arif, suara orang yang ngobrol itu berhenti seketika, namun diganti dengan suara telapak kaki orang yang sedang berlari.
"Tuh, kan. pada kabur" Ketus Kang Agus, merasa kesal dengan tingkah ceroboh, Kang Arif.
"Maafkan aku kang" jawab Kang Arif, yang merasa bersalah.
Walau sebenarnya Kang Agus itu, ketika ngobrol biasa, dia akan terlihat kalem, namu berbeda dengan keadaan serius seperti sekarang. dia akan berubah menjadi lebih serius, sehingga perkataannya yang diucapkan berbeda dengan biasanya.
"Sudah jangan dibahas lagi, Ayo kita cek Saung itu" kang Andi menengahi, agar tidak keterusan.
Dengan pelan, Kami berempat mendekati ke arah Saung, yang kami curigai ada orang. walaupun dengan perasaan yang tidak karuan, akhirnya kami sampai juga di depan Saung.
Kang Andi yang pemberani, dengan tenang dia mulai memindai seluruh sudut Saung itu. terlihat banyak puntung rokok yang berserakan, kemudian, dia. mengambil salah satu puntung yang nampak masih menyala.
"Kang, kang," teriak Kang Arif, sambil menarik-narik baju Kang Agus, menunjuk keraah samping Saung.
Kami bertiga tersentak kaget, lalu menoleh ke arah yang Kang Arif tunjuk, diikuti cahaya senter yang terpancar dari kedua tangan Kang Agus dan Kang Andi. sehingga yang dimaksud Kang Arif itu terlihat sangat jelas.
"Pocoooongg!!!" teriak Kang Arif, sambil berlari dengan kencang meninggalkan kami yang masih berdiri. Memperhatikan dengan jelas apa yang kita liha.
Tapi saat Melihat kang Arif sudah lari duluan, membuat nyaliku menciut, dengan cepat aku dan Kang Agus mengikuti nya meninggalkan Kang Andi.
"Heh, Kalian mau pergi ke mana" bentak Kang Andi.
"Jangan lari, Kalian harus tetap tenang" teriak Kang Andi yang terdengar mengikuti pelarian kami.
Namun peringatan itu, kita berdua tidak menghiraukan, terus berlari menjauhi area pemakaman. mengikuti Kang Arif yang tidak tahu sudah ke mana.
"Eh, bod0h. Jangan lari" teriak kang Andi terdengar kesal.
Akhirnya Kita berhenti berlari, setelah melihat rumah warga. yang ada di pinggiran kampung. aku dan Kang Agus menjatuhkan tubuh ke tanah, terdengar suara napas yang keluar dengan memburu saling menyahuti, dari mulut kita.
"Kenapa kamu lari" tanya Kang Agus dengan napas tersenggal-senggal.
"Aku melihatnya, dengan jelas. matanya yang merah dan mukanya yang hancur, tubuhnya dibalut kain putih" jawabku, dengan nafas tak beraturan.
"Sial4n ini gara-gara si Arif, ngapain dia lari, jadi kita ikut-ikutan, ke bawa" gerutu kang Agus, dengan kesal.
Aku tidak menjawab Umpatan Kang Agus, Karena memang benar, seberani apapun orang itu, ketika melihat orang yang ketakutan, pasti dia juga akan terbawa, seperti orang latah.
__ADS_1
"Kang Andi ke mana yah, Kang?: Tanyaku yang mengkhawatirkan keberadaannya. Karena dia belum menapakan batang hidunya. Padahal kita beristiraha sudah agak lama.
"Biarin, aja. Dia itu orangnya pemberani, makanya aku ajak dia untuk ikut" Jelas kang Agus, yang menepuk-nepuk bajunya yang terlihat kotor, karena tadi sempat beberapa kali terjatuh.
Benar saja, tak lama setelah kang Agus berkata. terlihat ada sosok bayangan, yang mendekati kami dengan senter kecil di tangannya.
"Ngapain kalian ikut lari" tanya Kang Andi, yang terlihat santai, sambil menundukkan tubuhnya di dekat kita, bahkan. saking santainya, di tangannya ada sebatang r0kok yang lagi menyala.
"Nggak tahu, Di. Tiba tiba terbawa aja sama kedua orang sial4n ini" tukas kang Agus, meski biasanya terlihat kalem, namun ketika dalam keadaan serius dia akan serius.
"Iya, makanya aku heran, dulu aja pas kita ngelihat Kunti. Kang agus kalam-kalam aja, tapi sekarang kenapa Akang lari" ucap Kang Andi sambil membuang nafas yang dibarengi dengan asap.
"Bentar, bentar" kamu dapat rokok dari mana" tanya Kang Agus yang merasa heran, sambil menatap tangan kang Andi.
"Dari Saung itu, sebelum lari aku sempat melihat bungkusan rok0k yang baru terbuka, aku ambil aja, lumayan kan" jawabnya santai, sambil mengeluarkan rok0k dari saku celananya.
"Emang Kak Andi nggak melihat pocong itu?" Tanyaku, dengan penasaran.
"lihat sih, cuman aku heran aja, kok. pocong itu muncul setelah terdengar orang lari, dan ketika kita samperin masih ada puntung rokok yang masih menyala, masa iya pocong merokok, kalau benar dari mana mereka membelinya" Kang Andi menjelaskan dengan tenang.
"Tapi, beneran. aku melihat mukanya sangat hancur, matanya merah menyala, kalau itu orang, mana mungkin bisa seperti itu" sanggah Kang Agus.
"Ya mungkin, mereka terasa keganggu. makanya matanya merah seperti itu, atau bisa jadi kurang tidur" ujar kang Andi sambil terkekeh, "Oh, iya. Si Arif ke mana" lanjut Kang Andi sambil memkdai keadaan sekitar, mencari keberadaan Kang Arif.
"Tahu Kayaknya, udah nyampe ke rumahnya. soalnya tadi larinya cepat banget, sehingga kita tidak bisa mengikutinya: jelas kang Agus.
"Sebenarnya, layar tancapnya di mana, sih." Kang Andi malah bertanya hal yang tidak penting.
"Maaf yah, Di. sebenarnya nggak ada layar tancap. aku ditugaskan Akang untuk melihat keadaan Kampung Cikadu
yang sedang diteror oleh pocong jadi-jadian, karena sudah sangat meresahkan warga," jawab Kang Agus, menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Jadi kang agus menipuku?" ketus Kang Andi yang tidak suka.
"Nggak, Di, cuma bohong aja. Lagian aku berbohong bukan tidak beralasan. aku tahu kamu orangnya pemberani, tidak takut dengan yang gitu-gituan, makanya aku ngajak kamu, buat membantu. Sekali lagi maaf ya, hehehe" ujar Kang Agus, sambil menggaruk-garuk kepala yang tertutup peci.
"Tau, ah. sebenarnya apa yang terjadi, coba ceritakan dari awal, biar aku faham"
Kang Agus hanya melihatku, memberi kode agar aku menceritakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Jadi gini Kang," aku pun menceritakan dari awal kejadian, dari awal Kang Arif bercerita tentang keadaan yang menimpa warga Kampungnya, yang bernama kampung Cikadu. sampai Akang yang dimintai tolong, untuk mengusir pocong itu, aku ceritakan tak ada yang terlewat. sampai terjadi kejadian seperti barusan, berlari karena ketakutan setelah melihat pocong di kuburan.
Kang Andi yang mendengarkan manggut-manggut, seolah dia paham apa yang aku sampaikan.