JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 37 PANGERAN


__ADS_3

Pov fatimah


Hari ini entah ada angin apa, tiba-tiba dalari minta bantuanku. rasanya sangat bahagia yang tidak dapat dilukiskan, bisa bercengkrama lagi dengannya, walaupun hanya sebentar.


"Kenapa kamu, kok. senyum senyum seperti itu?" sapa ismi ketika melihatku memasuki kelas.


"Nggak apa-apa! pengen tahu aja!" ujarku sambil mencubit gemas hidung isni.


"Cerita dong, kalau punya kebahagiaan itu, biar kami juga ikut merasakan!" pinta isni sambil mengucek-ngucek hidungnya, yang bekas Aku cubit.


"Tahu, nggak? barusan. aku ngobrol sama dalari!" jelasku penuh bunga-bunga menghiasi bibirku.


"Halah! Kirain kenapa? baru ketemu tukang bersih-bersih saja. Sudah kayak bertemu pangeran dari Andalusia.  sampai segitu bahagianya" cibir Isni yang merasa kesal, setelah mendengar penjelasan ku.


"Biarin, suka-suka dong!" jawabku masih tersenyum, kemudian duduk di sampingnya.


Tak lama setelah duduk, bel pun berbunyi ,menandakan pelajaran yang ketiga, akan segera di mulai. aku pun bersiap-siap menerima pelajaran selanjutnya, tidak jadi memakan jajanan yang baru saja aku beli.


Sebelum pelajaran keempat berakhir. Arfan ditemani salah seorang anggota OSIS, meminta izin kepada guru pengajar. untuk menyampaikan berita, bagi seluruh anggota OSIS. diwajibkan menghadiri evaluasi kinerja anggotanya, setelah penerimaan siswa baru.


"Huh, Ada-ada aja! ganggu kesenangan orang." gerutuku dalam hati, merasa kesal. karena aku bisa  telat bertemu dengan Dalari.


Setelah selesai Arfan menyampaikan pemberitahuannya. aku dan ketiga sahabatku  berjalan menuju masjid.untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.


"Kamu nyari apa, sih? kok celangak celinguk gitum" tanya isni menatap heran ke arahku.


"Anak kecil dilarang tahu! Urusan orang dewasa." jawabku sambil terus memperhatikan satu persatu siswa, berharap salah satu dari mereka ada yang bernama dalari.


Setelah selesai melaksanakan 4 rakaat, dengan berjamaah. Aku pun melakukan yang sama, seperti sebelum melaksanakan salat, mencari dalari untuk memberi tahu. bahwa aku akan telat menemuinya, namun anak itu tidak terlihat sama sekali, dengan terpaksa aku pun kembali ke sekolah, untuk melakukan evaluasi kinerja osis, selama penerimaan siswa baru.

__ADS_1


Di sela-sela diskusi Arfan sebagai ketua osis, dia menyampaikan bahwa kejadian yang terjadi sama Nasrul, itu bukan kesalahan mereka. tapi itu ketidak hati-hatian nasrul sendiri. karena menurutnya kenapa serpihan kaca itu diinjak, alasan yang tidak masuk akal.


"Harusnya sebagai kakak kelas, kalian itu. melindungi adik-adiknya, bukan mencelakakan. coba sebelum melakukan kegiatan malam itu, kalian menyuruh mereka memakai sepatu terlebih dahulu. pasti kejadiannya tidak akan seperti sekarang" ujar ku memberikan pendapat, rasanya begitu kesal, karena kecerobohan mereka. sampai-sampai saudara sepupuku harus masuk ke puskesmas." Aku mengungkapkan keberatan.


'Kamu tidak bisa menyalahkan kami, karena kami hanya menjalankan tugas. kalau mau menyalahkan! silahkan salahkan saja Pak Anang. karena beliaulah, yang membuat agendanya." ucap Arfan mencuci tangan, melimpahkan segala kesalahan sama orang lain.


"Harusnya kalian itu, meminta maaf sama Nasrul, bukan mencari pembenaran atas kesalahan yang kalian lakukan. Kalau kalian punya pikiran, terus bisa berpikir. Maka kalian akan tahu,bahwa kegiatan itu sangat beresiko. dan ketika beresiko harusnya kalian bisa mendiskusikannya terlebih dahulu, jangan seperti kerbau yang manut saja." Aku berkata dengan penuh penekanan. emosi saja sama orang-orang yang hanya menggunakan otot, tapi akalnya tidak digunakan.


"Sudahlah! jangan dibahas lagi. itu kan sudah terjadi, lagian sekarang nasrul tidak apa-apa!" Rohman Membela temannya yang sudah terpojok.


Ketika aku mau menimpalinya lagi. dengan cepat Fitri yang duduk di sampingku, memegang  Bahuku dengan erat, sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. agar aku tidak melanjutkan perdebatan dengan mereka. karena mungkin walau bagaimanapun, mereka adalah senior. tidak akan menerima saran dari para juniornya. benar memang peribahasa itu, senior tidak pernah salah, kalau senior salah lihat pasal 1.


"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kami akan tutup diskusi evaluasi ini, semoga tahun depan kalian bisa lebih baik lagi, daripada kami sekarang. karena aku yakin tahun depan kalianlah! yang akan menjadi pemimpinnya yang menjadi ketua OSIS, dan anggota-anggotanya." Arfan menutup acara diskusi itu, dengan mengucapkan salam.


Acara diskusi itu dilanjutkan dengan acara terakhir, yaitu dengan doa bersama. setelah berdoa. aku pun bergegas untuk segera pergi, meninggalkan teman-teman osisku, yang  masih mengobrol. membahas pembahasan yang baru saja dibahas.


"Mau kemana buru-buru amat" tanya fitri sambil berteriak, setelah melihatku yang berjalan dengan cepat.


"Ayo aku antar pulang!" tawar Arfan yang mengendarai motor.


"Nggak usah, trimakasih! aku ada urusan penting, duluan yah!" Tolakku sambil terus mempercepat langkahku.


"Yah, kalau buru-buru! Ayo aku antar!" Paksa Arfan, namun aku tidak menghiraukan nya, aku terus berjalan dengan semakin cepat, agar cepat sampai menuju pertigaan, di mana aku sudah berjanji, akan menemui dalari di sana.


"Semoga saja aku tidak telat." doaku dalam hati sambil terus berjalan, tanpa memperdulikan Arfan yang mengekor di belakangku.


"Fatimah ayo ku antar!" Paksa Arfan terus menerus dengan menaikkan intonasi suaranya. mungkin merasa kesal karena aku tidak memperdulikannya, akuh hanya terus terfokus menatap ke arah pertigaan.


Perasaanku sangat kecewa,  setelah melihat dalari, tidak ada disitu. aku kecewa, karena aku tidak bisa menepati janji. padahal momen seperti ini adalah momen yang selalu aku impikan. Dengan lemas aku pun mulai memperlambat langkahku, setelah yakin dah lari tidak menungguku di sana.

__ADS_1


"Ayo aku antar, kamu keras kepala banget!" bentak Arfan, sambil memegangi tanganku dengan erat.


dengan kuat. aku kibaskan tangan itu, agar terlepas dari genggamannya. namun dia kembali memegangi tangan itu, memaksaku agar aku naik ke motornya. tanganku terasa sedikit sakit, karena genggaman tangan Arfan sekarang lebih kuat dari sebelumnya.


"Kamu tuh, Harusnya diam dan bersyukur. Karena aku mau mengantar, malah sok jual mahal, kayak cantik aja." Ujar Arfan dengan mata merah menatapku.


"Kalo berani jangan sama cewek, bos. sini ada lawan yang sepadan!" teriak seseorang dari arah pohon beringin, yang rimbun. ternyata dalari belum pulang, dia masih menungguku. walaupun bukan di pertigaan, tapi dari pohon beringin itu bisa melihat jelas ke arah pertigaan.


Dalari dengan gagah, menghampiriku. diikuti oleh kedua temannya yang mengikuti dari belakang, seperti raja yang sedang dikawal oleh para punggawanya.


"Hahahahaha. ternyata cemen. Beraninya sama cewek!" ejek nawir sambil memicingkan mata ke arah Arfan.


"Coba lihat! Siapa tahu saja dia pakai bh!" tambah heru, sama seperti Nawir Dia memutuskan pandangannya, menatap ke arah Arfan.


Ejekan mereka, membuat arfan sedikit lengah, sehingga dengan mudah aku melepaskan tanganku, dari genggamannya.


"Hahahahah. b4nci!" Cibir dalari.


Dibilang seperti itu, arfan turun dari motornya. lalu menghampiri dalari, tanpa ada perkataan terlebih dahulu, dengan cepat dia melayangkan satu pukulan, ke arah muka dalari. Namun Dalari hanya menggeserkan tubuhnya, ke arah samping, sehingga pukulan itu hanya melewati wajahnya.


Pukulan yang terlepas dengan kekuatan penuh itu,  diambil oleh dalari, lalu ditariknya ke arah belakang, sehingga tubuh Arfan yang sudah kehilangan kontrol. dengan mudah terbawa mengikuti arah tarikannya. dengan sigap dalari menyiapkan dengkulnya, yang diangkat agak tinggi, sehingga ketika Arfan mau terjatuh, dadanya menabrak dengkul dalari dengan keras.


Agrhhh.


suara arfan tertahan, setelah dengkul itu bersarang tepat di dada, membuat tubuhnya ambruk ke tanah.


Dengan cepat Heru pun, hendak menyusul dengan serangan selanjutnya. namun, dalari dengan sigap menghentikannya, apalagi melihat Arfan yang begitu kesakitan. Mungkin dia mempunyai jiwa Ksatria, membiarkan lawannya berdiri terlebih dahulu.


"Kita jangan berantem seperti b4nci, biarkan saja dia seperti itu, nanti kalau masih belum kapok, baru kita hajar lagi!"  Ungkap dalari membuatku semakin kagum. dia benar-benar seperti pangeran, yang sedang mengampuni budaknya.

__ADS_1


"Bangun fan, ayo kita duel secara jantan! Jangan sama cewek kalau mau duel." Tantang dalari dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada, seolah meremehkan kemampuan Arfan.


Ditantang seperti itu, Arfan pun bangkit, sambil memegangi dadanya, terlihat napasnya yang sedikit tersendat, mungkin luka yang ditimbulkan dari dengkul dalari sangat keras mengenainya.


__ADS_2