JALAN SANTRIKU

JALAN SANTRIKU
part 30 SULTAN BARU DARI CIKADU


__ADS_3

Pov dalari


Sehabis salat subuh. Kami bertiga berpamitan, untuk kembali ke pondok. aku dan Kang Andi pulang duluan, karena ada pekerjaan yang harus kita kerjakan. aku yang bekerja di sekolah, Kang Andi nguli diladang orang. sedangkan Kang Agus, tidak langsung pulang, dia mampir terlebih dahulu ke rumah Kang Arif. untuk mengecek keadaannya terlebih dahulu, setelah semalam sempat pingsan.


Di pertigaan jalan. Kami bertiga berpisah, aku dan Kang Andi, menyusuri jalan kecil, yang tadi malam kami lewati untuk menuju Kampung Cikadu. sedangkan Kang Agus terus berjalan menyusuri jalan besar, yang nantinya sampai ke rumah Kang Arif.


Di perjalanan pulang. Kang Andi mengajakku untuk berlari, katanya untuk melatih fisik kita supaya tidak mudah lelah. berlari melewati bukit yang ada kuburannya, namun kali ini tidak ada gangguan seperti tadi malam, mungkin karena waktu udah mulai terang, atau mungkin para lelembut itu sedang beristirahat setelah semalaman begadang.


Pukul 05.30. akhirnya kita sampai di pertigaan jalan menuju Pondok dan sekolah. kita berdua pun memutuskan berpisah, aku berbelok kearah sekolah, sedangkan Kang Andi berbelok kejalan pulang ke rumahnya, yang berada didekat pondok.


Sesampainya di sekolah, seperti biasa aku membuka gudang dengan kunci yang selalu kubawa, lalu mengambil peralatan untuk bertempur mengais rezeki.


Pukul 06.00. akhirnya pekerjaanku selesai, mengingat musim kemarau, sehingga sekolah tidak terlalu kotor. hanya ada debu-debu yang menempel di terasnya.


Selesai merapikan alat-alat tempurku. Aku bergegas berjalan menuju Pondok pesantren.


"Dalari dari mana, kok subuh nggak ikut ngaji?" tanya seseorang, yang tidak bisa kupandangi wajahnya.


Beliau bertanya seperti itu, karena mungkin aku salah satu murid yang paling rajin. Jadi ketika tidak mengikuti pengajian, maka Pak Kyai akan merasa kehilangan.


Dengan cepat, aku mencium punggung tangan pria yang menyapaku itu.


"Ikut Kang Agus, Kang!" jawabku yang sedikit terbata-bata, Entah mengapa walaupun aku tidak menatapnya, tapi jantungku berdegup kencang, wajahku mulai merah merona.


"Ikut, ke kampungnya Arif?" tanya Akang Oman,  beliau adalah Guruku di pondok. Entah mengapa pagi ini. aku bisa bertemu dengannya, padahal aku datang ke pondok dengan mengendap-ngendap.


Hanya anggukan kepala, tanpa berani menoleh ke arahnya, sebagai jawaban.


"Kamu fokus aja ngaji, biarkan itu menjadi urusan para santri senior, Oh ya sekarang Agusnya di mana" Kang Oman bertanya lagi, sambil menatap ke arahku.


"Masih di rumah Kang Arif Kang!" jawabku singkat.


"Ya sudah kamu mandi dulu, sana! bukannya mau sekolah? nanti kalau Agus sudah datang, suruh cepat dia menghadap ke rumah!" amanatnya, mempersilahkanku untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Dengan cepat, aku pun mengangguk, sebelum pergi. Tak lupa aku mencium punggung tangannya kembali.


Dengan menundukkan kepala, aku berjalan meninggalkan tempat itu, rasanya waktu berhenti seketika, Entah mengapa itu bisa terjadi, setiap bertemu dengan pak kiyai, pasti selalu salah tingkah, tidak tahu apa yang harus diperbuat.


Sesampainya di dalam pondok, aku baru berani mengangkatkan pandangan, dibarengi dengan tarikan napas dalam, menenangkan jantung yang berdetak tak beraturan.


Setelah merasa tenang. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar,  mengambil peralatan mandi, untuk membersihkan badan dari keringat, sehabis bekerja di sekolah.

__ADS_1


Sebelum berangkat sekolah, tak lupa aku menitipkan Pesan, yang disampaikan oleh Kang Oman Kepada santri yang ada di situ, mengingat aku harus bersekolah, dan alhamdulillah mereka menyanggupinya.


Kulangkahkan kaki keluar dari pintu pondok, melewati jalan terobosan menuju sekolah. karena kalau memakai jalan gang utama, itu akan melewati rumah Kang Oman.


Kuberjalan disinari oleh matahari yang terbit dari upuk timur, menghangatkan jiwa-jiwa yang kesepian. kulangkahkan kakiku dengan gagah, menuju sekolah. tak lupa sebelumnya mampir terlebih dahulu ke rumah Pak Chandra, untuk mengisi perut.


Hari pertama masuk sekolah, setelah masa orientasi siswa. hanya diisi dengan memilih tempat duduk, biasanya di hari kedua baru memulai pelajaran seperti biasa.


Seperti hari ini, yang terasa sangat sepi. aku memilih tempat duduk sendirian, karena ketiga sahabatku yang tidak masuk  sekolah, mereka masih berada di Puskesmas, kemungkinan nanti siang, atau sore, baru pulang ke rumahnya.


Pukul 10.00. para siswa pun diperkenankan untuk pulang, mengingat hari ini tidak ada pelajaran. Jadi mungkin buat apa mereka berlama-lama di sekolah.


Dengan cepat Aku menuju ruang guru, untuk mengambil kunci kunci Ruang kelas. Segera menyelesaikan tugasku secepat mungkin, supaya aku bisa cepat pulang ke pondok, seperti para siswa lainnya. Apalagi kalau mengingat waktu tidur tadi malam, yang sangat kurang. rasanya pengen cepat membaringkan tubuhku.


Namun ketika hendak pulang, meninggalkan sekolah. aku melihat ada sekumpulan para siswi, yang masih belum pulang. mereka masih duduk di Bangku teras sekolah, sambil ngobrol.


"Dalari, sini!" teriak salah satu dari mereka, memanggilku.


Rasa kantuk yang menyelimuti, membuatku enggan untuk menghampiri mereka.


"Sini dulu! Sombong bener , jadi orang." ujar teman yang satunya lagi.


Mendengar kata sombong, dengan malas kulangkahkan kakiku, mendekati kerumunan Empat Sekawan itu.


"Aku mau pulang, kan. sudah tidak ada urusan lagi di sekolah." jawabku tanpa menatap ke arah mereka.


"Duduk dulu! ada yang kangen nih!" ledek Isni, diikuti gelak tawa teman-temannya, membuat salah satu dari mereka,  wajahnya ada yang memerah seperti tomat.


"Ada apa?" Tanyaku singkat.


"Makanya, Duduk dulu! tenang kami tidak gigit kok!" Godaan demi godaan terus terlontar dari bibir mereka.


"Jangan duduk disitu, di sini aja! dekat Kekasihmu." tawar Ratna sambil bangkit dari tempat duduknya, namun dengan cepat Fatimah menghentikannya.


"kalian apa-apaan, sih!" Ketus Fatimah dengan menekuk wajah, tidak suka dengan ledekan sahabat-sahabatnya.


"Maaf ada apa, ya? aku masih ada urusan di pondok." Aku mengulangi pertatanyaan dengan sedikit pengarang cerita.


"Kamu tuh, susah diatur banget, sih!" Ketus Ismi.


"Mau cemilan nggak, kita punya banyak, nih!" tawar Ratna sambil membuka kantong besar, yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Wah, kayaknya ada yang ulang tahun?" balasku setelah melihat kantong plastik berukuran besar itu, terisi penuh dengan jajanan.


"Nggak ada, namun sahabat kita ini, baru saja ditembak oleh Bos, yang punya kawasan Cikadu." jawab Ratna meluruskan.


"Siapa?" tanyaku penasaran.


"Nih, si Fitri. makanya dari tadi dia diam terus, Mungkin dia syok, akan dilamar oleh Sultan Cikadu itu"  jawab Ratna sambil mengerlingkan mata ke arah Fitri, sehingga membuatnya mendengus kesal.


"Ya sudah, kalau mau kamu ambil, yang banyak! lagian aku nggak suka sama si Dadun itu. orangnya dekil, badannya bau, giginya kuning." Ujar Fitri menunjukkan penolakan.


Aku pun mendekati kantong plastik itu, lalu mengambil beberapa snack yang ada di dalamnya.


"Terima kasih, ya!" ujarku sambil membalikkan badan, hendak meninggalkan tempat itu. Namun, dengan cepat Fatimah menghentikan langkahku, memasukkan beberapa snack lagi, ketas yang aku gendong.


"Cie, cie, cie." ledek ketiga sahabat Fatimah, namun dia cuek, tetap memasukkan cemilan ke Tasku, lalu menutupnya kembali.


"Sekali lagi, terima kasih, ya! saya pamit duluan, Assalamualaikum." Ujarku yang tak mau berlama-lama.


Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku  segera pergi meninggalkan sekolah menuju pondok.


Sesampainya di pondok, aku segera menuju kamar, agar bisa membaringkan tubuhku, yang sudah terasa letih.


"Tumben, sudah pulang?" tanya Kang Arif, setelah melihatku menutup pintu kamar.


Dan pertanyaannya membuatku merasa heran, kenapa dia sudah ada di pondok, Bukannya tadi malam dia sakit.


"Pelajarannya belum dimulai, Kang. mungkin baru besok. Oh iya kok sudah ke pondok lagi. emang udah sembuh?" tanyaku sambil menatap heran ke arahnya.


"Enak aja, emang Siapa yang sakit?" jawabnya dengan Ketus, membuatku mengulum senyum, karena jelas-jelas Tadi malam dia sampai pingsan.


"Mau cemilan nggak Kang?" towarku tak memperpanjang keadaan. sambil mengeluarkan beberapa snack yang ada di kantong celana, untuk dibagi dengan Kang Arif. karena ketika kita punya rezeki, walaupun sedikit kita harus membaginya.


"Tumben, jajan?" tanyanya meledek, karena dia tahu, aku jarang jajan, apalagi membeli snack seperti ini.


"Tadi ada yang ngasih Kang, katanya Sultan dari Cikadu, dari kampung Akang. Dia menembak salah seorang cewek di sekolah, dengan memberikan hadiah sekantong besar belanjaan. namun perempuan yang ditembaknya, nggak mau menerima. Sehinga barang pemberiannya dibagi bagi. Bahkan bukan ini saja, Di tasku masih ada." jelasku panjang kali lebar.


"Perasaan di kampungku, nggak ada sultan, yang bersekolah di situ." Ucap Kang Arif, sambil mengerinyitkan dahi.


"Kurang tahu juga Kang, lagian aku bukan orang situ." ujarku, sambil mengeluarkan beberapa snack yang ada di dalam tas, jumlahnya lumayan banyak, sehingga kalau ditotal itu bisa mencapai Rp.5000 sampai Rp.7000an.


"Wah, ini banyak banget, siapa nama sultan baru, yang ada di kampungku itu?" tanya Kang Arif sambil menatapku, setelah melihat Berapa banyak snack yang aku Keluarkan.

__ADS_1


"Dadun, katanya kang!" jawabku.


Mendengar nama itu disebut, Kang Arif membulatkan mata dengan sempurna, entah kenapa Iya sampai seperti itu.


__ADS_2