
Pov dalari
Semakin dekat, Semakin jelas. apa sebenarnya yang mengikuti Kang Agus, karena aku menunggunya, di bawah lampu penerangan yang terpancar dari rumah warga, sehingga bisa melihat jelas keadan disekekeling.
"Mau nonton di mana, nih. perasaan nggak ada kabar, tentang Layar Tancap, " tiba tiba makhluk berkuncung bertanya, dengan semangat.
"Kang Andi!" Teriak kita serempak, setelah melihat bayangan hitam itu. Adalaj Kang Andi, yang memakai sarung di kepalanya, dengan peci yang berbentuk kerucut, sehingga ketika ditutup dengan sarung, maka akan terlihat seperti makhluk berkuncung. Apalagi yang terlihat cuma siluetnya aja. Seperti sekarang.
"Iya, kenapa kalian kok menatapnya seperti itu, kayak melihat hantu aja, jawab dong, kita mau nonton layar tancap di mana" cerocos Kang Andi, tanpa memperdulikan kita yang masih ketakutan, dengan santai dia menurunkan sarung yang ada di kepala, lalu diselempangkan di bahunya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, kita berdua menatap kearah Kang Agus, meminta jawaban, karena tidak tahu Sandiwara apa yang sedang dia mainkan.
"Udah, ikut aja! jangan banyak tanya, nanti filmnya keburu dimulai" jawab Kang Agus, yang mengedipkan mata, kearah kita berdua. seolah memberi tanda, mengajak kita untuk ikut dalam permainannya, kemudian memberikan kantong kecil yang berisi jajanan. menurutnya ini bagian kita, sedangkan bagiannya dipake membeli rok0k.
"Yang benar, nonton layar tancep di mana, soalnya Aku malu, kalau mau nonton pakaiannya seperti ini," seloroh Kang Andi, menatap kearah kang agus yang tak memperdulikannya.
"Udah, kamu jangan khawatir, kamu itu udah ganteng. Lagian ini kan malam, jadi nggak akan ketahuan kalau kita memakai baju jelek." Jelas kang Agus, sambil memberikan bungkusan rok0k, yang diambil dari kantung celananya.
"Buat apa?" tanya Kang Andi, merasa heran.
"Biar kamu nggak banyak tanya, kalau mulutmu di sumpel bako" Celoteh kang Agus, menjelaskan.
Benar apa yang dikatakan oleh Kang Agus, kang Andi berhenti mengomel untuk bertanya. sekarang dia terlihat kalem, berjalan mengikuti Kami bertiga, sambil menikmati rok0knyang ada di tangannya.
"Kenapa ngajak Kang Andi?" tanya Kang Arif dengan pelan, yang berjalan di samping Kang Agus.
"Nggak apa-apa, dia kan santri Kalong. jadi tidak akan ditanyakan, ketika dia tidak ikut ngaji subuh. Dan kita butuh tenaganya yang kuat, untuk mebantu kita." Jelas kang agus, memberi alasan kenapa dia mengajaknya. Memang benar, kang andi adalah sosok pekerja berat, sehingga tenaganya sangat kuat, terlihat dari lenganya yang besar.
"sebenarnya ada apa, sih. kok, kalian nampaknya serius" tanya kang Andi, yang berjalan paling depan. Sambil membalikan tubuhnya, Menatap kembali kearah kita yang sedang membicarakanya.
"Udah, ikut aja. Acaranya Pasti seru" Jelas kang Agus, yang tak menghiraukan pertanyaan dari Kang Andi, dia terus berjalan menyusuri gang sampai keluar kenjalan besar, setelah beberapa saat, kami menyusuri jalan besar. Kang Agus menghentikan langkahnya.
"Lewat jalan terobosan aja, ya. biar dekat" saran kang agus, sambil menatap Kang Arif.
"Gak ah, takut Kang. lagian jalan terobosan ini melewati pemakaman umum" jawab kang Arif, sambil bergidik. menolak saran kang agus untuk melewati jalan terobosan itu.
__ADS_1
"Tapi, kalau lewat jalan besar, bukannya lebih jauh"
"Walau jauh, Tapi itu lebih aman" Kang Arif, tidak mau kalah.
"Emang kalau lewat kuburan, takut kenapa" tanya Kang Agus, memastikan dengan nada suara kesal, sambil memidai kang arif.
"Iya takutlah Kang, gimana coba, kalau tiba-tiba dari atas kuburan itu keluar poci, sambil mengucapkan selamat malam duhai kekasih," Kang Arif, menjelaskan alasannya.
"Heh, Arif. mana mungkin orang yang udah meninggal, bangkit lagi. kalau orang itu mendapat kenikmatan kubur, pasti mereka akan menikmatinya, dan tidak kepikiran untuk kembali ke atas. terus kalau mereka mendapat siksa kubur, Mana Mungkin mereka bisa lari dari siksaannya, kamu ini ada-ada aja" bentak kang Agus, dengan suara yang sedikit ditekan, dia menggelengkan kepala, tidak habis pikir, melihat ketakutan Kang Arif.
"sebenarnya ada apa," tanya Kang Andi, yang masih penasaran. soalnya dari tadi belum mendapat penjelasan.
"Syutttt" Kang Agus dan Kang Arif menempelkan telunjuk di bibirnya, agar Kang Andi Diam jangan banyak bertanya.
"Gelap, Kang" Kang Arif, mengeluarkan jurus lainnya, agar tidak melewati Jalan terobosan itu.
Dengan menarik nafas panjang, Kang Agus mengeluarkan korek dari saku kokonya. terus dia memencet tombol korek, sehingga mengeluarkan cahaya. tidak terang namun cukup untuk melihat jalan yang akan kita lalui, "Ayo mau alasan apalagi" tanya Kang Agus sambil memainkan On Off senter koreknya, Didepan muka kang arif.
"Tetep Kang, aku ngeri" tolak Kang Arif yang tidak mau melewati jalan terobosan.
Tampa menunggu jawaban, dengan cepat Kang Agus melangkahkan kaki, masuk ke jalan Setapak yang akan dijadikan Jalan terobosan.
Dalari, Ayo. Jalan paling depan!" seru Kang Agus, yang membawa senter agar bisa menerangi jalanku.
"Andi, kamu juga di depan, Biarkan aja si Arif, pulang sendirian" suruh Kang Agus lagi, sambil melirik ke arah Kang Andi.
"Nggak, aku di belakang aja. Lagian aku juga punya korek yang ada senternya." Tolak Kang Andi, sambil menyalakan senter yang ada di koreknya.
Melihat Kami bertiga sudah mulai masuk ke dalam, Kang Arif pun berlari mengikuti, lalu menyalip Kang Andi yang berjalan paling belakang. dia takut kalau harus pulang sendirian, meski lewat jalan besar, dan takut juga kalau berjalan di paling ujung.
Jalan setapak kecil ini, sehingga membuat kami, harus berjalan dengan beriringan. aku berjalan yang paling depan diikuti oleh Kang Agus, Kang Arif, dan yang paling belakang Kang Andi. kami menyusuri jalan yang sesekali digunakan oleh para warga untuk ke kebun, atau menjadi jalan pintas ke kampung Kang Arif. kedua sisi jalan setapak ini ditumbuhi semak-semak rumput yang berjubel, terlihat di kejauhan pohon pohon yang menjulang tinggi, yang hanya terlihat seperti bayangan.
Tak ada obrolan di antara kami, untuk menemani perjalanan. hanya suara telapak kaki, dan deru nafas yang terdengar memburu. kami semua terfokus dengan jalan yang akan dipijak, lubang-lubang bekas genangan air hujan, dan rerumputan yang menutupi sebagian bahu jalan. Membuat kami harus berjalan dengan hati-hati, karena ketika kaki kita salah pijak, bisa-bisa keseleo atau keseribet rerumputan.
Jalan terobosan ini membelah bukit kecil, makanya jarak tempuhnya lebih dekat, daripada harus melewati jalan besar. Yang jalannya mengelilingi bukit ini.
__ADS_1
setelah berada di puncak bukit. kita berempat berhenti sebetar, sambil menarik nafas, setelah melewati tanjakan.
"Beda, ya. kalau nafas tembakau, naik Bukit segini aja, dada terasa sesak" keluh Kang Agus, sambil melempar puntung yang ada di tangannya.
"Hati-hati, buang puntung! apalagi ini musim kemarau" bentak Kang Andi, sambil mengambil kembali puntung yang dibuang Kang Agus. lalu menginjaknya sampai apinya benar-benar mati.
"Maaf, Lupa" jawab kang Agus, sambil membungkukan badan lalu menaruh kedua tangannya di atas kepala. Menirukan ponggawa kerajaan ketika menghadapi pimpinannya.
"Sebenarnya kita mau ke mana, sih. dari tadi kok nggak jawab jawab" Kang Andi yang tetep Kekeh pengen tahu tujuan kita.
"Nonton Layar Tancap, ayo kita berangkat lagi. sekarang jalannya enak tinggal turun" Kang Agus yang sudah merasa pernapasannya enak kembali, mengajak Kami bertiga untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya Kami berempat mulai menuruni bukit, namun tiba-tiba langkah kami terhenti, ketika mendengar suara tawa yang terdengar sangat keras.
"Kang Agus, mendengar suara tawa itu nggak?" tanya kang Arif sambil berbisik
" iya dengar, tapi dari mana ya datangnya" jawab Kang Agus. sambil celingukkan mencari dari mana suara itu berasal.
"Dari Lembah, kang. sudah dibilang ini tempatnya angker, Soalnya dibawah itu kuburan" jawab Kang Arif, sambil menunjuk ke arah lembah.
Suara ketawa itu kembali terdengar, dengan jelas. sehingga kami semua bisa menangkap dari mana arah datangnya suara itu.
"Ya, bener, dari bawah" gumam kang Agus sambil mendorong ku, agar berjalan kembali.
Semakin dekat ke kuburan, semakin terdengar jelas, suara tawa itu. bahkan terdengar pula suara orang yang seperti lagi mengobrol.
"Apa, ada yang meninggal, kok sepertinya ada orang yang mengobrol," tanya Kang Agus merasa aneh.
"Nggak pernah Kang, di sini gak pernah ngubur orang yang meninggal malam-malam, seperti ini. soalnya penerangan yang belum bisa masuk ke area pemakaman." Kang Arif menjelaskan kebiasaan warga sekitar.
"Terus itu siapa yang lagi ngobrol"
"Nggak tahu, kang. beneran di sini, gak pernah ada orang yang meninggal terus dikubur malam. biasanya mereka menunggu kesokan paginaa. Ini pasti lelembut penunggu kuburan kang," jelas kang Arif, suaranya terdengar agak bergetar
"Bisa jadi, mungkin mereka merasa bosan, harus berbaring terus, makanya mereka berkumpul untuk melemaskan otot yang kaku. Atau mungkin mereka lagi main gaple, sambil ngopi-ngopi candid" celetuk Kang Andi tanpa dosa, membuat Kami bertiga merasa kesal, karena. di waktu segenting ini dia masih sempat untuk bercanda.
__ADS_1